My Blog

Kembali ke Alquran – Alasan pribadi

kembali ke alquran

https://www.pexels.com/photo/quran-36704/

Pengantar

Apabila sebelumnya kita sudah membahas mengenai alasan teologis dan logika mengapa umat islam harus kembali ke alquran, sebagai pedoman hidup. Maka di sini kita beralih kepada alasan pribadi, yang membawa kebaikan dan keuntungan bagi diri setiap muslim.

Artikel ini adalah tulisan 6 dari 6. Anda dapat membaca lainnya 1 / 2 / 3 / 4 / 5
Sumber feature image

Basmallah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya

Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Pendahuluan

Alasan untuk kembali ke alquran sebagai sumber utama dan satu-satunya ajaran islam, tidak hanya dikarenakan alasan teologis yaitu perintah alquran. Atau alasan logika, kaena permasalahan dalam hadits yang sangat banyak. Tapi juga alasan pribadi, yang membawa kebaikan dan keuntungan untuk setiap pribadi individu.

Meskipun terlihat subyektif, tapi alasan disini sebenarnya sangatlah obyektif.
Ini karena efek di sini akan terjadi untuk muslim manapun yang memang kembali ke alquran sebagai penuntun hidupnya.
Jadi alasan pribadi di sini bukan hanya menurut pribadi penulis, tapi pribadi setiap orang, setiap muslim.

Agama yang mudah

Pemahaman islam yang seluruhnya berdasarkan alquran jauh lebih mudah dan sederhana daripada pemahaman yang bercampur dengan hadits.
Kemudahan ini bukan hanya terkait segi ritual, yang jelas mutlak jauh lebih mudah. Tapi juga segi kajian agama, pemahaman prioritas keagamaan dsb.

Ritual agama yang jelas dan sempurna

Dengan kembali ke alquran, kegiatan ritual dalam islam akan menjadi lebih mudah dan tidak menyulitkan sebagaimana yang terjadi dengan hadits.

Sebagai contoh adalah tatacara shalat.
Islam berdasarkan alquran bisa dikatakan membebaskan cara setiap muslim melakukan shalat.
Memang ada ayat di alquran mengenai kegiatan berdiri, ruku, sujud dsb. Tapi tidak ada kejelasan sama sekali bahwa bentuk berdiri, ruku, sujud adalah suatu bentuk posisi tubuh.
Sebagai misal di ayat 2:238, yang paling mendekati, makna kata berdiri tidak bisa dimaknai sebagai berdiri bentuk tubuh melainkan lebih pada sifat teguh (hukum KMK, ayat 4:127).
Atau sujud di ayat 4:102, tidak bisa dimaknai juga sebagai posisi tubuh dengan dahi menyentuh tanah/lantai, karena lebih bermakna merendahkan diri (hukum KMK, ayat 16:49).

Dari sini, bentuk posisi tubuh dalam shalat, bukanlah suatu hal yang mutlak atau spesifik, tapi bersifat bebas.
Sebagai misal seseorang yang sakit dan tidak bisa berdiri, maka dia shalat dalam keadaan duduk atau tidur, maka posisi duduk atau tidur itu sudah bisa dianggap berdiri menurut alquran.

Memang situasi ini bisa juga ditemukan dari hadits, bahwa kalau tidak mampu, bisa shalat dalam keadaan duduk atau tidur dsb.
Tapi sangat jelas juga, batasan kapan kemudahan ini bisa dilakukan atau tidak, tidak diketahui setiap orang.

Tapi dari alquran, seorang muslim akan jelas mengetahui, bahwa hal terpenting dalam posisi shalat adalah situasi ketaatan di dalam dirinya.
Jadi ketika berdiri, dirinya harus memunculkan ketaatan dalam bentuk teguh menghadapi semua tantangan di dunia hanya untuk Allah SWT.
Lalu ketika sujud, maka ketaatan yang ada di dalam hatinya adalah ketaatan merendahkan diri di hadapan Allah SWT dst.

Dari sini, seorang muslim, tidak memerlukan bantuan fatwa ulama, atau petunjuk ulama dsb.
Ini karena sangat jelas, selama dia bisa menghadirkan sifat ketaatan berdiri atau ruku atau sujud untuk Allah SWT, maka apapun bentuk posisi tubuhnya tidak akan menjadi masalah.

Tidak ada kesulitan yang tidak perlu

Maskipun sangat jelas bahwa ajaran islam itu mudah, tapi situasi sebenarnya dari islam berdasarkan hadits tidaklah seperti ini.
Memang ada banyak jalan kemudahan, tapi ada banyak juga tambahan kesulitan.
Banyak aturan tambahan yang tidak ada di alquran, tapi muncul di hadits. Dimana juga tersedia stempel ahli neraka, sesat dsb apabila tidak melaksanakan aturan hadits tersebut.

Sebagai misal adalah kewajiban berjenggot dan bercelana cingkrang (di atas mata kaki).
Dua aturan ini bisa dikatakan sering dipropagandakan oleh para pemuja hadits.
Siapapun yang tidak melakukannya, maka dicap ahli neraka, pelaku bidah dsb.

Meskipun tingkat kesulitannya bisa dikatakan kecil, tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa aturan semacam ini jelas hanya menambah kesulitan hidup.
Sebagai misal seseorang dimana pekerjaannya menuntut dirinya untuk tidak memelihara jenggot atau keharusan berpakaian sesuai aturan, sebagai misal profesi sebagai atlit, aparat hukum dsb.
Juga efek dari aturan tersebut terhadap perbaikan diri seseorang bisa dikatakan tidak eksis sama sekali.

Memang aturan tersebut kadangkala juga dianggap sunah, tidak wajib.
Tapi tetap saja, bayangan yang pasti muncul adalah seseorang yang tidak mencintai sunnah rasulullah saw apabila dirinya tidak melaksanakan aturan tersebut.

Dengan kembali ke alquran, semua kesulitan tambahan tersebut jelas tidak akan muncul.
Ini karena alquran memang tidak memperdulikan semua aturan yang tidak signifikan dalam membawa perbaikan kepada diri siapapun.

Semua aturan alquran, yang wajib, secara obyektif memang mutlak bermanfaat dalam pengembangan dan perbaikan individu setiap muslim.
Atau memang menghindarkan setiap pribadi muslim dari keburukan yang nyata.
Sedangkan apabila aturan tersebut berstatus tidak wajib, berupa nasehat, maka tetap saja ada bisa membawa kepada pelajaran penting dalam kehidupan.
Ini sangat berbeda dengan aturan hadits, yang tingkat kebaikannya bisa dikatakan minimal dan tidak obyektif.

Memahami mana yang penting dan tidak penting

Dengan kembali ke alquran, seorang muslim akan dapat membedakan mana hal penting dalam beragama, dan mana yang tidak, dengan mudah.
Selama sesuatu ada ketentuannya dalam alquran, maka sesuatu tersebut adalah hal penting yang layak untuk dibahas.
Tetapi apabila tidak ada ketentuannya di dalam alquran, maka berarti hal tersebut adalah sesuatu yang tidak layak untuk dipedulikan.
Di sini pilihan setiap orang adalah untuk diri mereka dan tidak layak untuk menjadi bahan perpecahan atau caci maki bahkan fitnah.

Sebagai misal dalam permasalahan jenggot, celana cingkrang dan shalat berjamaah.
Permahaman berdasarkan hadits, tidak bisa membedakan semuanya. Bisa dianggap semua hal tersebut sama pentingnya.
Tapi berdasarkan alquran semata, sangat jelas bahwa shalat berjamaah adalah suatu hal yang jauh lebih vital dan penting daripada lainnya.

Ini karena shalat berjamaah bisa dianggap dibahas dan diperintahkan oleh alquran. Suatu hal yang jauh berbeda dengan jenggot atau celana cingkrang yang bahkan tidak dipedulikan alquran sama sekali.

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.

QS 2:43

Contoh lainnya adalah dalam hal tatacara shalat.
Sebagai misal pada posisi berdiri, berada dimanakah tangan seseorang? Apakah di perut, dada atau tidak perlu bersedekap sama sekali.
Ketika menjatuhkan diri untuk sujud, duluan mana tangan atau lutut?
Atau ketika sujud, apakah hidung termasuk bagian yang harus menyentuh lantai/tanah atau tidak? dsb

Tapi dengan berlandaskan pada alquran semata, seseorang akan mengetahui bahwa semua hal itu tidaklah penting untuk dibahas.
Ini karena memang alquran tidak membahasnya sama sekali, yang artinya tidak layak untuk dipedulikan.

Hal terpenting adalah apakah shalat seseorang sudah bisa membuatnya tercegah dari perilaku keji dan mungkar?
Tidak ada gunanya membahas kosmetik shalat apabila shalat itu sendiri tidak bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Kalau diibaratkan seperti seseorang yang membahas apakah seharusnya pergi menggunakan mobil atau motor menuju suatu tempat, padahal sangat jelas tempat tujuannya itu sudah tutup.

Pemahaman prioritas keagamaan dengan mudah

Islam yang didasarkan pada hadits cenderung tidak memiliki prioritas yang jelas.
Hadits terlalu banyak mengatur ini dan itu, dan tidak jelas mana yang menjadi prioritas utama kehidupan.

Hanya dengan kembali ke alquran, maka tolok ukur prioritas dalam kehidupan menjadi jelas dan mudah.
Prioritas dalam hidup, menurut alquran, utamanya ada dua, yaitu menyembah Allah dan menjadi khalifah di muka bumi, menciptakan rahmatan lil aalamiin.
Semuanya bisa disatukan ke dalam prinsip basmallah.

Allah SWT bercerita bahwa dia tidak menciptakan manusia kecuali untuk menyembahNya.

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

QS 51:56

Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”…

QS 2:30

Allah SWT tidak mengutus rasul, yang harus diteladani pengikutnya, kecuali untuk menjadi rahmatan lil alaamiin.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

QS 21:107

Tidak perlu pencarian ke sana kemari, tafsir mendalam ke sana sini dsb. Apalagi pengecekan perawi dan isi berita.
Semua permasalahan dalam hidup, dasar pilihannya sederhana dan mudah.

Apabila ada situasi, dimana salah satunya mendekatkan kita kepada Allah dan tidak, maka jelas kita harus memilih yang mendekatkan kepada Allah SWT.
Apabila ada pilihan, dimana salah satunya bisa membawa rahmat di muka bumi dan satunya lagi tidak, maka kita jelas harus memilih yang membawa rahmat.
Tidak diperlukan lagi yang namanya fatwa ulama, ijtima dsb.
Gunakan saja logika akal sehat dan hari nurani, semua jawabannya sudah jelas.

Untuk diketahui juga, kedua hal itu tidak mungkin bertentangan.
Tapi apabila terasa ada pertentangan, maka pilihlah prinsip rahmatan lil aalamiin.
Ini karena asumsi ketaatan bisa saja salah, kita bisa saja merasa semakin dekat kepada Allah SWT, padahal sebenarnya malah semakin jauh.
Tapi prinsip rahmatan lil aalamiin sangat jelas dan obyektif.

Agama yang logis

Islam berdasarkan alquran adalah agama yang sangat menjunjung tinggi akal sehat dan logika kemanusiaan.

Ini adalah sesuatu yang sangat berbeda dengan islam berdasarkan hadits yang cenderung tidak menggunakan akal sama sekali.
Umat islam berdasarkan hadits cenderung harus bersikap taklid, tidak berpikir dan menerima mentah-mentah informasi tanpa konteks sama sekali.
Malah sikap kritis sangat tidak disukai, karena jelas bisa mengganggu otoritas keagamaan.
Tidak ada penggunaan akal sama sekali, umat diharapkan seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, terima saja mau dibawa kemana, termasuk ke neraka.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

QS 6:116
Mir9978 / Pixabay

Diferensiasi dengan agama-agama lain

Hanya dengan kembali ke alquran maka islam akan memiliki status berbeda (diferensiasi) dengan agama lainnya.

Dalam berbagai agama di dunia, logika seringkali ditinggalkan untuk digantikan oleh dogma yang tidak logis dan harus diterima tanpa ada pertanyaan atau kritik.
Ini sangat berbeda dengan alquran yang banyak memberikan pujian dan tantangan kepada manusia untuk menggunakan akalnya.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

QS 3:190

Dan dalam beberapa situasi malah mengecam manusia yang tidak mau menggunakan akalnya.

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

QS 10:100

Alquran mendorong penggunaan logika dan akal manusia ketika mereka beragama, memberikan tantangan untuk berpikir logis dan kritis.
Hal ini pada akhirnya akan menjadikan islam sebagai satu-satunya agama yang bisa mengikuti perkembangan teknologi dan zaman.
Sesuatu yang berbeda dengan agama lain yang tidak bisa mengikuti perkembangan dan terkungkung dalam dogma.

Situasi ini tidak akan pernah tercapai apabila hadits masih menjadi salah satu sumber hukum islam.
Hadits memiliki banyak pertentangan dan absurditas isi yang tidak akan pernah bisa bersatu dengan logika kemanusiaan dan perkembangan zaman.
Islam dimana alquran bercampur dengan hadits tidak memiliki diferensiasi apapun dengan agama lain yang berisi dogma.

Otomatisasi penggunaan akal sehat dan nurani dalam beragama

Kembali ke alquran akan memaksa setiap muslim untuk menggunakan akal serta nuraninya dalam memahami agama.

Sangat jauh berbeda dengan pemahaman dari hadits yang sifatnya parsial dan tidak perlu kegiatan berpikir sama sekali, pemahaman terhadap alquran memerlukan kajian mendalam secara menyeluruh, logis dan konsisten (TIA).
Bahkan meskipun seseorang pengkaji alquran tidak menggunakan TIA, dirinya tetap akan terpaksa melakukan kajian ayat alquran secara menyeluruh.
Ini karena susunan ayat alquran yang bisa dikatakan tidak teratur tapi memancing rasa penasaran yang kuat.

Siapapun yang membaca ayat alquran, dan tidak bisa menemukan pesan atau maknanya, maka dirinya seakan dipaksa oleh rasa penasaran dirinya untuk mencari ayat-ayat alquran lain yang menceritakan hal tersebut.
Jadi, mau tidak mau, siapapun pengkaji alquran, dirinya akan melakukan kegiatan pengkajian itu secara dalam dan menyeluruh.
Siapapun akan dipaksa untuk melakukan kegiatan berpikir mendalam dan menggunakan logika serta nurani mereka ketika berusaha memahami alquran.

Tanpa adanya kegiatan tersebut, maka ayat alquran cenderung tidak akan pernah bisa dipahami.
Akibatnya, siapapun yang mengkaji alquran, maka dirinya tidak akan bisa memisahkan agama dari logika dan nurani.
Pada akhirnya, pemahaman dan pelaksanaan agama islam akan mutlak bersatu dengan logika, nurani dan praktek kehidupan sehari-hari secara otomatis.

Memang tetap saja bisa muncul pemahaman parsial, dimana seseorang hanya membaca satu-dua ayat alquran lalu merasa bahwa dirinya sudah memahami keseluruhan alquran.
Tapi perilaku semacam ini utamanya bersumber dari hadits, karena dirinya sudah terbiasa dibuai oleh hadits, maka dirinya hanya mencari alasan pembenaran dari alquran.
Di sini, alquran hanya menjadi alasan pembenaran egoisme pribadi, tidak lebih dari itu.

Menghilangkan taklid

Dengan kembali ke alquran, seorang muslim akan secara otomatis menghindarkan dirinya dari perilaku taklid kepada ulama seperti yang selama ini banyak ada di hadits.

Selama ada aturan islam yang berasal dari hadits, dimana hadits itu seringkali memuja otoritas ulama secara berlebihan, maka tidak ada jalan untuk mencegah umat islam bertaklid kepada mereka.
Bahkan kelompok islam konvensional yang paling sering membanggakan sikap untuk tidak bertaklid, seperti salaf, sangat tampak ketaklidannya kepada ulama mereka.

Paksaan ketaklidan terjadi utamanya karena sifat hadits yang sangat mudah untuk dipahami, tidak perlu kajian sama sekali, dan isinya yang seringkali absurd.
Dari sini, apabila terjadi kebebasan pemahaman dalam islam, terhadap hadits, secara pasti akan terjadi kerusakan dalam praktek agama islam.
Ini karena akan muncul banyak pemahaman agama islam yang saling bertentangan satu dengan lainnya.

Dari sinilah, terjadi paksaan umat islam untuk tidak boleh mengkaji agama, dan menyerahkan otorisasi pemahaman kepada ulama mereka.
Ini pun seringkali tetap tidak membantu umat yang bodoh itu dari sikap merasa pasti benar.
Dan dari sisi para ulama itu sering menimbulkan perasaan kesombongan sebagai wakil Tuhan di muka bumi.

Semua situasi ini sangat berbeda dengan aturan alquran.
Di dalam alquran, siapapun bebas untuk mengakses ayat alquran dan memikirkannya.
Tapi dikarenakan ada suatu paksaan dari alquran agar pengkajinya menggunakan akal sehat dan nurani mereka secara mendalam, dari sini, hasil kajian alquran tidak akan benar-benar bebas tapi juga bertanggung jawab.
Di sini tidak akan timbul ketakutan terjadinya perpecahan umat islam sama sekali.
Ini karena semua pengkajian alquran, oleh siapapun, akan dilakukan dengan mendalam dan bertanggung jawab, secara otomatis.

Dari sini, ketika seseorang sudah terbiasa berpikir sendiri, maka dorongan dirinya untuk bertaklid akan menghilang secara total.
Pada akhirnya, setiap muslim, tidak lagi memiliki keinginan untuk bertaklid kepada siapapun, melainkan mengkaji alquran secara langsung dan bebas, tapi bertanggung jawab.

Agama yang humanis

Pemahaman islam berdasarkan alquran semata jauh lebih humanis daripada islam yang bercampur dengan hadits.

Sebagai misal, meskipun di dalam ayat-ayat alquran ada perintah untuk berperang, tetapi semuanya memiliki konteks yang jelas.
Dalam alquran juga sudah jelas batasan yang bisa dibolehkan dan tidak dibolehkan ketika berperang.
Harus diakui, ada banyak hadits yang sejalan dengan aturan alquran ini.

Tapi, harus diakui juga, ada banyak hadits, yang isinya bertentangan dengan ayat alquran mengenai perang, dan memiliki status yang sahih.
Padahal, hadits cenderung tidak memiliki konteks cerita sama sekali.
Ini berarti segala bentuk ketetapan hadits bersifat bebas dilakukan dalam berbagai macam situasi, terserah kepada pelakunya.

Contoh isi hadits yang zalim

Dalam perang, islam berdasarkan alquran tidak memiliki landasan bagi siapapun, untuk melakukan tindakan memperkosa tawanan wanita.
Ini sangat berbeda dengan pemahaman hadits, dimana ada banyak hadits dengan tingkatan sahih yang bisa dipakai untuk membenarkan tindakan tersebut.

Siapapun yang menginginkan perilaku damai, tidak berlebihan, ada hadits yang bisa dijadikan landasan.
Siapapun yang menginginkan perilaku zalim, pemerkosa, ada juga hadist yang bisa dipakai.
Ini cuma masalah pilihan hadits yang dipakai sebagai dasar perilaku.

Selama umat islam masih menjadikan hadits sebagai bagian dari hukum agama yang setara dengan alquran, maka wajah islam sebenarnya hanyalah cerminan pemeluknya dan bukan dari ajaran islam itu sendiri.
Islam akan damai apabila penganutnya adalah pribadi yang damai, dan akan menjadi jahat apabila penganutnya adalah pribadi yang jahat.

Di sini wajah jahat juga tidak bisa disalahkan sama sekali.
Ini karena mereka memiliki landasan hadits yang setara tingkat kesahihannya dengan wajah damai.
Tidak ada hal apapun yang bisa dilakukan oleh wajah damai untuk menyatakan bahwa pemahaman jahat adalah sesuatu yang salah, selama landasan haditsnya masih diakui sebagai sesuatu yang dapat berposisi setara dengan alquran.

https://wikiislam.net/wiki/Qur’an,_Hadith_and_Scholars:Rape
Tanggapan TIA mengenai ayat alquran terkait akan dibahas di artikel lain.

Meneladani rasulullah dengan baik dan benar

Hanya dengan kembali ke alquran umat islam bisa kembali meneladani Rasulullah SAW dengan sifat-sifat kenabian yang penuh hikmah dan keteladanan.

Dalam versi hadits, bahkan termasuk yang sahih, tidak semua kisah Rasulullah SAW bisa dikatakan membawa suri tauladan yang baik bagi umat islam.
Ada kisah beliau yang memang menunjukkan budi pekerti agung, tapi tidak sedikit pula kisah dimana Rasulullah SAW digambarkan sebagai manusia yang bengis, kejam, maniak seks bahkan pedofil.
Rasulullah SAW dalam versi hadits adalah manusia kontradiksi, dimana suatu ketika dapat berperilaku agung, tapi di waktu lain tidak memiliki sifat kenabian yang layak sama sekali.

Ini sangat berbeda dengan sifat beliau dalam alquran dimana ketika beliau sedikit menyimpang saja sudah mendapatkan teguran dari Allah SWT. Bahkan meskipun kesalahan yang terjadi bisa dikatakan bersifat manusiawi.
Hanya dengan kembali ke alquran seutuhnya, seorang muslim bisa memahami keluhuran budi pekerti beliau. Untuk mencontohnya sebagai contoh alquran berjalan,
Dari sini seorang muslim tanpa keraguan akan membuang semua hadits yang menggambarkan rasulullah saw secara buruk, semua perilaku beliau yang tidak sejalan dengan misi rahmatan lil aalamiin dan akhlaqul karimah.

Tanpa kembali ke alquran, selama hadits sahih masih diterima sebagai bagian dari sumber hukum islam, gambaran rasulullah saw yang bengis dan kejam serta pedofil tidak bisa dihilangkan sama sekali.
Dari sini umat islam manapun akan terpaksa menerima serangan dari pembenci islam yang tidak mungkin dibantah sama sekali, karena memang hal itu (hadits sahih) adalah bagian dari iman yang wajib mereka percayai dan terima secara mutlak.

Kesatuan beragama tapi bertoleransi terhadap perbedaan

Kembali ke alquran sepenuhnya sebagai sumber hukum dan dasar agama akan mengembalikan umat islam kepada kesatuan yang tidak terbantah lagi diantara mereka.

Berbeda dengan pemahaman terhadap hadits yang rentan dibantah dan ditolak siapapun dengan dalih status jalur transmisi, sekuat apapun periwayatnya, penerimaan terhadap alquran bersifat penuh dan menyeluruh dan merupakan bagian dari iman islam.
Juga berbeda dengan hadits yang jumlah pastinya tidak ketahuan, tidak memiliki tolok ukur baku yang mutlak, alquran bersifat tetap dan jelas isinya.
Alquran sudah memiliki isi yang jelas yaitu 30 Juz, 114 surah dan 6236 ayat. Ada banyak versi mengenai jumlah ayat yang biasanya terkait tanda berhenti dsb, tapi secara baku dan umum yang diterima adalah 6236 ayat.

Dengan kembali ke alquran, umat islam akan dipaksa untuk bersatu pada hal-hal yang memang harus disatukan.
Dan untuk hal-hal yang memang tidak bisa dipersatukan, tidak ada jalan penyatuan, maka jalan tersisa yang harus diambil adalah keharusan bertoleransi terhadap perbedaan.

Ini sangat berbeda dengan pemahaman hadits yang tidak memerlukan logika dan nurani dan pada akhirnya tidak mendorong timbulnya sifat menghargai pemahaman orang lain.
Pemahaman terhadap alquran memaksa manusianya untuk harus berpikir dan bernurani yang secara otomatis memaksa manusianya untuk menerima fitrah manusia yaitu perbedaan paham.

Lagipula apabila terhadap perbedaan agama saja dimana sudah jelas kekafiran dan kebenaran tidak boleh ada paksaan sama sekali, maka secara otomatis pula hal yang sama haruslah berlaku untuk perbedaan pemahaman agama.

Keseimbangan ibadah sosial dan pribadi

Kembali ke alquran akan membuat seorang muslim tidak lagi memandang rendah dan enteng terhadap perilaku sosial dirinya. Berbeda dengan pemahaman hadits dimana perilaku sosial seringkali dianggap tidak begitu penting untuk dijaga, karena dosa-dosa gampang untuk diampuni.

Akibat pengaruh hadits, amalan yang sering diutamakan adalah amalan ritual pribadi kepada Tuhan.
Apakah ini berbentuk shalat sunnah, puasa sunnah, dsb.
Bukan berarti bahwa hal tersebut tidak penting, tapi permasalahannya adalah seringkali umat islam meninggalkan amalan sosial yang tidak kalah pentingnya.
Maraknya perilaku sombong, intoleran, kegemaran mentakfir adalah contoh tak terbantahkan mengenai hal ini.

Di dalam alquran, amalan ritual bisa dikatakan tidak pernah dibahas mendetil, ini berarti setiap muslim harus menempatkan ritual sebagai hubungan seseorang dengan Allah SWT secara langsung, yang tidak perlu diurusi oleh orang lain.
Jauh berbeda dengan amalan sosial yang dibahas dan dijelaskan secara mendetil, apa itu perilaku riba, zalim, fasik dsb.
Bahkan apabila ditelusuri, ancaman dosa pembawa siksa kekal di neraka, hanya satu yang berkaitan dengan keimanan yaitu syirik dan kekafiran.
Sisanya semua berkaitan dengan sifat sosial seperti riba, zalim, membunuh dsb.

Dengan kembali ke alquran, seorang muslim tidak akan lagi berat di amalan ritual tapi hampa di amalan sosial.
Dari sini, perilaku setiap muslim, pada akhirnya akan sejalan dengan prinsip rahmatan lil aalamiin dan akhlaqul karimah.
Sesuatu yang merupakan inti utama dari sifat meneladani rasulullah saw.

Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Anda merasa tulisan ini bermanfaat?

Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih


Exit mobile version