My Blog

Islam logis, asal muasal TIA

Pengantar

Bagaimana asal muasal munculnya tafsir ilmiah alquran? Benarkah aturan dalam agama islam itu sering tidak logis dan konsisten? Bagaimana hal ini mengantar pada proses terbentuknya hukum dasar TIA? Anda akan mengetahui latar belakang dari munculnya tafsir ilmiah alquran, suatu cerita tersendiri yang menarik.

Sumber feature image

Basmallah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya

Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Asal muasal tafsir ilmiah alquran

Asal muasal tafsir ilmiah alquran (selanjutnya disingkat TIA) muncul dari video debat keagamaan ahmad deedat dengan orang-orang kristen.
Ini sekitar tahun 2004, jadi memang sudah lama sekali.

Dari semua video-video tsb, sebenarnya dapat disimpulkan satu hal sederhana, bahwa pemahaman tauhid (Tuhan yang Maha Tunggal) jelas jauh lebih logis dan bisa diterima akal sehat daripada pemahaman trinitas (Tuhan tritunggal).
Dari sisi logika dan akal sehat, kelompok muslim (ahmad deedat) bisa dikatakan menang mutlak.
Tapi hal ini menimbulkan pemikiran lanjutan, yang mau tidak mau harus eksis, dan tidak mungkin tidak eksis.

Situasi ini kalau diibaratkan sama seperti konsekuensi dari suatu teori atau persamaan dalam ilmu fisika.
Jadi karena teori relativitas itu benar, dimana kecepatan cahaya itu konstan terhadap semua pengamat, maka akan memunculkan terjadinya efek-fek tertentu.
Beberapa diantaranya adalah dilatasi waktu (waktu yang berjalan lebih lambat), kontraksi panjang (benda menjadi bertambah pendek), maupun persamaan antara materi dan energi.
Hal-hal tersebut belum eksis atau teramati ketika teori relativitas keluar, tapi merupakan konsekuensi yang pasti harus muncul.
Pada akhirnya memang terbukti bahwa prediksi teori relativitas einstein itu benar dan eksis.

Mengenal Tafsir Ilmiah Alquran

stux / Pixabay

Konsekuensi paham tauhid vs trinitas

Video debat ahmad deedat itu memunculkan pemikiran lanjutan yang mau tidak mau harus eksis sebagai konsekuensi menangnya paham tauhid menghadapi trinitas dari sisi akal sehat.

Pemikiran itu adalah karena tolok ukur kebenaran dari prinsip keagamaan yang paling dasar (primer, tauhid) didasarkan kepada logika dan akal sehat manusia, maka ini berarti konsep-konsep keagamaan yang lebih ringan (sekunder, tata cara shalat, zakat dsb), seharusnya juga didasarkan pada kebenaran yang logis dan konsisten sesuai akal sehat manusia.
Ini adalah prinsip lanjutan yang mau tidak mau harus muncul dan eksis, dan tidak mungkin tidak eksis.

Tanpa didasarkan logika dan akal sehat manusia, konsep eksistensi Tuhan versi tauhid tidak bisa dikatakan menang dan benar dibandingkan trinitas.
Ini karena bisa saja aslinya kebenaran Tuhan tidaklah logis. Tapi hanya bersifat iman dan taklid buta dan tidak memerlukan logika akal sehat manusia sama sekali.

Karena saya seorang muslim, tentu saja berpandangan bahwa konsep tauhid yang benar.
Tapi di sisi lain saya juga tidak bisa berlepas diri dari konsep pola pikir fisikawan yang logis dan konsisten serta kritis.

Situasi ini menimbulkan dilema mendalam.

Faktanya, islam “konvensional” itu seringkali tidak logis

Meskipun saya jelas bukan cendikiawan islam, yang mengkaji alquran atau hadits secara mendalam, tetap saja saya juga tahu dan sadar bahwa aturan dalam agama islam itu tidak selalu logis.

Apabila pembaca tanyakan ini kepada setiap muslim, rata-rata akan menjawab sama, aturan agama islam itu tidak selalu logis.
Faktanya, jangankan islam, apabila hal ini ditanyakan kepada setiap pemeluk agama yang berbeda, kristen, hindu, budha, yahudi dll, semuanya pasti menjawab, agama mereka tidak selalu logis.
Kalau beragama itu ya beragama saja, tidak usah memikirkan bahwa konsep agama itu harus logis, konsisten, manusiawi dsb. Atau bahwa aturan agama harus sesuai akal sehat dan kemanusiaan dsb.
Pokoknya ikuti saja perkataan pemuka agama untuk ini dan itu.

Sekali lagi, ini adalah suatu dilema yang sangat dalam.
Konsep tauhid tidak bisa dianggap benar dibandingkan trinitas apabila tolok ukur kebenaran dalam agama bukanlah akal pikiran manusia yang logis.
Di sisi lain, saya juga harus terima bahwa agama islam (yang saya pahami) juga tidaklah selalu bersifat logis dan konsisten.
Lama memikirkan, saya tetap terganjal pada pertentangan ini.

Harus diakui bahwa memang tidak ada solusi yang bisa menyatukan keduanya, salah satu pasti salah.
Islam itu tidak logis, yang berarti debat ahmad deedat dsb hanyalah omong kosong silat lidah yang tidak ada maknanya.
Atau saya, kita semua, telah salah dalam beragama selama ini.

Pertentangan hadits dengan alquran

mohamed_hassan / Pixabay

Tapi alam semesta itu logis, yang berarti seharusnya islam itu logis

Mengamati kedua pertentangan di atas, dan setelah lama memikirkan, dari situlah saya sadar telah salah dalam beragama.

Mau tidak mau saya harus mencari konsep keagamaan dalam islam yang logis dan konsisten sesuai akal sehat manusia.
Jauh lebih besar kemungkinan selama ini saya telah salah dalam beragama daripada islam, agama Tuhan, itu tidak logis.

Faktanya, alam semesta ini logis.
Aturan dan hukum alam selalu logis dan konsisten, tidak pernah berubah-ubah.
Perkembangan peradaban manusia juga didasarkan pada hal-hal yang logis, pembuatan mesin, bangunan, chip, internet dsb, semuanya didasarkan pada aturan dan hukum yang logis dan konsisten.

Alquran juga dengan “sombongnya” selalu membanggakan isinya yang konsisten tanpa kontradiksi.
Juga pujian alquran terhadap manusia-manusia yang berpikir, dan kecaman alquran terhadap manusia-manusia yang tidak berpikir dst.
Secara sepintas lalu, seharusnya agama islam itu logis dan konsisten.

Setelah mencari googling di internet kesana kamari, membandingkan beragam aliran islam, saya harus temukan satu kenyataan lagi, tidak ada yang namanya aliran pemahaman islam yang didasarkan pada konsep dan hal-hal yang logis.
Kalau saya mau beragama islam secara logis dan konsisten, mau tidak saya saya harus mencarinya sendiri.
Ini sebenarnya sudah menimbulkan dilema besar, bagaimana kalau saya tidak bisa menemukannya? Tentu saja saya bisa jadi gila.

Kalau agama itu tidak logis, tapi ilmu pengetahuan yang saya yakini kebenarannya jelas logis, maka berarti keagamaan islam saya mau tidak mau hanya bisa didasarkan pada sikap taklid.
Saya harus terima sikap hidup membeo pada segelintir manusia yang “disucikan”.
Meskipun begitu saya sadar tidak ada jawaban di agama selain islam, karena jelas konsep dalam agama selain islam malah jauh lebih tidak logis lagi.

Kemunculan hukum dasar tafsir ilmiah alquran

Intinya, saya, kita semua, menginginkan pemahaman agama islam yang mutlak selalu logis dan konsisten.

Apabila kita mengamati semua sisi ajaran islam saat ini, maka dengan mudah ditemukan bahwa cacat terbesar berasal dari hadits.
Bisa dikatakan kalau ada ajaran dan pemahaman islam yang aneh, absurd, egois dan hal-hal buruk lainnya, bisa dipastikan sumbernya pastilah dari hadits, bukan alquran.
Dari sini, saya merasa sangat yakin, bahwa kalau saya ingin mendapatkan pemahaman agama islam yang logis, konsisten dan manusiawi, satu hal yang pasti, hadits jelas harus dibuang. Ini tidak mungkin tidak.

Hadits dan sunnah

Saya memang sudah menyadari bahwa sangat sulit terlepas dari hadits, sebagai misal tata cara shalat.
Tapi setelah berpikir singkat, hal itu dapat diatasi dengan penjelasan yang mudah dan logis yaitu semua hadits, tidak peduli tingkatan sahihnya hanya bersifat optional, pilihan pribadi siapapun.

Jadi hadits bukan lagi pendamping alquran, melainkan hanyalah sekedar kumpulan saran, pepatah, nasihat dsb.
Hadits bukan lagi penjelas alquran, melainkan sekedar alat bantu biasa untuk memahami alquran atau melaksanakan islam.
Jadi posisi hadits sama saja misalkan dengan buku-buku pepatah populer, atau buku ilmu pengetahuan dsb, tidak lebih dari itu.
Untuk diketahui, di sini saya belum mengetahui eksistensi kelompok quranis sama sekali.

Mengenal quranis dan quranisme

mohamed_hassan / Pixabay

Munculnya hukum kekonsistenan makna kata

Setelah membuang hadits, dari kerangka dasar pemahaman islam, dapat dengan mudah ditemukan prinsip kekonsistenan makna kata.

Alquran selalu mengklaim dirinya konsisten dan tanpa kontradiksi.
Ini berarti, seharusnya makna kata-kata di dalam alquran juga haruslah selalu konsisten dan tidak pernah berubah.
Sangat tidak logis apabila alquran mengklaim dirinya konsisten tapi makna kata-kata di dalamnya bisa berubah-ubah.

Ini awalnya terasa sulit diterima dengan adanya banyak penggunaan kata di dalam alquran yang tergolong implisit, abstrak dsb.
Tapi setelah melakukan pengkajian dengan lebih mendalam, membandingkan isi ayat-ayat alquran dengan makna yang harus selalu konsisten dengan makna yang bisa berubah-ubah tergantung keinginan si penafsir, saya menemukan bahwa isi alquran (dan secara otomatis ajaran islam) menjadi jauh lebih logis, konsisten, dan manusiawi.

Setelah merasa yakin dengan kebenaran prinsip kekonsistenan makna kata, prinsip dasar yang ditemukan setelah itu adalah aturan kuanta ayat.

Asal kemunculan aturan kuanta

Kemunculan hukum dasar tafsir ilmiah alquran berikutnya cukup sederhana.
Salah satu hal yang paling tidak saya sukai dari perilaku muslim zaman sekarang adalah takfiri, kegemaran mengkafirkan orang lain.

Bisa dikatakan ada 3 ayat alquran yang menjadi dasar dan senjata para tukang takfir untuk membenarkan perilaku mereka yaitu 5:44, 5:45 dan 5:47.
Dengan melihat tiga ayat itu, digabungkan dengan prinsip keharusan untuk konsisten, semuanya terlihat memiliki satu kesamaan yang jelas, yaitu semuanya, di awal surat, secara jelas berbicara mengenai kaum yahudi (pengikut taurat) dan nasrani (pengikut injil).

Saya tidak pernah suka perilaku takfiri, dan dengan melihat ayat yang sering menjadi landasan takfiri, sangat jelas dan mudah, jalan untuk menghancurkan dasar pemahaman takfiri adalah dengan memaksakan adanya prinsip bahwa pemahaman terhadap ayat alquran haruslah bersifat menyatu dan tidak bisa terpisah-pisah.

Jadi harus diakui ini prinsip yang awalnya muncul akibat nafsu pribadi, yang tidak menyukai sesuatu, yang ternyata, syukur alhamdulillaah, setelah dikaji secara lebih mendalam, bisa dinyatakan memiliki kadar kebenaran yang sangat kuat.

Dasar lain aturan kuanta

Lebih jauh, secara logika, mau tidak mau, pastilah harus ada batasan minimal untuk pemahaman terhadap isi alquran.
Apakah itu bersifat per-keseluruhan alquran, per-surat, per-tanda ain, per-ayat, atau per-kata.

Batasan minimal keseluruhan alquran jelas tidak mungkin, ini terlalu sulit. Jumlah isi alquran terlalu banyak, memaksakan keseluruhan alquran harus ditafsirkan secara bersamaan sekaligus jelas nyaris tidak mungkin terwujud.
Hal yang sama juga dengan batasan surat, ini akibat adanya beberapa surat yang sangat panjang.
Batasan untuk tiap tanda ain juga sama, masih tergolong sangat panjang. Lebih jauh, seringkali satu tanda ain tidak hanya terdiri dari satu tema cerita melainkan banyak tema.
Batasan minimal kata juga terasa tidak mungkin, karena sudah ada hukum kekonsistenan makna kata. Prinsip yang secara tidak langsung bentuk lain penyatuan terhadap makna dari kata-kata yang digunakan oleh alquran.

Semua ini meninggalkan aturan batasan pemahaman minimal alquran adalah per-ayat.
Batasan minimal pemahaman alquran untuk tiap ayat bisa dikatakan bersifat sempurna.
Ada ayat yang sangat panjang seperti 2:282, tapi cenderung membicarakan satu tema yang sama.
Ada juga ayat yang sangat pendek seperti 112:2, tapi memiliki makna yang sangat luas dan dalam.

Batasan minimal kesatuan pemahaman ayat alquran ini diberi nama prinsip kuanta, mengambil istilah dalam dunia fisika mengenai satu kesatuan energi yang tidak terpisah-pisah.

Aturan kuanta, hukum dasar TIA

geralt / Pixabay

Kegagalan hukum kekonsistenan makna kata

Dengan menggunakan dua aturan dasar tadi, bisa dikatakan saya menemukan banyak hal-hal baru dalam agama islam.
Sebagian aturan agama islam, yang sebelumnya terlihat kacau dan tidak adil, setelah dilakukan pengkajian ulang dengan dua hukum dasar tadi, berubah menjadi aturan yang jauh lebih adil, egaliter, tidak egois, tidak zalim dsb.
Semuanya membuat saya semakin yakin mengenai kebenaran dari metode TIA ini.

Sampai akhirnya saya bertemu kata “huudan”.

Kata huudan ini memiliki dua makna kata, yang mau tidak mau harus diakui tidak akan mungkin bisa disatukan dengan jalan apapun, karena sangat jauh perbedaan keduanya.
Penggunaan pertama adalah untuk menyebut orang-orang yahudi, seperti di ayat 2:62. Penggunaan kedua adalah untuk menyebut nabi hud as seperti di ayat 7:65.

Bentuk penulisan kata huudan untuk dua makna yang berbeda ini mutlak sama persis, tidak ada perbedaan sama sekali.
Tapi makna keduanya jauh berbeda dan tidak bisa disatukan dengan jalan apapun.
Ini menimbulkan guncangan yang lumayan besar (tidak begitu besar karena alhamdulillah solusinya cepat ketemu).
Saya menyadari ini adalah kegagalan hukum kekonsistenan makna kata, yang tidak bisa diatasi dengan jalan apapun.

Tapi saya tetap berusaha mencari solusinya. Mengapa?
Karena pengalaman dalam menggunakan dua hukum dasar, bisa dikatakan sukses untuk memperbaiki aturan-aturan agama islam yang jelas buruk menjadi aturan yang jauh lebih baik. Aturan dan hukum agama islam yang sebelumnya terasa tidak logis bisa berubah menjadi bersifat logis dan konsisten, secara obyektif.

Saya tahu, insya Allah sudah berada di jalan yang benar, cuma kurang tepat saja.

Kemunculan hukum kekonsistenan makna bunyi/suara alquran

Prinsip kekonsistenan makna kata jelas tidak sempurna, ada kekurangannya.

Tapi dengan membandingkan dua kata huudan di ayat 2:62 dan 7:65, kita dapat melihat (tepatnya mendengarkan) adanya satu perbedaan yang sangat masif dan jelas diantara keduanya.

Perbedaan itu adalah bunyi kedua kata tersebut.
Kata huudan di ayat 2:62 yang bermakna orang yahudi memiliki bunyi idzhar (terang dan jelas).
Sedangkan kata huudan di ayat 7:65 yang bermakna nabi hud as memiliki bunyi ikhfa (dengung).
Dari sinilah muncul perbaikan terhadap hukum kekonsistenan makna kata menjadi kekonsistenan makna bunyi/suara alquran. Sampai saat ini, aturan ini belum memiliki inkonsistensi (kegagalan) penggunaan.

Untuk diketahui, bukan berarti bahwa bunyi ikhfa adalah berarti selalu nabi hud as, dan bunyi idzhar adalah kaum yahudi.
Prinsip itu hanya berlaku untuk kata dengan tulisan huudan. Sebagai misal ada juga bunyi huudun yang idzhar di ayat 26:124 yang bermakna nabi hud as.
Tapi hal ini tidak mengganggu hukum kekonsistenan makna bunyi/suara karena frasanya bukanlah huudan melainkan huudun.

Dengan menggunakan logika, sebenarnya kita juga bisa menurunkan hukum kekonsistenan makna bunyi dari kenyataan sejarah.

Kita tahu bersama bahwa alquran turun dalam bentuk suara bacaan yang didengar oleh nabi muhammad saw.
Jadi alquran tidak pernah turun dalam bentuk tulisan arab secara langsung.
Ini berarti kalau ada aturan kekonsistenan makna dalam alquran, maka ini tidak mungkin terkait dengan bentuk tulisan arabnya, melainkan dari bunyinya.

Bagi yang belum tahu, alquran pada masa rasulullah saw dituliskan berupa huruf gundul tanpa harakat sama sekali. Barulah setelah masa perkembangan islam, alquran kemudian dituliskan dengan harakat untuk membantu muslim non arab dalam membaca alquran.

Kekonsistenan makna kata (KMK), hukum dasar TIA

Kemunculan hukum penggunaan ilmu tajwid

Dengan keberhasilan TIA menghindari malapetaka inkonsistensi akibat bantuan ilmu tajwid, hal ini memunculkan hukum ketiga. Hukum itu adalah keharusan penggunaan ilmu tajwid.

Sebenarnya juga, hukum ini hanya diperlukan ketika kita berhadapan dengan kata-kata yang memiliki tulisan sama dengan bunyi yang berbeda (homograf). Selain ini, penggunaan ilmu tajwid sebenarnya tidak begitu diperlukan, paling jauh adalah terkait penggunaan tanda berhenti di ayat-ayat alquran.

Kata-kata alquran yang memiliki tulisan sama, biasanya akan memiliki bunyi yang juga sama, yang berarti pula, arti yang sama.
Inilah sebabnya mengapa hukum kekonsistenan makna kata tetap tidak dibuang, karena pada akhirnya pengecekan kata di keseluruhan alquran biasanya cukup dilakukan melalui bentuk tulisan/huruf.

Lagipula, mesin pencari komputer, biasanya tidak bisa melakukan pencarian database berbentuk suara, tetapi tulisan.
Memang komputer semacam ini ada, tapi jelas membutuhkan tenaga komputasi yang jauh lebih kuat dari komputer biasa.

Bisa dikatakan, seorang penafsir ilmiah alquran, apabila melakukan kajian terhadap penggunaan suatu kata di keseluruhan alquran, hampir pasti melakukannya melalui kesamaan bentuk tulisan dan bukan suara.

Ilmu Tajwid dan Prinsip Basmallah

Penutup

Sebenarnya juga, masih ada aturan dasar lain dalam tafsir ilmiah alquran. Tapi bisa dikatakan, semua aturan yang dijelaskan di atas, kuanta satu ayat, kekonsistenan makna kata (kekonsistenan makna bunyi/suara dan ilmu tajwid) adalah yang paling penting.

Juga hanya aturan-aturan ini yang bisa dikatakan memiliki cerita latar belakang penemuan yang lumayan menarik.

Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Anda merasa tulisan ini bermanfaat?

Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih


Bacaan lain

Jika tidak logis bukan akidah islam
Islam itu logis, penganutnya belum tentu

Exit mobile version