Pengantar
Bagaimana seharusnya karakter seorang muslim alquran? Yang hidupnya didasarkan pada aturan-aturan alquran? Apakah mutlak akan lebih baik? Artikel ini menunjukkan pola pikir yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim alquran, yang mendasarkan hidupnya pada prinsip tafsir ilmiah alquran atau quranisme. Di sini penggunaan kata muslim dan islam alquran akan dipergantikan untuk keperluan SEO.
Artikel ini adalah tulisan 1 dari 2, anda dapat membaca artikel berikutnya
Basmallah
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya
Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Pendahuluan
Sebelum memutuskan untuk menjadi muslim alquran, yang hidupnya berlandaskan kepada aturan alquran, melalui tafsir ilmiah alquran (TIA), atau quranisme, siapapun perlu memahami karakternya terlebih dahulu.
Apabila dirasakan cocok, maka insya Allah ini adalah jalan terbaik.
Apabila tidak cocok, juga bukan masalah, karena pada akhirnya perbedaan itu adalah sunnatullah.
Dan selama bisa saling menghormati dan bertoleransi, maka insya Allah akan menjadi rahmat.
Seseorang yang mendasarkan perjalanan hidupnya sebagai muslim alquran berlandaskan TIA seharusnya akan memiliki karakter-karakter ini dalam kehidupannya.
Ini utamanya akibat efek dari aturan dasar TIA (empat hukum dasar).
Jadi memang nyaris tidak mungkin dihindari.
Memang selalu ada kemungkinan timbul kecenderungan ekstrim, seperti pada pemahaman konvensional.
Tapi dikarenakan hukum dasar TIA sendiri bisa dikatakan toleran, maka kecenderungan ini seharusnya akan sulit terjadi.
Bisa dikatakan, dalam TIA, keharusan bertoleransi terhadap perbedaan pemahaman agama adalah sesuatu yang bersifat menyatu dengan diri pribadi.
Memang selalu ada situasi ketika suatu pemahaman yang rusak harus dilawan.
Tapi tanpa kewenangan perintah dari ulil amri, semua perbedaan pendapat haruslah dikembalikan kepada Allah dan rasulNya.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul…
QS 4:59
Sebenarnya juga, karakter muslim alquran yang ada di sini bukan monopoli pemahaman alquran dari TIA.
Semua pemahaman islam berdasarkan alquran semata (quranisme) cenderung memiliki karakter muslim alquran yang sama.
Meskipun begitu, karena sudah jelas TIA tidak bisa berbicara atas nama quranisme, maka karakteristik yang ada di sini disebut sebagai karakteristik TIA, bukan quranisme.
Muslim yang intisari hidupnya dilandasarkan pada alquran seutuhnya, yang dipahami dengan TIA, ini akan disebut sebagai muslim atau muslim alquran. Sedangkan untuk muslim umum yang kehidupannya berlandaskan pada hadits akan disebut sebagai muslim konvensional.
Ketidakpedulian terhadap hadits
Salah satu karakter muslim alquran yang paling terlihat berbeda dengan konvensional adalah ketidakpedulian terhadap hadits. Hadits tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang suci, terjaga, pasti benar dsb. Hadits hanya dianggap sebagai kumpulan kata-kata bijak atau bahan pelajaran untuk umat islam, tidak lebih dari itu.
Seorang muslim tidak akan peduli dengan status kesahihan hadits, apakah sahih, maudhu (palsu), dhaif (lemah) dsb. Tidak peduli juga statusnya ahad, mutawatir dsb. Semua ilmu terhadap kesahihan hadits cenderung dianggap sebagai kegiatan buang waktu.
Daripada berusaha mengkaji kesahihan hadits, jauh lebih baik mengkaji isi hadits itu, apakah sesuai atau bertentangan dengan alquran.
Pada akhirnya, penyaring dan pembeda hanyalah alquran semata.
Karakter muslim alquran ini dapat dilihat dengan jelas dalam sikapnya terhadap hadits pedofilia dan menuntut ilmu ke negeri cina.
Hadits pedofilia, jelas bertentangan dengan alquran, tapi dianggap sahih oleh kebanyakan imam hadits termasuk bukhari dan muslim.
Karena tolok ukur muslim alquran adalah keselarasan dengan alquran, maka hadits semacam ini, meskipun dianggap sahih, jelas harus dibuang dan tidak dipakai.
Ini sangat jauh berbeda dengan hadits menuntut ilmu ke negeri cina.
Meskipun hadits ini dianggap palsu, tapi karena isinya tidak bertentangan dengan alquran, maka hadits ini boleh dipakai.
Memang seharusnya dilakukan kajian lebih mendalam lagi terhadap alquran, tapi faktanya, secara sepintas lalu, hadits ini memang tidak bertentangan dengan alquran.
Tapi bukan berarti anti hadits
Untuk dipahami, ini bukan berarti karakter muslim alquran adalah anti hadits.
TIA cenderung sealiran dengan quranisme moderat, bukan ekstrim.
Seorang muslim hanya membuang sikap terhadap kesetaraan alquran dan hadits.
Hadits dikembalikan ke tempatnya yang benar yaitu di bawah alquran, bukan setara dengan alquran.
Sebagai sumber pelajaran kehidupan, harus diakui juga banyak hadits memiliki isi yang bagus.
Tapi sama juga dengan buku-buku motivasi, buku filsafat kehidupan dsb, semuanya seringkali memiliki isi yang bagus untuk menjadi pelajaran kehidupan.
Posisi hadits dalam TIA tidak lebih tinggi dari buku-buku tersebut.
Dari sini, semua pemahaman keagamaan yang didasarkan pada hadits secara otomatis berubah sifat menjadi sekedar optional. Pilihan pribadi masing-masing muslim.
Hak seseorang apabila dirinya mau menggunakan hadits, dan hak seseorang juga apabila dirinya mau menolak hadits.
Tidak bisa dan tidak boleh ada paksaan di sini.
Tidak pernah ada kepastian kebenaran
Karakter muslim alquran yang terasa berbeda dari konvensional, tapi sebenarnya sama, adalah ketiadaan kepastian kebenaran.
Meskipun TIA didasarkan pada pemahaman agama yang bersifat logis dan konsisten, tetap saja tidak pernah ada kepastian kebenaran dalam TIA.
Ini sebenarnya sama dengan ketiadaan kepastian kebenaran dalam pemahaman konvensional, meskipun fakta ini seringkali ditutupi dari masyarakat muslim umum.
Saat ini banyak tergambar bahwa mengikuti fatwa ini itu adalah kewajiban, siapa yang tidak mengikutinya berarti ahli neraka dsb. Siapa muslim yang tidak setuju bom bunuh diri berarti bukan islam sesungguhnya, berstatus kafir dan semua omong kosong yang mirip.
Padahal, satu-satunya kepastian kebenaran dalam islam yang tidak terbantah hanyalah konsep tauhid, dan rahmatan lil aalamiin, tidak ada lainnya lagi.
Secara obyektif, tidak ada tolok ukurnya
Kembali lagi, pemahaman islam berdasarkan TIA adalah pemahaman yang logis, konsisten serta ilmiah.
Dalam tolok ukur ilmiah, agar sesuatu bisa dianggap sebagai kebenaran maka sesuatu itu haruslah diuji dengan eksperimen.
Hanya apabila suatu hipotesa berhasil lolos ujian eksperimen secara obyektif, barulah hipotesa itu dianggap sebagai kebenaran.
Tapi dalam pemahaman keagamaan, tidak ada eksperimen yang bisa dilakukan.
Kepastian kebenaran baru akan bisa diketahui setelah kita mati, dimana kita juga tidak bisa kembali ke dunia untuk memberikan kesaksian mengenai kebenaran itu.
Dari sini, semua kebenaran pemahaman dalam TIA paling tinggi hanya bisa berstatus insya Allah benar (18:24).
Pada akhirnya, hanya Allah SWT saja yang mengetahui kebenaran sejati.
kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa…
QS 18:24
Selain untuk menunjukkan fakta bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui semua kebenaran sejati, ini juga dikarenakan TIA mengikuti tatacara ilmiah.
Karena kebenaran di sini tidak bisa dibuktikan secara obyektif, maka status kebenaran hanya bersifat insya Allah benar.
Ini untuk membedakannya dengan kebenaran ilmiah normal yang bersifat obyektif murni.
Meskipun begitu, tidak ada keraguan bahwa secara probabilitas, pemahaman berdasarkan TIA akan memiliki kemungkinan benar terbesar. Ini karena sifatnya yang logis, konsisten serta humanis membawa rahmat.
Karena sudah jelas alam semesta bersifat logis dan konsisten. Dari sini aturan agama yang logis dan konsisten jelas memiliki kemungkinan benar yang jauh lebih besar daripada aturan agama yang tidak logis.
Ini juga upaya menjaga diri dari kesombongan
Salah satu fungsi lain dari karakter muslim alquran yang harusnya tidak pernah memiliki kepastian kebenaran adalah untuk menjauhkan diri dari kesombongan.
Salah satu sifat buruk yang pasti akan selalu ada dan menghantui siapapun adalah sifat kesombongan.
Tidak peduli seseorang jauh dari Allah, kesombongan bisa muncul dalam dirinya, yang merasa tidak butuh Tuhan.
Bahkan juga seseorang yang merasa dirinya dekat dengan Allah, maka justru itulah tanda kesombongan yang pasti.
Dari sini, ketiadaan kepastian kebenaran adalah salah satu upaya untuk mencegah munculnya sikap merasa dekat dengan Allah, yang merupakan tanda kesombongan yang sangat mutlak.
Tanpa adanya kepastian kebenaran, siapapun akan selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan berdoa dan juga selalu berharap menjadi bagian dari mereka yang mendapatkan petunjuk.
Ini adalah cara terbaik untuk menjauhkan diri dari kesombongan, yaitu terus menerus berupaya menghilangkan kesombongan di hati, dan selalu berdoa kepada Allah SWT.
Cenderung tidak ada paksaan dalam pemahaman agama
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…
QS 2::25
Kita semua mengetahui dengan jelas bahwa tidak ada paksaan dalam beragama islam.
Apabila memilih agama yang sudah jelas akan dirihoi Allah SWT saja tidak ada paksaan di dalamnya. Maka logikanya, untuk aturan-aturan agama sekunder, yang belum jelas mana yang benar, dan juga tidak berefek kepada iman dan kemashlahatan, seharusnya lebih tidak ada paksaan lagi.
Hanya apabila suatu aturan agama memang akan benar-benar berefek kepada iman kepada Allah SWT, dan kemashlatan bersama di muka bumi, barulah bisa ada paksaan, untuk menyingkirkan pemahaman yang salah itu.
Lebih jauh, dikarenakan permasalahan iman bisa dikatakan abstrak dan tidak memiliki tolok ukur sama sekali, hanya diketahui Tuhan, maka efek kepada iman bisa dihilangkan.
Ini meninggalkan satu-satunya aturan agama yang bisa dan layak untuk dipaksakan hanyalah yang bisa membawa efek kepada kemashlalatan bersama.
Tapi selain dari ini, pemaksaan pemahaman keagamaan jelas adalah sesuatu yang sangat buruk, yang bisa jadi merupakan suatu kezaliman besar.
Dari sini, TIA umumnya tidak peduli dengan pemahaman agama secara pribadi.
Siapapun mau melaksanakan shalat menurut versi pribadi dirinya, versi sunni, syiah, maka hal itu bukan urusan siapapun.
Itu sepenuhnya hak pelakunya sendiri secara pribadi, dan tidak patut diurus oleh manusia lain.
Tapi apabila seseorang menolak membayar zakat, maka orang tersebut layak untuk dikecam.
Ini karena zakat berefek kepada kemashlatan bersama, tanpa adanya zakat (filantropi), maka akan sulit untuk membantu orang-orang miskin dan memperbaiki perekonomian.
Situasi ini mirip dengan perilaku rasulullah saw dan para sahabat
Suatu hal yang mungkin tidak diketahui umum adalah sikap semacam ini sebenarnya jauh lebih sesuai dengan apa yang dilakukan oleh rasulullah saw dan para sahabat.
Pada masa rasulullah saw, sudah timbul nabi palsu.
Tapi bahkan rasulullah saw tidak pernah memerangi mereka berdasarkan klaim kenabian yang penuh kebohongan itu.
Hanya ketika para pengikut nabi palsu mulai mengganggu perekonomian, mengancam kehidupan umat islam, barulah nabi muhammad saw memerangi mereka.
Sama juga dengan abu bakar ra yang baru memerangi penentangnya ketika mereka sudah mulai menolak membayar zakat daripada ketika mereka menolak posisi dirinya sebagai khalifah.
Hanya ketika suatu perilaku sudah membawa efek kepada kehidupan di dunia, barulah tindakan dunia bisa dilakukan.
Tapi apabila efek suatu perilaku utamanya adalah terkait iman, akhirat, itu adalah urusan pribadi masing-masing orang.
Itu adalah urusan Allah SWT untuk memberikan keputusan.
Ini memang situasi yang sangat berbeda dengan pemahaman umum masa kini.
Pada masa sekarang ini, sudah lazim paksaan keseragaman beragama untuk hal-hal pribadi, seperti jenggot, celana cingkrang dsb.
Dan sebaliknya untuk hal-hal yang jelas membawa keburukan di muka bumi, malah dianggap sebagai bagian khilafiyah, seperti bom bunuh diri, takfiri dsb.
Kita hanyalah pemberi peringatan
Lebih jauh lagi, akibat ketiadaan kepastian kebenaran, maka prinsip tidak memaksakan pemahaman agama kepada orang lain bukanlah suatu bentuk anjuran melainkan prinsip dasar.
Karena tidak ada kepastian kebenaran, maka sangat tidak layak bagi siapapun mengurus pemahaman agama orang lain.
Kita tidak pernah tahu pemahaman agama kita sudah benar atau tidak.
Kalaupun benar, apakah kita sudah memenuhi syarat amalan diterima Tuhan? Misalkan syarat keikhlasan atau kerendahan hati?
Dari sini, kegiatan mengurus agama orang lain, adalah sikap manusia bodoh yang sombong tidak tahu diri.
Bisa saja kita mengurus agama orang lain sementara hal itu tidak membawa kebaikan sama sekali untuk diri kita, karena kita lalai memperbaiki diri kita sendiri.
Lebih parah kalau ternyata paksaan pemahaman agama yang kita lakukan adalah sesuatu yang salah, dan kita dinyatakan ikut menanggung dosa akibat paksaan kepada orang lain itu.
Jauh lebih baik semua waktu dan tenaga tersebut digunakan untuk mengintrospeksi diri pribadi, daripada orang lain.
Lagipula, sikap memaksakan pemahaman agama sebenarnya adalah cerminan sikap sombong.
Seseorang tidak akan memaksakan pemahaman agama kepada orang lain apabila dirinya tidak merasa bahwa dirinya sudah suci dari kesalahan, bebas dosa dsb.
Ini jelas adalah tanda nyata kesombongan.
Seseorang yang merasa dirinya punya banyak dosa, tidak akan menghabiskan waktunya dengan mengurus pemahaman agama orang lain
Tapi dia akan bertobat, mengingat kesalahannya, dan berusaha memperbaiki kesalahannya itu.
Tentu ini bukan berarti kita tidak boleh saling menasehati.
Tapi intinya adalah menyadari adanya batasan.
Lakukan nasehat dengan cara yang baik, dengan bahasa lembut, dan diam-diam.
Urusan orang lain mau menerima nasehat atau tidak, itu adalah hak pribadinya dan bukan urusan siapapun.
Tugas kita di dunia hanyalah pemberi peringatan dan bukan perubah manusia.
Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.
2:119
Berlanjut ke karakter muslim alquran 2
Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Anda merasa tulisan ini bermanfaat?
Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih