My Blog

Apa itu Tafsir Ilmiah Alquran?

Pengantar

Apa itu tafsir ilmiah alquran? Mengapa harus ada tafsir ilmiah alquran? Bagaimana tafsir ilmiah alquran dilakukan? Apa hubungan tafsir ilmiah alquran dengan quranisme? Semua itu adalah pertanyaan yang akan dijawab oleh artikel ini, silahkan membaca

Sumber feature image

Basmallah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya

Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Pendahuluan Tafsir Ilmiah Alquran (TIA)?

Tafsir ilmiah alquran (selanjutnya akan disingkat TIA) adalah metode untuk memahami/ menafsirkan Alquran dengan menggunakan metode ilmiah.

Kenapa metode ilmiah?
Karena metode ilmiah yang intisarinya adalah pemikiran yang logis dan konsisten sudah terbukti sukses untuk menyibak rahasia alam serta menghasilkan hal-hal bermanfaat untuk umat manusia.
Dengan asumsi bahwa Tuhan pencipta alam semesta dan alquran adalah Tuhan yang sama, maka seharusnya, metode untuk memahami alam semesta, dapat diterapkan untuk menjadi metode dalam memahami Alquran

Asal muasal tafsir ilmiah alquran

Bagaimana Tafsir Ilmiah Alquran dilakukan?

Secara sederhana, TIA adalah metode penafsiran yang utamanya didasarkan HANYA berdasarkan ayat-ayat alquran. Di sini penafsiran alquran dilakukan dengan tidak mengambil sumber lain seperti hadits, asbabun nuzul, israiliyat dsb.

Sumber-sumber tersebut dikembalikan ke posisi sebenarnya, dari yang sebagai sumber untuk menjelaskan alquran, seperti yang dipahami saat ini, menjadi hanya sebagai sumber pendamping sekunder, yang bebas dipakai atau tidak. Semuanya terserah kepada masing-masing pribadi penafsir atau para pengkaji alquran itu sendiri.
Sumber dasar untuk tafsir ilmiah alquran hanya berdasarkan pada dua hal, ayat-ayat alquran dan konsistensi logika manusia.

Kalau anda bertanya mengapa logika manusia sangat ditinggikan di sini?
Jawabannya adalah karena ini penafsiran alquran secara ilmiah, yang dibangun dari landasan metode ilmiah, yang menggunakan logika manusia yang logis dan konsisten sebagai tulang punggung utamanya.

Sebagai pembantu untuk memahami interaksi dari isi alquran, TIA juga didasarkan pada sejumlah aturan dasar (selanjutnya disebut hukum) yang harus selalu diterapkan dalam kegiatan menafsirkan alquran.

Metode ilmiah (scientific method) dikembangkan oleh ibnu haytham, ilmuwan yang hidup sekitar abad 10-11, juga dikenal sebagai al hazen
https://en.unesco.org/courier/news-views-online/ibn-al-haytham-s-scientific-method

chzaib / Pixabay

Bantahan terhadap metode TIA dan jawabannya

Bisakah logika manusia menafsirkan ayat-ayat alquran? Apakah hal itu tidak akan menimbulkan kesesatan? Ini bantahan dan penolakan yang pasti akan muncul dari mereka yang terkurung dalam dogma masa kini.
Jawabannya, ini memang pemahaman yang jauh berbeda dengan pemahaman konvensional.

Dasarnya adalah dari akal sehat dan keberhasilan metode ilmiah.
Karena kita berpandangan bahwa Tuhan pembuat alquran adalah sama dengan Tuhan pencipta alam semesta, maka metode terbaik untuk memahami alam semesta seharusnya juga dapat menjadi metode terbaik untuk memahami alquran.

Harus diakui juga, tidak semua fenomena alam selalu dapat dijelaskan dengan logika dan hukum alam, tapi jumlah ini bisa dikatakan sangat minimal.
Menegasikan keberhasilan berpikir secara ilmiah yang logis dan konsisten dalam membawa kemajuan peradaban merupakan sikap delusional.

Alquran juga sangat sering memuji manusia yang berpikir, dan sebaliknya mengecam manusia yang tidak mau menggunakan akalnya.
Adakah alternatif selain bahwa hal ini memiliki keterkaitan erat dengan kegiatan berpikir secara logis, obyektif dan konsisten?

Bagi yang mau membantah, tolong jangan buang waktu dengan memberikan alasan “pokoknya harus begini dan begitu”.
Anda tidak sedang meninggikan diri anda, tapi justru merendahkannya, dengan memamerkan kebodohan dan kekeras-kepalaan yang akut.

Contoh metode TIA

Sebagai contoh adalah makna kata “auliyaa” di surat 5:51.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu)…

QS 5:51

Kata auliyaa di ayat itu, oleh para penjual agama, maknanya diartikan sebagai pemimpin dengan maksud untuk melarang non muslim menjadi pemimpin demokratis bagi umat islam.
Padahal di sisi lain ada ayat alquran 10:62, dimana kata auliyaa digunakan untuk merujuk kepada auliyaa Allah SWT.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali (auliyaa) Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

QS 10:62

Dapat dilihat bagaimana pemahaman kata wali yang bermakna sebagai pemimpin akan menimbulkan kerancuan pada makna ayat 10:62.
Dari sini, bisa ditarik kesimpulan bahwa pemahaman makna kata auliyaa sebagai pemimpin adalah pemahaman yang salah secara mutlak, tidak bisa dibenarkan sama sekali.

Di sini, penafsiran setiap manusia akan disaring oleh ayat-ayat alquran itu sendiri dan logika manusia.
Penafsiran yang salah akan menimbulkan kerancuan makna dan pemahaman, menciptakan inkonsistensi logika yang akan terlihat jelas.
Penafsiran yang (insya Allah) benar akan konsisten secara logika di keseluruhan alquran.

Kekonsistenan dengan logika manusia di keseluruhan alquran ini adalah dasar utama TIA.
Kekonsistenan logika dan makna ini harus berlaku mutlak 100 persen di keseluruhan isi alquran, tidak boleh ada sekalipun terjadi inkonsistensi.
Tidak ada TIA tanpa konsistensi mutlak dengan keseluruhan isi alquran

Hukum kekonsistenan makna kata

freebiespic / Pixabay

Quranisme

Pemahaman islam berdasarkan TIA, secara dasar, mirip dengan pemahaman kelompok islam yang dikenal dengan sebutan quranis.
Ditulis mirip, karena dalam beberapa hal bisa jadi ada aturan TIA yang tidak disepakati oleh para quranis. Jadi TIA ini bukan pemahaman quranis, tapi sangat mirip.
Ini bisa disamakan seperti pemahaman salafi dengan wahabi, ikhwanul muslimin dengan hizbut tahrir dst.
Penafsiran ilmiah alquran bisa dianggap sebagai pemahaman quranis yang digabungkan dengan metode ilmiah.

Kelompok quranis, di kalangan konvensional yang seringkali membencinya, sering disebut juga dengan nama kelompok ingkar sunnah.
Untuk tuduhan dan sebutan semacam ini maka jawabannya adalah biarlah Allah SWT yang akan menjadi saksi kita semua.
Hanya Dia-lah yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Mengenal quranis dan quranisme

Efek pelaksanaan TIA

Meskipun dalam beberapa hal mirip dengan quranisme, terutama dari sisi perlawanan terhadap penggunaan hadits sebagai sumber hukum islam, efek TIA dalam penafsiran alquran sangat jauh berbeda.
Apabila quranisme cenderung memiliki keragaman tafsir yang banyak, bisa tak terhingga, TIA cenderung memiliki kesatuan tafsir.

Situasi ini utamanya berasal dari hukum kekonsistenan makna kata.
Dalam TIA, makna suatu kata harus konsisten di keseluruhan alquran. Situasi ini biasanya berefek kepada nyaris tunggalnya makna suatu kata menurut alquran.
Nyaris tidak akan ada ruang untuk pemaknaan yang berbeda, apalagi bertolak belakang.
Dari kesatuan makna untuk suatu kata alquran inilah muncul kesatuan tafsir alquran.

Meskipun kadangkala, bisa terjadi pemaknaan kata yang beragam.
Biasanya ini terjadi untuk kata yang jarang muncul, atau kalaupun muncul dalam jumlah banyak, semuanya cenderung memiliki konteks penggunaan ayat yang sama.

Utamanya, selama suatu tafsir masih memenuhi syarat dasar utama yaitu konsistensi mutlak dengan keseluruhan isi alquran dan logika manusia, maka penafsiran itu bisa dianggap benar dan dapat disebut sebagai TIA.
Dalam situasi semacam ini maka prinsip dasarnya adalah semuanya dianggap sebagai penafsiran yang dibolehkan alquran dan insya Allah benar semua.

EmAji / Pixabay

TIA tidak pernah menjamin sebagai jalan kebenaran

Meskipun cenderung memiliki kesatuan penafsiran, adalah kesalahpahaman bahwa TIA mengklaim dirinya sebagai jalan kebenaran.

Dari prinsip TIA, sebenarnya, justru tidak pernah ada kepastian siapa yang benar.
Kita semua hanya berusaha sebaik mungkin untuk berada di jalan yang diridhoi Allah SWT.
Sikap merasa pasti benar, sebenarnya, hanyalah suatu bentuk jebakan setan.

Tapi, siapapun yang menggunakan akal sehatnya, pasti sepakat bahwa aturan agama yang absurd tidak mungkin berasal dari Allah SWT.
Tuhan yang Maha Adil jelas tidak mungkin membuat aturan, yang secara obyektif, tingkat kebaikan untuk kemanusiaannya bisa dikalahkan oleh buatan manusia biasa, atau bahkan tidak ada sama sekali.
Jauh lebih besar kemungkinannya bahwa aturan semacam itu tidak berasal dari Tuhan sama sekali, dan hanya berasal dari hawa nafsu manusia.

Lebih jauh, tidak pernah ada satupun alasan valid untuk menolak keberadaan aturan pemahaman alquran yang logis dan konsisten.
Semua keberatan, sejauh ini, hanya berasal dari prinsip pokoknya, tidak ada satupun perlawanan berbentuk argumentasi yang layak.
Keberadaan metode yang logis dan konsisten untuk memahami alquran, insya Allah, itu benar adanya.
Permasalahannya cuma satu, apakah metode tersebut sudah berhasil dikuak sepenuhnya oleh TIA?

Memaksa muslim untuk berpikir mengenai agama

Salah satu efek utama TIA adalah paksaan bagi setiap muslim untuk memikirkan agama.

Dalam TIA, setiap manusia diharapkan untuk mengkaji dan memikirkan alquran, bukan membeo pada penafsiran menurut si A atau si B.
Dalam TIA, sikap taklid adalah sesuatu yang sangat tidak disukai.
Setiap manusia diharapkan berpikir untuk dirinya sendiri dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Ini karena tidak ada penolong selain Allah, dan siapa yang menjamin penafsiran ulama A atau ulama B adalah yang benar? Tidak ada.
Dari sinilah, prinsipnya adalah kita semua harus berusaha memikirkan sebaik-baiknya dan kemudian berserah diri kepada Allah SWT.

Cara masuk surga menurut alquran

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.

(QS 38:29)
john1cse / Pixabay

TIA adalah upaya perbaikan pemahaman islam

TIA utamanya merupakan upaya perbaikan terhadap pemahaman agama islam, yang dipandang tidak logis, tidak obyektif dan tidak konsisten.
Aturan agama islam yang secara obyektif dirasakan sudah baik dan adil, jelas tidak akan dipedulikan oleh TIA.

Karena TIA hanya berfokus kepada alquran, maka hal-hal yang dianggap tidak diatur oleh alquran, cenderung tidak akan dipedulikan oleh TIA.
Atau kalaupun sampai dibahas, pembahasannya secara mendalam cenderung dinegasikan. Ini karena dianggap tidak ada manfaatnya.

Sebagai misal adalah tatacara shalat.
Karena kegiatan ini dianggap tidak dibahas oleh alquran, maka cenderung tidak akan dipedulikan oleh TIA.
TIA tidak akan peduli apakah tatacara shalatnya seseorang ketika berdiri seharusnya dengan tangan di perut, dada atau cuma menggantung di samping.
Atau ketika mau sujud, tangan atau kaki yang duluan menyentuh tanah, apakah hidung termasuk bagian yang menyentuh tanah atau tidak dsb.
Itu semua adalah optional, pilihan pribadi masing-masing, yang insya Allah benar semua.
Hal yang lebih penting adalah anda melaksanakan shalat, kalau laki-laki, sebisa mungkin berjamaah di masjid.

Meskipun begitu, TIA menegaskan pentingnya efek dari shalat yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagai satu kesatuan dalam shalat seseorang. Sesuatu yang cenderung tidak dipedulikan menurut pemahaman konvensional.

Terutama untuk aturan rusak dalam islam

Situasi akan berbeda apabila suatu aturan agama islam dianggap sangat buruk dan mungkar.
Di sini, TIA bertindak sebagai algojo untuk memusnahkannya tanpa ampun.

Contoh perang TIA terhadap aturan yang dianggap absurd adalah pedofilia.
Meskipun rata-rata sudah ada larangan terhadap pedofilia di negara-negara islam, bisa dikatakan daya tangkal larangan ini tidak cukup kuat.
Ini karena dasar larangannya hanya bersumber dari hukum negara, sedangkan dasar pendukungnya berasal dari hadits sahih.

Pertentangan hadits dan alquran

Meskipun sudah banyak literatur dari ilmuwan islam yang mempertanyakan keotentikan hadits pedofilia, ditambah juga dasar dari alquran, tapi karena tidak ada tolok ukur obyektif, bisa dikatakan bantahan yang terjadi hanya sekedar diskursus biasa.
TIA, dengan perangkat aturannya yang obyektif, dengan hasil-hasilnya yang juga obyektif lebih baik, insya Allah akan memiliki dasar yang jauh lebih kuat untuk melawan aturan rusak tersebut.

Prinsip basmallah

Ziya_Alishanli / Pixabay

TIA tidaklah sesulit yang dibayangkan

Kesalahpahaman lain yang mungkin muncul adalah anggapan bahwa mengkaji alquran dengan metode TIA sulit dilakukan.
Harus diakui, apabila dilakukan pada masa lampau, metode ini akan sangat sulit dilakukan, kalau tidak mau dikatakan mustahil.
Ini karena dibutuhkan kualitas ilmu hafalan alquran tingkat alien/dewa yang bisa mengingat semua kemunculan suatu kata di keseluruhan alquran.
Tapi pada masa modern, kita memiliki mesin bernama komputer.

Dengan komputer, kita dapat dengan mudah mencari semua kemunculan suatu kata di dalam alquran.
Dari situ, kita tinggal membandingkan penggunaan kata-kata tersebut untuk mencari makna tunggal yang bisa melingkupi semuanya, secara konsisten dan obyektif.
Apabila ini sudah didapat, makna yang lebih tepat itu tinggal diaplikasikan ulang ke ayat-ayat alquran yang memuat kata tersebut.

Dari sini, siapapun pengkaji alquran, cukup bersikap kritis dan teliti, biasanya sudah dapat menguak berbagai hal-hal baru.
Kita memang tetap harus membandingkan penggunaan suatu kata di keseluruhan ayat alquran, tapi sebenarnya, hal ini tidaklah sesulit yang dibayangkan.

Lebih jauh, siapapun bahkan tidak perlu menguasai tata bahasa arab untuk menafsirkan alquran dengan metode TIA.
Ini karena terjemahan alquran, biasanya sudah cukup akurat sebagai pengantar untuk mendapatkan gambaran isi dari suatu ayat alquran.
Rata-rata terjemahan alquran sudah tepat dalam menjelaskan situasi yang terjadi pada ayat-ayat alquran, seperti siapa yang bertindak sebagai subyek, tindakan apa yang dilakukan, apa obyeknya dsb.

Contoh kemudahan

Sebagai contoh adalah ayat 96:1.

Bacalah (iqra) dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

QS 96:1

Rata-rata terjemahan alquran sudah tepat dalam mengartikan bahwa kata iqra di ayat itu adalah bermakna suatu bentuk perintah membaca, yaitu “bacalah”.
Dan bukan kegiatan membaca seperti dalam kalimat “budi membaca buku”.

Jadi seorang pengkaji alquran TIA sebenarnya tidak perlu lagi bersusah payah mengulangi kajian terhadap jabatan suatu kata dalam kalimat, apa yang dilakukan dsb.
Mereka cukup melakukan kajian terhadap penggunaan suatu kata di keseluruhan alquran.
Mereka cukup mencari makna kata yang selalu konsisten dengan seluruh ayat alquran yang menggunakan kata tersebut.
Bagian tersulit dari TIA hanyalah ini.

TayebMEZAHDIA / Pixabay

Hal terpenting adalah bersikap kritis

Hal terpenting untuk menjadi pengkaji alquran berdasarkan TIA adalah bersikap kritis.

Apabila kita mendengar suatu fatwa atau tafsir atau ucapan yang berkaitan dengan agama, kita harus memikirkannya dengan matang.
Apakah aturan itu menghasilkan keburukan atau tidak?
Mengambil hak orang lain atau tidak?
Menghasilkan kerusakan di muka bumi atau tidak?
Kalau salah satu jawaban itu adalah ya, maka aturan atau fatwa atau tafsir itu selayaknya ditolak, dan tidak perlu dipedulikan.

Bahkan sebenarnya tidak diperlukan dalil agama sama sekali untuk melakukan ini.
Dengan logika dan hati nurani, siapapun sebenarnya sudah bisa membedakan sesuatu yang insya Allah baik dan yang jelas buruk.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)

(QS 6:116)

Intinya adalah kita tidak bisa hanya sekedar ikut-ikutan. tapi harus memahami aturan agama, minimal efeknya.
Ini agar semua tindakan yang kita lakukan di dunia tidak menghasilkan keburukan yang akhirnya malah menjauhkan kita dari ridho Allah SWT.
Pada akhirnya, status benar atau salah menurut pandangan Allah SWT bisa dikatakan tidak bisa diketahui dengan pasti. Tapi efek terhadap kemanusiaan dan kehidupan di muka bumi sangat jelas dan bersifat obyektif.

Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS 6:11)

Penutup

Bagi yang malas berpikir dan hanya membeo kepada “ulama”, meskipun ini hak pribadi, sedikitlah berpikir
Apa gunanya kita diberikan akal dan nurani kalau tidak digunakan?
Kalau masih tidak mau peduli, paling tidak bersikaplah toleran dengan pemahaman yang berbeda.

Lagipula, tidak peduli berilmu atau tidak berilmu, semua manusia akan dikenai pertanggungjawaban yang sama

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

(QS 17:36)

Sekali lagi, tidak ada kepastian pemahaman siapa yang benar.
Hanya Allah yang akan menjadi saksi dan hakim kita semua.
Bersikap merasa pasti masuk surga adalah suatu tanda kesombongan.
Cukuplah kita berusaha beragama sebaik mungkin, membawa rahmat bagi seluruh alam, dan biarlah Allah SWT yang menjadi saksi dan hakim.

Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Anda merasa tulisan ini bermanfaat?

Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih


Bacaan lain

A Message of New Comers to Our Quranism Website
True Islam
Islam is and anti religion

Exit mobile version