Pengantar
Bagaimana cara masuk surga menurut alquran? Benarkah setiap muslim pasti masuk surga? Adakah yang bisa mencegah hal ini? Artikel ini memberikan pandangan baru yang tidak diketahui oleh mayoritas muslim saat ini.
Basmallah
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya
Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Pendahuluan
Salah satu pemahaman konvensional yang diterima secara luas adalah jaminan keselamatan untuk setiap muslim di akhirat.
Di sini, seorang muslim, tidak peduli seberapa banyak dosanya, pada akhirnya pasti akan masuk surga.
Pemahaman ini sebenarnya mirip 11-12 dengan pemahaman bahwa siapapun yang bersyahadat sebelum kematiannya, maka dia dijamin masuk surga.
Untuk diketahui, semua pemahaman ini berasal dari hadits, bukan alquran.
Inti dari semua pemahaman itu adalah jalan keselamatan di akhirat hanyalah melalui stempel sebagai muslim, tidak lebih dari itu.
Apabila dikaji secara mendalam, pemahaman ini sebenarnya hanya membawa efek negatif, tanpa ada efek positifnya sama sekali.
Akibat pemahaman ini, kecenderungan eksklusifitas umat islam semakin menguat.
Umat islam seringkali menjadi semakin sombong menjauh dari umat beragama lain, bersikap intoleran terhadap orang lain.
Jangankan terhadap yang berbeda agama, sesama muslim yang berbeda paham pun akan dikafirkan.
Tapi keburukan paling utama adalah ketika perilaku rahmatan lil aalamiin menjadi hilang.
Dikarenakan merasa dirinya sudah pasti masuk surga, seorang muslim dengan entengnya berbuat dosa, melakukan korupsi, berbuat zalim dsb.
Semuanya karena dirinya merasa cukup dengan bersyahadat, maka semua dosa-dosanya pasti diampuni.
Memang perilaku semacam itu tidak sepenuhnya berasal dari hadits-hadits itu.
Sebenarnya, ini karena kesalahpahaman terhadap makna hadits-hadits itu.
Meskipun ini membuktikan bahwa redaksi hadits tidak bisa selalu dipercaya.
Ini karena bisa saja maksud sebenarnya suatu hadits berbeda jauh dengan redaksinya.
Pada akhirnya, ini hanya membuktikan aturan dasar utama quranisme dan tafsir ilmiah alquran, yaitu alquran adalah satu-satunya penjelas dan sumber hukum agama islam.
Jadi bukan hadits yang menjelaskan alquran, tetapi alquran yang menjelaskan hadits.
Hadits kata-kata tauhid menjelang kematian
Sebenarnya, pemahaman bahwa ada jaminan surga dari stempel keislaman seseorang, itu hanya berdasar hadits. Dan faktanya, hadits memiliki banyak inkonsistensi.
Siapapun yang memiliki akal sehat, seharusnya tidak menyerahkan nasib dirinya di akhirat, hanya berdasarkan perkataan katanya katanya. Perkataan yang tidak pernah dijaga Allah SWT, atau terjaga keasliannya sampai kiamat.
Seharusnya dia hanya menggunakan alquran yang terjaga sebagai penuntun utama untuk mendapatkan akhirat.
Kalaupun dirinya menggunakan hadits, seharusnya dipastikan dulu bahwa hadits tersebut tidak bertentangan dengan alquran.
Ada tobat/syahadat menjelang kematian yang tidak diterima
Hadits yang berbicara mengenai kepastian keselamatan di akhirat, melalui kata-kata tauhid menjelang kematian, sebenarnya bertentangan dengan alquran.
Salah satu ayat yang bertentangan adalah mengenai kisah firaun sebelum kematiannya.
…hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
(QS 10:90-91)
Bagi yang belum tahu, status firaun tetap dalam kekafiran. Ini karena merupakan bagian dari doa nabi musa as, yang meminta supaya hati firaun dikunci mati dalam kekafiran (10:88-89).
Dari sini, ayat-ayat alquran di atas, jelas bertentangan dengan hadits mengenai kepastian keselamatan melalui syahadat sebelum kematian.
Menurut Alquran, firaun tetap meninggal dalam kekafiran dan status dirinya masuk neraka, syahadat dirinya tidak diterima.
Ini jelas berbeda dengan sudut pandang hadits yang memastikan bahwa siapapun yang bersyahadat sebelum kematian pasti masuk surga.
Bisa dikatakan, seseorang harus memilih salah satu antara alquran atau hadits sebagai tolok ukur kebenaran, tidak bisa keduanya.
Ini karena tobat menjelang kematian tidak bisa diuji
Selain dari kisah firaun, pertentangan lain berasal dari keharusan adanya ujian keimanan oleh Allah SWT.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
(QS 29:2)
Anggap ada seseorang yang bergelimang dosa, dan tidak pernah bertobat.
Kemudian dirinya mau mati, barulah dia bertobat di mulutnya.
Di sini, status keimanan dirinya jelas tidak bisa diuji oleh Allah SWT.
Padahal, status keimanan setiap orang, mau tidak mau, pasti dan akan selalu diuji oleh Allah SWT.
Jadi tidak ada cerita seseorang akan berstatus muslim atau beriman tanpa adanya ujian dari Allah SWT.
Malah sebetulnya, ujian ini mendahului ucapan di mulut.
Seseorang yang sudah menjalani ujian Allah SWT, dan lulus ujian, bahkan sebelum mulut dirinya benar-benar bertobat, insya Allah sebenarnya sudah dianggap bertobat.
Penentu utama status muslim atau pertobatan itu adalah hati seseorang, bukan lidah di mulut.
Kesaksian melalui lidah di mulut hanyalah lipstik bagi manusia di sekelilingnya, tidak lebih dari itu.
Lebih jauh, kalau hadits di atas itu benar mutlak, berarti tidak ada keadilan bagi orang bisu yang jelas tidak bisa berbicara sama sekali.
Akhir hidup Rasulullah saw tidak sesuai dengan hadits ini
Meskipun hadits mengenai syahadat menjelang kematian dianggap sahih, faktanya, dari riwayat yang juga sahih, situasi nabi muhammad saw justru tidak menunjukkan kesesuaian.
Semua riwayat mengenai meninggalnya nabi muhammad saw, selalu bercerita bahwa kata-kata terakhir kematian beliau adalah “umatku, umatku”, dan bukan kata-kata “laa ilaa ha illallaah”.
Kalau manusia paling agung dan terjamin masuk surga, meninggalnya saja tidak ditutup dengan kata-kata tauhid, maka ini menunjukkan bahwa sebenarnya kebenaran hadits tersebut memang layak dipertanyakan.
Para pemuja hadits biasanya akan beralasan bahwa ini karena beliau sudah pasti masuk surga, sehingga tidak perlu lagi mengucapkan kata-kata tauhid di ujung hidupnya dsb.
Ini jelas hanyalah pembelaan tanpa ilmu.
Salah satu makna lain dari hadits itu adalah sedemikian tingginya ucapan tauhid, sampai penyebutan di akhir hidup memberikan jaminan surga.
Tapi ketika manusia agung, hidupnya diakhiri dengan kata-kata “umatku”, dan bukan syahadat, apakah ini berarti kata “umatku” memiliki posisi lebih tinggi daripada kata-kata tauhid? Jelas tidak mungkin.
Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah karena ucapan kata-kata tauhid lewat mulut tidak akan bermakna apapun apabila hati seseorang tidak mempercayainya.
Tapi kata-kata tauhid yang tidak diucapkan, bahkan akan jauh lebih bernilai di sisi Allah SWT apabila hati seseorang sudah mempercayai dan mempraktekkannya.
Makna sebenarnya hadits kalimat tauhid menjamin masuk surga
Meskipun hadits mengenai kata-kata tauhid sebelum meninggal bisa dikatakan tidak benar, tapi utamanya ini hanya’lah kesalahan pemaknaan.
Hadits itu bisa dianggap sebagai hadits yang makna sebenarnya tidak sesuai dengan redaksi kata-katanya.
Apakah itu dikarenakan redaksi kata-katanya memang rusak, ataukah karena memang sifatnya yang situasional kondisional dsb.
Makna utama hadits tersebut, yang tidak bertentangan dengan alquran, sangatlah jelas, yaitu keharusan untuk selalu mempertahankan prinsip tauhid selama hidup.
Dari sini, diharapkan prinsip yang selalu ada di dalam hati dan pikiran seseorang adalah prinsip tauhid.
Situasi yang pada akhirnya membawa kesaksian di mulut sebagai penanda di akhir hidup.
Tapi ini bukan berarti orang yang mendekati kematian harus disibukkan dengan urusan akhirat apabila urusan dunianya belum beres.
Sebaliknya, kewajiban paling penting sebelum kematian sebenarnya adalah membuat wasiat kepada orang tua dan kerabat (2:180), istri (2:240), dan melunasi hutang.
Ini untuk memastikan kematian seseorang sudah diridhoi dan diikhlaskan oleh semua pihak yang kemungkinan besar memiliki masalah dengan dirinya.
Apabila dua hal ini dilakukan, insya Allah penegasan terhadap prinsip tauhid sudah masuk ke dalam hati seseorang.
Ini karena dirinya tahu dan sadar ada tanggung jawab dunia yang harus ditunaikan terlebih dahulu sebelum meninggal.
Sebaliknya, seseorang yang berkomat-kamit kata-kata tauhid, tapi jelas-jelas meninggalkan hutang besar atau kerusakan di muka bumi, maka tidak ada kegunaan dalam tindakannya itu.
Karena ini berarti keimanan dirinya kemungkinan besar tidak akan diterima Allah SWT.
Dan pada akhirnya, penentu status segala sesuatu itu adalah Allah SWT, bukan mulut manusia.
Hadits setiap muslim pasti masuk surga
Hadits lain terkait keselamatan di akhirat adalah mengenai kepastian setiap muslim yang akan keluar dari neraka.
Tidak peduli seberapa banyak dosa seseorang, selama dirinya memiliki keimanan tauhid sekecil apapun (redaksinya sebesar zarah), maka dirinya akan dikeluarkan dari neraka, dan masuk surga.
Hadits ini meskipun menawarkan berita gembira, tapi apabila dikaji, sebenarnya cenderung tidak membawa kebaikan apapun.
Kelemahan paling utama hadits ini adalah tolok ukur dari besar keimanan tauhid itu seperti apa? Keimanan itu jelas sesuatu yang abstrak dan tidak bisa dihitung atau diukur, menurut sudut pandang manusia.
Kita tidak bisa berkata memiliki keimanan sebesar bukit, atau batu atau biji dsb.
Memang penghitungan Tuhan jelas berbeda dengan manusia.
Tapi tanpa adanya penjelasan mengenai tolok ukur hitungan keimanan, hadits ini sebenarnya tidak menawarkan berita gembira apapun.
Masalahnya adalah, tidak ada ayat alquran atau hadits lain yang bisa dipakai untuk menjelaskan tolok ukur hitungan keimanan ini.
Anggap saja, tolok ukur besar keimanan itu adalah jangka waktu pernah bertauhid di dalam hati seseorang.
Di sini, setiap manusia, meskipun kafir mutlak, pada akhirnya tetap dianggap sebagai muslim.
Ini karena menurut hadits yang lain lagi, setiap manusia itu pada dasarnya lahir sebagai muslim, dan orang tuanya yang menjadikan dirinya sebagai yahudi atau nasrani.
Ini berarti, keimanan sebesar zarah itu sebenarnya pasti dimiliki setiap manusia dan setiap manusia pasti masuk surga.
Hadits ini lebih mirip berita gembira untuk orang kafir alih-alih umat islam.
Lebih buruk lagi, kalau tolok ukur keimanan sebesar zarah justru adalah tauhid murni yang benar-benar kuat.
Jadi perilaku tauhid yang tidak pernah diikuti dengan dosa kelas berat sama sekali.
Di sini, hadits ini tidak menawarkan berita gembira apapun, melainkan cuma harapan palsu.
Ini karena dosa-dosa kelas berat di alquran itu sangat banyak sehingga bisa dikatakan menghindarinya sangatlah sulit, kalau tidak mau dianggap mustahil.
Pendek kata, tanpa adanya pengetahuan tolok ukur keimanan, hadits ini sebenarnya tidak memberikan harapan apapun bagi seorang muslim.
Tidak pernah ada kebebasan dari neraka akibat perilaku buruk
Di dalam alquran, sangat banyak ayat yang berbicara mengenai dosa-dosa yang balasannya adalah siksa kekal di neraka.
Kata kekal yang dipakai ini (khaaliduun) sama seperti yang dipakai untuk menggambarkan siksa akibat kekafiran (2:39), dan kehidupan di surga (2:82).
Dengan menggunakan hukum kekonsistenan makna kata, maka ini berarti semuanya memiliki makna yang sama.
Sebagai misal adalah di ayat 2:275, digunakan kata kekal di neraka akibat tindakan memakan riba. Atau hukuman untuk orang yang berlindung kepada setan (2:257).
Contoh lain adalah di ayat (23:203), dimana ancaman kekal di neraka dikenakan untuk orang yang ringan timbangan kebaikannya.
Bahkan juga untuk mereka yang tidak menerapkan aturan alquran mengenai waris (3:14).
Redaksi yang sedikit berbeda adalah ancaman siksa neraka jahannam, yang bisa dianggap sama dengan situasi kekal karena juga dipakai untuk orang kafir (3:22).
Untuk redaksi jahanam, kata ini dipakai juga mengancam dosa akibat membunuh mukmin lain dengan sengaja (4:93).
Juga untuk orang yang kabur dari medan perang (8:16) dsb.
Pendek kata, di dalam alquran, banyak perilaku yang diancam dengan siksa kekal neraka.
Saking banyaknya, nyaris mustahil bagi siapapun yang benar-benar menghisab dirinya, untuk merasa dirinya pasti akan masuk surga.
Ini karena sangat sulit untuk terhindar dari semua dosa-dosa itu.
Jadi, ada pertentangan alquran dan hadits di sini.
Alquran menyatakan ada dosa yang membawa siksa kekal neraka, tapi hadits berbicara bahwa iman tauhid sekecil apapun akan melepaskan seseorang dari neraka.
Pertentangan ini dijawab para ulama konvensional dengan teori dua jenis dosa, dosa yang mengakibatkan kekafiran dan yang tidak menyebabkan kekafiran.
Untuk dosa yang tidak mengakibatkan kekafiran, maka status pelakunya adalah tetap seorang muslim dan bisa selamat dikeluarkan dari neraka, sebanyak apapun dosanya.
Sedangkan dosa yang membawa kekafiran, maka pelakunya akan kekal di neraka. Ini karena dosa-dosa tersebut bersifat menegasikan keimanan, dan pelakunya terkena status kafir.
Benar atau tidaknya teori ini, kita tidak akan memperdulikannya, karena kesimpulan akhirnya tetap sama.
Siapapun yang melakukan dosa kelas berat, akan berstatus kekal di neraka.
Hadits ini menimbulkan kesombongan
Tapi efek terburuk dari hadits ini adalah timbulnya kesombongan.
Isi hadits ini mirip dengan perilaku orang yahudi yang menganggap remeh siksa neraka.
Di dalam alquran, ada ayat yang bercerita mengenai kesombongan orang yahudi yang menganggap diri mereka pasti masuk surga.
Dan kalaupun mereka masuk neraka, maka itu cuma sebentar saja.
Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”.
QS 2:80
Di dalam alquran juga ada ayat yang bercerita mengenai lamanya perhitungan waktu oleh Allah SWT, dimana sehari di akhirat itu seperti seribu tahun di dunia (22:47, 32:5).
Karena masa waktu ini tergolong sangat lama, maka berarti penegasian utama alquran di ayat 2:80 bukanlah karena waktu yang cuma beberapa hari itu, tapi lebih pada kesombongan karena merasa pasti masuk surga.
Ini juga diperkuat di ayat lain dimana kenyataannya status siksa untuk mereka di neraka adalah kekal.
(Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
QS 2:81
Ini berarti pemahaman yahudi bahwa siapapun mereka akan masuk surga meskipun didahului dengan siksa neraka adalah suatu pemahaman yang sesat menurut alquran.
Apabila menurut alquran pemahaman seperti itu adalah sesat, bagaimana mungkin Allah SWT malah menetapkan aturan yang sama dalam islam? Yaitu setiap muslim pasti akan masuk surga, setelah ada yang menjalani pembersihan di neraka?
Bukankah kedua hal ini sebenarnya sama saja esensinya? Hanya berbeda cap stempel.
Apabila di yahudi stempelnya adalah yahudi, di islam stempelnya adalah islam.
Jawabannya sangat jelas.
Tidak pernah ada jaminan keselamatan di akhirat akibat cap stempel keagamaan.
Keselamatan di akhirat, semuanya memiliki penentu yang sama, yaitu ridho Allah SWT, beriman dan beramal saleh.
Makna sebenarnya hadits setiap muslim pasti masuk surga
Hampir sama seperti hadits perkataan tauhid sebelum kematian, hadits setiap muslim pasti keluar dari neraka (masuk surga) cenderung memiliki makna yang jauh berbeda dengan redaksinya.
Makna utama hadits ini adalah prinsip untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah SWT.
Intinya, Tuhan itu Maha Pengampun dan bisa dengan mudah menyelamatkan kita dari dosa apapun.
Seberapa banyak apapun dosa kita, selalu ada kesempatan untuk bertobat.
Bertobat ini pun bukan suatu bentuk anjuran, melainkan perintah.
Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
(QS 57:21)
Suatu hal yang pasti, jangan pernah menjadikan hadits tersebut sebagai alasan untuk menganggap remeh siksa Tuhan. Karena faktanya, redaksi hadits ini sebenarnya cenderung bertentangan dengan isi alquran.
Lebih jauh, hadits ini mempermudah timbulnya sikap menganggap remeh neraka, dimana itu adalah salah satu bentuk kesombongan terburuk.
Cara masuk surga menurut Alquran
Satu hal penting yang perlu dipahami, masuk surga itu sebenarnya sepenuhnya prerogatif Allah SWT.
Di dalam alquran, kalau ditelusuri, tidak ada satupun amalan yang secara jelas menjamin surga.
Semua janji mengenai masuk surga di alquran selalu berbentuk janji yang umum, beriman dan beramal saleh, mati berjuang di jalan Allah dsb.
Semuanya memiliki kesamaan yaitu bersifat umum dan abstrak, tidak jelas, tidak bisa dipastikan.
Terhadap kegiatan yang paling mudah saja, beriman, karena cuma di mulut, siapapun tidak bisa meyakini bahwa dirinya telah benar-benar beriman menurut Allah SWT.
Ini karena semua jenis keimanan haruslah diuji terlebih dahulu sesuai ayat 29:2.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
(QS 29:2)
Status ujian iman itu seperti apa? Tidak ada penjelasan apapun di alquran mengenai hal ini.
Kalau makna beramal saleh memang lumayan jelas yaitu berbuat baik.
Tapi masalahnya juga berbuat baik yang seperti apa? Sebanyak apa? Tidak ada penjelasan apapun yang bisa membuat seseorang memastikan dirinya sudah memiliki status beramal saleh.
Satu-satunya cara memastikan adalah dengan melakukan semua amal perbuatan baik menurut alquran secara total. Dan menghindari diri dari semua bentuk dosa yang mengancam pelakunya dengan siksa kekal neraka.
Tapi bisa dibilang ini hal yang mustahil untuk dilakukan.
Bahkan andaikatakan sudah berhasil dilakukan dengan baik, bisa saja timbul kesombongan, yakinkah bahwa diri kita bukan orang sombong menurut Allah SWT?
Siapapun yang pada masa saat ini bisa menjamin siapapun masuk surga, dia pastilah seorang pembohong besar.
Jangankan menjamin orang lain, dirinya sendiri pun belum tentu masuk surga. Dan ini bukan hanya berkaitan dengan pribadi, tapi juga amalan.
Perilaku rasulullah saw tidak menunjukkan kepastian masuk surga
Dari catatan sirah, sangat jelas bahwa perilaku nabi muhammad saw dan para sahabat bukanlah perilaku manusia yang merasa dirinya pasti masuk surga.
Mereka, insya Allah pasti masuk surga.
Tapi perilaku mereka selalu menunjukan sebagai diri manusia yang takut neraka.
Mereka selalu bertobat setiap saat, menghukum diri sendiri apabila merasa merasa ada kesalahan yang dilakukan.
Tidak ada ceritanya mereka membanggakan amalannya. Bahkan apabila mau menasehati, hal itu dilakukan secara diam-diam, agar tidak merendahkan orang yang dinasehati itu.
Ini sangat berbeda dengan kelakuan manusia sombong ahli neraka.
Mereka selalu merasa dirinya ahli surga, bersih tanpa cela dan dosa, tidak bertobat, dengan sombong suka menghakimi orang lain.
Sok menasehati tapi dilakukan dengan merendahkan di depan umum.
Situasi semacam itu hanya muncul karena mereka sudah yakin masuk surga. Jadinya mereka merasa memiliki banyak waktu untuk mengurusi ibadah orang lain.
Orang yang merasa dirinya punya banyak dosa, takut neraka, jelas tidak akan menghabiskan waktu dengan sok suci mengurus ibadah orang lain.
Dirinya sendiri saja belum tentu selamat kok malah mengurus keselamatan orang lain.
Siapapun yang merasa dirinya ahli surga, maka itu tanda bahwa dirinya ahli neraka
Umar ra
Tujukan semua kebaikan hanya untuk Allah SWT
Meskipun kita melakukan perbuatan baik sebanyak apapun, tapi sebenarnya yang akan membawa kepada keselamatan di akhirat itu hanya satu, rahmat Allah SWT, ridhoNya, izinNya, tidak ada lainnya lagi.
Jadi bukan amalan sebanyak apapun, amalan ritual atau sosial, tapi Allah SWT.
Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(QS 5:40)
Ibaratnya semua perbuatan baik itu hanyalah upaya untuk “mengambil hati” Allah SWT, supaya meridhoi kita.
Sebanyak apapun perbuatan baik, kalau Allah SWT tidak meridhoi, maka Dia dengan mudah memberikan kalkulasi kenikmatan yang pernah kita dapatkan di dunia. Dimana hasilnya semua amal ibadah kita niscaya tidak akan mampu untuk membayar kenikmatan dunia yang kita terima.
Dari sini, sangat penting untuk selalu menujukan perbuatan baik kita untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
Jadi kita melakukan perbuatan baik bukan karena alasan kemanusiaan, atau itu adalah sesuatu yang menguntungkan kita dsb, tapi karena itu adalah perintah Allah SWT.
Selalu-lah berusaha mengatributkan semua perbuatan baik, yang kita yakini benar-benar membawa kemashlahatan terhadap setiap mahkluk hidup, hanya untuk Allah SWT.
Jadi kita melakukan perbuatan baik karena kita menjalani perintahNya, karena kita diberikan kesempatan olehNya, diberikan ilmu olehNya dsb.
Penutup
Bisa dikatakan, di dalam alquran, hal terpenting sebenarnya bukanlah status keselamatan di akhirat itu sendiri, tapi usaha untuk terus mendapatkannya.
Inilah sebabnya mengapa di dalam alquran, status keselamatan di akhirat bisa dikatakan tidak akan pernah mungkin bisa dipastikan. Ini agar seseorang tidak akan pernah merasa aman dari ancaman siksa neraka, dan tidak akan pernah merasa sudah pasti masuk surga.
Pada akhirnya, diharapkan seseorang menjadi pribadi yang selalu mengintrospeksi dirinya. Dia akan selalu berusaha menjauhkan diri dari dosa dan juga selalu bertobat untuk menutupi kesalahan yang tidak disadari.
Lebih jauh, dirinya juga akan selalu beramal saleh melakukan perbuatan baik untuk orang lain. Semuanya dilakukan dengan selalu menujukan untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Anda merasa tulisan ini bermanfaat?
Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih