Pengantar
Apa itu quranis dan quranisme? Adakah quranis yang tidak menolak hadits? Mengapa mereka menolaknya? Bagaimanakah quranist hidup tanpa hadits? Artikel ini melihat quranisme dari sudut pandang yang obyektif dan menjawab semua pertanyaan tersebut.
Basmallah
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya
Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Siapa itu Quranis dan quranisme
Quranis adalah terminologi untuk muslim yang HANYA berhuudan pada alquran, maksud huudan adalah sumber hukum utama.
Jadi quranist adalah muslim yang hanya menganggap alquran sebagai satu-satunya sumber hukum Islam.
Secara otomatis berarti menolak hadits sebagai sumber hukum islam.
Bisa dikatakan juga, quranis adalah muslim yang menolak kesetaraan alquran dan hadits.
Karena kelompok ini disebut quranis untuk menyebut manusianya, maka penyebutan untuk pola pikir semacam ini adalah quranisme.
Sebenarnya tidak jelas juga mana yang lebih dulu muncul, penyebutan quranist untuk manusianya atau quranisme untuk pola pikirnya.
Tapi hal ini tidaklah penting. Hal yang harus diingat adalah penyebutan quranisme (bahasa inggrisnya adalah quranism) itu untuk pola pikirnya, dan quranis (bahasa inggrisnya adalah quranist) adalah untuk manusianya.
Di artikel ini, semua kata itu akan dipergantikan untuk kebutuhan SEO.
Kelompok ini sering disebut juga sebagai kelompok ingkar sunnah oleh muslim konvensional yang membencinya.
Tindakan yang dibalas oleh kelompok quranis dengan menyebut kelompok konvensional sebagai sektarian (islam yang memecah belah dan membentuk kelompok-kelompok sendiri) atau moyangers (pengikut nenek moyang).
Di sini kita akan menggunakan penyebutan quranist dan konvensional untuk menghindari tindakan menyinggung perasaan semua pihak yang terlibat.
Mengapa quranisme menolak hadits?
Alasan untuk hal ini sangat banyak.
Seperti karena hadits tidak disebutkan dalam Quran sebagai sumber teologi dan praktik Islam. Quranisme memiliki penafsiran yang berbeda terhadap ayat 2:129 dan 4:59 daripada konvensional.
Juga karena hadits tidak muncul dalam bentuk tertulis sampai lebih dari dua abad setelah wafatnya nabi muhammad saw.
Faktanya hadits baru dianggap ditulis dan disaring pada masa imam bukhari dan imam muslim yang hidup sekitar abad 2 hijriyah. Sebelum itu, hadits tidak pernah tertulis dan dikumpulkan.
Memang ada riwayat dimana hadits pernah dituliskan, tapi kemudian langsung dibakar oleh khalifah abu bakar ra dan umar ra karena dikuatirkan akan membuat umat islam lebih cenderung kepada hadits daripada alquran.
Atau karena banyak hadits sahih yang mengandung kontradiksi dengan hadits lain yang juga berstatus sahih, meskipun disahihkan oleh orang yang sama dsb.
Sifat Quranisme
Muslim quranis memiliki sifat yang cenderung jauh berbeda dengan umumnya muslim konvensional. Tidak semua muslim konvensional tentunya, hanya umumnya saja.
Quranisme tidak memiliki hierarki
Secara dasar, quranisme tidak memiliki penafsiran tunggal, tidak memiliki organisasi atau kelompok tersendiri.
Selain dianggap bertentangan dengan alquran (6:159, 30:32), prinsip quranisme memaksa pelakunya untuk harus memahami agama dan tidak bertaklid. Situasi ini membuat organisasi islam tradisional yang hierarkis tidak mungkin eksis dalam quranism.
Dalam quranisme, tidak ada cerita dimana seseorang tidak perlu memikirkan agama dan cukup taklid kepada ulama-ulama tertentu.
Kalaupun ada organisasi quranisme yang bisa eksis, paling jauh hanya akan berbentuk kelompok diskusi alquran. Dimana setiap anggotanya memiliki suara yang cenderung setara dan tidak ada yang dituakan atau diposisikan lebih daripada yang lain.
Dari sini, bisa dikatakan tidak ada ciri khas yang bisa membedakan quranis dibandingkan kelompok konvensional. Pengenalan terhadap seorang quranist paling mudah dilihat dari pandangannya.
Apabila seseorang berprinsip hanya Alquran-lah sumber hukum tertinggi agama islam, tidak bisa digantikan hadits, maka sebenarnya dirinya berpandangan quranisme.
Jarang memiliki kesatuan pandang
Seperti dijelaskan, setiap quranis cenderung memiliki pemahaman dan penafsirannya sendiri-sendiri terhadap agama islam. Tidak ada paksaan untuk siapapun harus menerima paham apapun.
Apabila ada paham dasar yang menyatukan semuanya maka itu adalah keotentikan alquran dan alquran berasal dari Allah SWT. Alquran juga bersifat sumber hukum tertinggi dan tidak bisa digantikan atau disetarakan dengan apapun.
Dari sini, quranism akan cenderung memiliki ragam yang sangat berbeda dari pemahaman umum mengenai banyak hal.
Sebagai misal tata cara shalat, ada quranis yang berpandangan bahwa shalat itu non ritual, ada juga yang berpandangan ritual.
Mereka yang berpandangan ritual juga berbeda-beda pemahamannya. Ada yang shalatnya 3x sehari (seperti syiah, biasanya tanpa zuhur/ashar dan maghrib/isya), ada yang 5x sehari (seperti sunni konvensional) dan bahkan ada yang 7x sehari (ditambah dhuha dan tajahud).
Ada yang hanya melakukan 1 rakaat untuk semua shalat dan ada juga yang mengikuti jumlah rakaat sesuai konvensional dsb.
Intinya, nyaris tidak ada kesatuan pandangan dalam kelompok quranis.
Pasti akan ada yang berpikir bahwa bukannya hal ini akan menyebabkan perpecahan dalam umat islam?
Secara dasar tidak.
Sebagaimana kita ketahui bersama, para sahabat Rasulullah SAW juga memiliki banyak pemahaman berbeda terhadap Islam tapi tidak sampai menimbulkan perpecahan.
Ini semua karena pada akhirnya mereka selalu menyerahkan semua penghakiman kepada Allah SWT dan rasulNya (4:59).
Jadi inti utamanya adalah bertoleransi dengan pemahaman yang berbeda.
Lebih jauh, tidak ada bukti bahwa penggunaan hadits dalam agama islam akan menjaga persatuan.
Faktanya, umat islam jauh lebih terpecah belah pada masa sekarang daripada sebelumnya.
Mengenal Tafsir Ilmiah Alquran
Bukanlah firqah atau kelompok
Mungkin akan ada juga yang menyatakan bahwa dengan quranis membentuk kelompok tersendiri, maka bukankah ini berarti quranis membentuk sekte atau kelompok baru dalam Islam, yang berarti melanggar aturan alquran mengenai kelompok dan sekte dalam agama.
Jawaban untuk hal ini adalah quranism bukanlah suatu kelompok agama melainkan pemikiran.
Istilah quranis hanyalah suatu bentuk terminologi untuk menyebut muslim yang kembali kepada alquran seutuhnya.
Seorang quranism secara dasar adalah muslim, sama seperti muslim umum lainnya seperti kelompok sunni, syiah dsb. Ini tentu dengan catatan semuanya mengikuti ketentuan Allah SWT yang ada di alquran.
Status muslim yang sama sebenarnya juga bisa dinisbatkan kepada penganut agama lain yang dianggap bukan islam, seperti kristen, yahudi, hindu dsb.
Ini tentu saja selama mereka memenuhi syarat untuk disebut muslim sebagaimana yang dituliskan alquran.
Seorang quranis seharusnya tidak akan membentuk jamaah baru, atau masjid khusus quranis dsb.
Apabila seorang quranis shalat berjamaah sebagai makmum, maka ia seharusnya tetap mengikuti imam yang ada seperti jamaah lainnya.
Kalau ia menjadi imam maka ia seharusnya mengikuti kebiasaan yang dilakukan sebagian besar jamaahnya.
Quranis dan quranisme hanya sekedar definisi
Quranism hanyalah suatu istilah untuk membedakan muslim yang berpatokan pada alquran semata sebagai sumber hukum islam, dengan muslim lain yang menjadikan hadits dan fatwa-fatwa imam mereka sebagai sumber hukum selain alquran.
Tidak ada yang namanya memisahkan diri dari jamaah mayoritas, membentuk masjid sendiri, pengajian sendiri dsb.
Lebih jauh lagi, seorang quranis seharusnya tidak akan terlalu memperdulikan embel-embel quranis atau bukan.
Pertama, karena sudah ditegaskan bahwa perbuatan membentuk sekte-sekte dalam islam adalah suatu hal yang salah.
Kedua, karena quranisme sendiri secara dasar memang tidak begitu mempermasalahkan perbedaan, terutama apabila berkaitan dengan ritual. Sesuatu yang jauh berbeda dengan muslim konvensional.
Bisa dibilang perbedaan adalah salah satu bagian dasar quranisme, sehingga secara otomatis, perbedaan dengan kelompok konvensional bukanlah suatu masalah.
Ini karena secara dasar di dalam alquran sudah ditegaskan prinsip mengembalikan segala sesuatu kepada Allah dan rasulNya apabila ditemukan perbedaan di antara umat islam (4:59).
Apabila ada perbedaan yang dipermasalahkan, biasanya itu berkaitan dengan hal-hal yang akan mempengaruhi pondasi dasar agama Islam seperti tauhid, atau hal-hal yang dapat mengganggu prinsip rahmatan lil aalamiin dalam agama islam.
Dari sini, secara dasar, banyak muslim sebenarnya sudah dapat digolongkan sebagai quranism meskipun mereka sendiri mungkin tidak menyadari atau mengakuinya.
Selama seorang muslim berprinsip hanya alquran saja yang merupakan sumber kebenaran dari Allah SWT dan tidak ada selain alquran sebagai pengganti atau penjelas, maka dirinya sebenarnya sudah bisa disebut sebagai quranis.
Jenis-jenis quranis
Dalam kaitannya dengan penolakan terhadap hadits, kelompok quranis juga memiliki pandangan berbeda.
Tapi secara dasar, semuanya sepakat bahwa hadits tidak bisa disejajarkan dengan alquran sebagai sumber hukum agama, seperti yang dianut pemahaman konvensional.
Bisa dikatakan ini dasar utama seseorang bisa disebut sebagai quranis atau tidak.
Apabila seseorang menganggap posisi hadits tidak sejajar dengan alquran, dibawah alquran, berarti dirinya bisa dan tepat untuk disebut sebagai quranis.
Sedangkan apabila dia menganggap kedudukan hadits sejajar dengan alquran, berarti dia jelas tidak bisa disebut sebagai quranis.
Dari sikapnya terhadap penggunaan hadits, quranist bisa dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu moderat dan ekstrim.
Kelompok moderat masih bisa menerima hadits, dengan catatan hadits tersebut tidak bertentangan dengan alquran. Meskipun begitu, penggunaan hadits ataupun sunnah bukan sebagai sumber hukum agama, melainkan sekedar alat bantu belaka. Contoh quranis moderat ini adalah tafsir ilmiah alquran.
Ini sangat berbeda dengan kelompok ekstrim yang cenderung menolak hadits secara total, tidak ada toleransi sama sekali. Bahkan meskipun hadits tersebut isinya logis dan masuk akal, tetap harus ditolak. Ini karena hadits-hadits tersebut dianggap dapat mencemari pemahaman yang berasal dari alquran. Contoh quranis ekstrim ini adalah rashad khalifa.
Tapi sekali lagi, tidak ada perbedaan sama sekali terhadap posisi alquran. Semuanya sepakat bahwa alquran adalah satu-satunya sumber hukum islam, dan hanya dijelaskan oleh dirinya (alquran) sendiri.
Ini berbeda dengan pemahaman konvensional yang menempatkan alquran dan hadits dalam posisi setara, meskipun secara praktik, hadits sering diposisikan melebihi alquran.
Sebenarnya, kelompok quranis moderat, seringkali bisa lebih toleran dalam penggunaan hadits daripada kelompok konvensional yang ekstrim terhadap status kesahihan hadits.
Jadi tolok ukur penggunaan hadits sebenarnya tidak bisa menjadi dasar seseorang bisa disebut quranis atau konvensional. Ini karena bisa saja seorang quranis malah lebih sering melaksanakan hadits daripada konvensional.
Contoh perbedaan paham dalam Quranisme
Sebagai contoh adalah hadits tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina.
Hadits ini, secara sanad rusak, sehingga dianggap tidak sahih. Tapi secara tema dan makna, bisa dikatakan isinya baik, logis dan masuk akal.
Makna hadits ini jelas, menuntut ilmu itu harus telaten, gigih, dan tidak perlu peduli siapa sumber ilmu tersebut.
Bagi quranist moderat, hadits tersebut bisa diterima dan layak untuk dilaksanakan karena isinya dianggap tidak memiliki pertentangan dengan alquran.
Bagi quranis ekstrim, hadits tersebut jelas harus ditolak karena tidak bersumber dari alquran. Ini karena hadits tsb dianggap dapat mengganggu pemahaman islam yang benar-benar berasal dari alquran.
Bagi konvensional ekstrim, hadits tersebut jelas harus ditolak karena status sanadnya tidak sahih.
Jadi bisa saja seorang quranis malah melaksanakan hadits yang ditolak oleh konvensional ekstrim.
Free Minds: Forum diskusi quranis internasional
Kaskus : Forum debat quranis di kaskus
Prima quran, sola quran dan para quran
Kelompok quranis, dan konvensional, dapat disebut dengan cara yang lebih mudah.
Di sini, mereka diberi nama penyebutan sesuai dengan posisi mereka terhadap alquran, menggunakan tambahan bahasa latin.
Kelompok quranis, bisa disebut sebagai sola quran. Maksud dari nama ini adalah alquran semata, hanya alquran, tidak ada selain alquran.
Jadi sumber aturan dalam islam hanya alquran, tidak ada sumber lainnya.
Quranis ini terbagi dua kelompok yaitu moderat dan ekstrim, tergantung dari sikap mereka terhadap penggunaan sumber sekunder (hadits, sunnah dsb) dalam kehidupan.
Kelompok konvensional, bisa disebut sebagai para quran. Maksud dari nama ini adalah bersama alquran.
Di sini ada sumber aturan islam yang dipakai secara bersamaan dan setara dengan alquran yaitu hadits dan sunnah.
Contoh pemahaman semacam ini adalah sunni dan syiah.
Di antara dua kelompok itu, ada pemahaman lain yaitu prima quran. Maksud dari prima quran adalah alquran sebagai prima, yang utama, di atas segalanya.
Di sini, sumber hukum agama islam tertinggi hanya’lah alquran, sumber lainnya seperti hadits dan sunnah berposisi di bawah alquran. Keduanya harus disaring dengan alquran sebelum dianggap layak untuk digunakan.
Contoh pemahaman semacam ini adalah ibadi.
Apa beda quranis moderat dengan prima quran?
Meskipun secara sepintas lalu terlihat sama, ada perbedaan mendasar diantara keduanya.
Prima quran menggunakan hadits dan sunnah, dan tetap menganggapnya sebagai sumber hukum islam.
Hanya saja, karena hadits dan sunnah ini harus disaring dengan alquran, maka jumlah hadits dan sunnah yang dipakai jauh lebih sedikit daripada versi sunni dan syiah.
Di sisi lain, meskipun quranis moderat menggunakan hadits dan sunnah, selama tidak bertentangan dengan alquran, tapi keduanya tidak dianggap sebagai sumber hukum islam.
Penggunaan hadits dan sunnah sepenuhnya bersifat optional, pilihan pribadi seorang muslim.
Untuk memahami bedanya bisa dilihat dari pandangan terhadap rakaat shalat.
Anggap saja imam di suatu masjid melakukan shalat maghrib 4 rakaat, yang diikuti oleh prima quran dan quranis moderat sebagai makmum.
Di sini seorang prima quran akan mengulangi kegiatan shalat untuk menjadi sama dengan sunnah (kebiasaan) yaitu 3 rakaat.
Tapi bagi quranis moderat, kegiatan shalat itu tidak perlu diulang. Ini karena jumlah rakaat dianggap tidak vital, karena tidak (belum) bisa diturunkan dari alquran.
Apabila seseorang mau mengulangi shalatnya, sesuai sunnah (kebiasaannya), maka itu pilihannya.
Tapi apabila seseorang tidak mau mengulanginya, maka itu urusannya dia sendiri.
Kelompok siapa yang benar?
Suatu hal yang perlu dipahami adalah, menurut alquran, status islam itu tidak ditentukan kitab suci yang dipakai atau nabi pembawa pesan.
Di dalam alquran, keselamatan di akhirat tidak ditentukan oleh siapa rasulullah yang dipercaya seseorang, apakah itu muhammad saw, musa as, isa as atau lainnya lagi.
Tidak ditentukan juga apa kitab suci penuntun hidupnya, apakah itu alquran, taurat, injil atau weda, tripitaka dsb.
Hal terpenting adalah keimanan seseorang kepada Allah SWT dan hari akhir serta dirinya melakukan perbuatan baik dan menjauhi dosa-dosa besar.
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shaleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka…
QS 2:62
Siapapun yang sikap hidupnya sesuai dengan aturan Allah, maka sesungguhnya dia adalah seorang muslim, dan insya Allah akan mendapatkan ridhoNya.
Dari sini, apabila tidak ada monopoli kebenaran berdasarkan aturan agama yang vital, yaitu kitab suci yang dipakai dan rasulullah pembawa pesan, maka bagaimana mungkin bisa ada monopoli kebenaran hanya akibat pemahaman agama?
Semua ini cuma masalah jalan yang lebih mudah saja
Semua perbedaan pemahaman dan keagamaan di dunia, terkait kitab suci, rasulullah pembawa pesan, penafsiran kitab suci dsb, semuanya hanyalah masalah jalan menuju ridho Allah SWT.
Ada jalan yang lapang, lurus, mudah, bebas hambatan, dan ada juga jalan yang sulit, rusak, banyak rintangan.
Semua hanya’lah pilihan pribadi seseorang, apakah dia mau menggunakan jalan yang mudah atau jalan yang sulit.
Meskipun tentu saja, seseorang yang berakal sehat hanya akan menggunakan jalan yang mulus dan mudah daripada jalan yang sulit dan rusak.
Apalagi kalau potensi salah jalan adalah siksa neraka.
Meskipun sebenarnya juga, selama seseorang selalu menggunakan akal sehat dan hati nuraninya, potensi salah jalan di jalan yang rusak akan dapat diminimalisasi.
Kalau diibaratkan ini seperti memiliki kompas dan peta.
Pemahaman yang lebih baik, lebih obyektif, konsisten dan logis, seperti tafsir ilmiah alquran, adalah jalan yang (insya Allah) lebih lapang dan mudah untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
Ini karena kita (insya Allah) bisa membedakan dengan akurasi sangat tinggi perilaku yang disukai Allah SWT dan yang dibenciNya.
Meskipun begitu, sangat jelas bahwa hal terpenting bukanlah jenis pemahaman agama islam yang diikuti, atau kelompok yang diikuti.
Tapi efek dari pemahaman tersebut, apakah membawa rahmat atau bencana.
Pemahaman dari tafsir ilmiah alquran, yang tidak diikuti dengan perbuatan baik dan kerendahhatian, tapi malah kesombongan, jelas tidak akan membawa kebaikan apapun dari sisi Allah SWT.
Sama juga dengan pemahaman konvensional, yang meskipun kacau dan penuh kontradiksi, tapi apabila seseorang bisa menjaga dirinya dari kesombongan, kefanatikan berlebih, dan perbuatan buruk lainnya, maka (insya Allah) akan membawa kepada ridho Allah SWT.
Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Anda merasa tulisan ini bermanfaat?
Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih
Bacaan lain
Why Muslims should follow the Quran, all the Quran, and nothing but the Quran