My Blog

Shalat di alquran – persiapan

Pengantar

Kebanyakan muslim tidak mengetahui banyak fakta mengenai shalat. Bahwa shalat sudah eksis sebelum nabi muhammad saw, ada umat lain yang juga melakukan kegiatan praktek shalat dsb. Pemahaman yang sedikit ini seringkali menimbulkan intoleransi dan kesombongan. Padahal, apabila dikaji secara mendalam, shalat lebih luas daripada hanya sekedar ritual keagamaan. Dan ada banyak hal yang seringkali dianggap tidak penting tapi sebenarnya sangat penting dalam shalat. Dan hal yang dianggap penting tapi sebenarnya malah tidak begitu penting.

Artikel ini adalah artikel 2 dari 3. Anda dapat membaca tulisan lainnya

Basmallah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya

Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Pendahuluan

Banyak muslim tidak mengetahui isi alquran yang berkaitan dengan shalat. Mereka merasa gerakan serta doa dalam shalat adalah suatu ritual baku yang tidak bisa diubah dan harus seragam. Lainnya juga merasa bahwa ritual shalat yang dilakukan sudah selesai begitu salam diucapkan. Begitu pula wudhu yang harus diulangi sampai 3x dsb.

Kenyataannya, beberapa hal tersebut tidaklah sesuai dengan alquran.
Ini bukan berarti apa yang selama ini dilakukan oleh umat islam mengenai shalat adalah salah.
Kesalahan lebih pada sikap dan pandangan terhadap shalat itu sendiri.
Jadi bukan kesalahan dari sisi fisik, tapi lebih dari sisi sudut pandang pemahaman.

Kesalahpahaman paling besar berkaitan dengan tatacara shalat.
Kebanyakan muslim memahami dan percaya bahwa tatacara shalat mereka adalah berasal dari alquran. Ini adalah suatu hal yang bisa dipastikan salah total.
Tatacara shalat sepenuhnya berasal dari sunnah kebiasaan turun temurun, dan tidak diturunkan dari alquran (paling tidak sampai saat ini).

Situasi ini menyebabkan tatacara rukun shalat, seperti yang dikenal selama ini, tidak bisa dianggap sebagai suatu hukum baku, sesuatu yang pasti benar.
Tatacara rukun shalat hanyalah bersifat optional.
Memang sikap terbaik adalah mengikuti kebiasaan yang ada, tapi bukan berarti tidak mengikuti kebiasaan tatacara shalat adalah suatu kemungkaran.

Pembahasan shalat di dalam alquran bisa dibagi ke dalam tiga bagian. Pertama adalah perintah untuk mendirikan shalat. Kedua adalah alasan dan tujuan pelaksanaan shalat. Ketiga adalah hal-hal lain terkait shalat.

Perintah untuk mendirikan shalat

Perintah untuk melakukan ritual shalat banyak ditemukan di alquran, salah satunya adalah :

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.

QS 2:43

Sebagaimana diketahui, alquran tidak menggunakan frasa melaksanakan atau melakukan shalat tapi mendirikan shalat.
Ini berarti kegiatan shalat yang diperintahkan oleh Allah SWT, untuk dikerjakan umat islam bukanlah sekedar kegiatan ritual gerakan belaka, tapi suatu proses yang lebih dalam dan rumit.

Secara makna, kata mendirikan seperti mendirikan atau membangun rumah adalah suatu proses yang paling tidak melibatkan tiga aspek kegiatan. Mereka adalah aspek persiapan, aspek pelaksanaan dan aspek pengiring.

Di sini, kegiatan shalat haruslah diniatkan sejak awal.
Shalat diawali dengan menyucikan diri dari segala kotoran atau hadats. Dikerjakan dengan khusyuk. Dan diikuti dengan menjaga perilaku di luar shalat.
Jadi shalat tidak hanya terdiri dari pelaksanaan ritual dan rukun-rukun shalat, tapi jauh lebih luas dan dalam.

Aspek persiapan

Langkah awal yang pasti dilakukan dalam kegiatan membangun adalah membuat perencanaan dengan baik, cermat dan detil.
Di sini seseorang yang ingin membangun rumah harus menentukan dahulu bentuk bangunan, tingginya, luas, pondasi, desain kamar dsb.
Semua itu harus direncanakan dan dibayangkan secara detil agar rumah yang terbangun nantinya dapat sesuai dengan harapan.

Aspek yang sama juga terjadi dengan kegiatan shalat.
Ketika seseorang akan melaksanakan shalat, maka dirinya haruslah melakukan persiapan shalat dengan baik.
Pada akhirnya di sini seorang hamba akan bertemu dengan Zat yang Maha Agung, yaitu Allah SWT.
Apabila untuk bertemu dengan manusia penting saja (pejabat tinggi, rekan bisnis dsb) seseorang sudah jelas akan melakukan persiapan pertemuan dengan baik, maka tentu persiapan yang lebih baik haruslah dilakukan ketika bertemu dengan Tuhan pencipta alam semesta, yang akan menentukan nasib di akhirat nanti.

Meskipun begitu, Allah SWT tidak menuntut hal-hal yang berat sebagai syarat untuk bertemu diriNya.
Persyaratan dari Allah SWT untuk hamba yang ingin menemuiNya hanyalah meliputi kewajiban mensucikan diri.
Dengan seseorang melakukan wudhu atau tayamum, atau mandi apabila berhadats besar.

Wudhu

Kegiatan wudhu di dalam alquran dijelaskan di ayat 5:6.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

QS 5:6

Tambahan proses wudhu yang ada pada masa sekarang seperti membersihkan pergelangan tangan, berkumur, membersihkan hidung dan telinga, meskipun semuanya tidak ada di dalam alquran (insya Allah) bukanlah suatu hal salah.
Selama kegiatan inti wudhu yaitu membasuh muka, tangan sampai siku, kepala, dan kaki dilakukan, maka suatu wudhu insya Allah sudah sah sebagai persiapan shalat menurut Allah SWT.
Hal yang sama juga dengan pengulangan sampai 3x, yang bukan aturan alquran, dilakukan atau tidak bergantung sepenuhnya kepada pilihan pribadi.

Tayamum

Dalam situasi akan shalat, apabila seorang hamba tidak menemukan air (termasuk tidak bisa kontak dengan air), maka diperbolehkan bertayamum.
Satu hal yang perlu dipahami di ayat mengenai tayamum adalah syarat kebolehan tayamum bukanlah harus sakit atau dalam perjalanan dsb, melainkan hanya satu hal yaitu tidak menemukan air atau tidak bisa bersentuhan dengan air.

Adapun syarat sakit, atau dalam perjalanan, atau dari kamar kecil atau menyentuh wanita adalah gambaran situasi dimana seseorang membutuhkan air yaitu kotor, berhadats, ataupun junub.
Ketika seseorang dalam keadaan yang membutuhkan air, tapi ternyata tidak tersedia air, atau tidak bisa bersentuhan dengan air, maka sebagai pengganti penyucian diri dengan air, dilakukan tayamum.

Ini penting dipahami karena seringkali umat islam merasa dirinya tidak cukup sakit, atau perjalanannya kurang jauh dsb sehingga tetap memaksakan diri untuk berwudhu.
Padahal Allah SWT sudah memberikan keringanan, yang seharusnya dimanfaatkan.
Pola pikir yang harus dibangun adalah Allah SWT tidak pernah membutuhkan ibadah kita, itu adalah untuk kita sendiri.
Mengambil keringanan dalam agama dan kemudian bersyukur kepada Allah SWT atas keringanan itu jauh lebih baik daripada tidak mengambil keringanan dan tidak bersyukur.

Batasan tayamum

Gambaran situasi awal mengenai tayamum itu juga dapat menjadi gambaran mengenai batasan air yang tidak tersedia sehingga tayamum layak dilakukan.
Intinya adalah kebutuhan air untuk sakit (untuk diminum), atau perjalanan (minuman hewan kendaraan/unta), atau kamar kecil (membasuh lubang kotoran) atau mandi wajib (membasuh kelamin) haruslah didahulukan sebelum air tersebut dialokasikan untuk berwudhu.
Hanya apabila air untuk keperluan tersebut bisa terpenuhi dengan baik, dan masih ada air tersedia, barulah kegiatan bersuci dengan air dapat dilakukan.
Tapi apabila air untuk kebutuhan tersebut belum terpenuhi, maka alokasi air diprioritaskan untuk keperluan yang lebih penting itu.

Pada akhirnya, Allah SWT tidak pernah membutuhkan ibadah atau kesucian dari seorang hamba sama sekali.
Sekali lagi, semuanya hanyalah untuk diri kita sendiri.
Seorang hamba yang memberikan minum hewan kendaraannya dan kemudian bertayamum untuk shalat paling tidak telah melakukan empat kebajikan.
Dia menjaga nyawa hewannya, yang berefek kepada dirinya, dan tetap bisa melaksanakan shalat dan kemudian bersyukur kepada Allah SWT atas keringanNya.
Orang semacam itu jelas jauh lebih baik daripada seseorang yang memaksakan berwudhu, kemudian hewannya mati, dan dirinya juga mati (atau minimal urusannya jadi gagal) dan dirinya tidak bersyukur.

Mandi

Berbeda dengan wudhu yang dijelaskan secara detil, kegiatan mandi wajib tidak dijelaskan oleh alquran sama sekali.
Di sini seseorang bisa mengikuti panduan hadits (bukan sunnah), karena hampir pasti kegiatan mandi ini tidak diajarkan dalam bentuk praktik secara langsung melainkan hanya melalui teks.

https://en.wikipedia.org/wiki/Ghusl

Secara ringkas, dalam hadits sunni proses mandi wajib diawali dari niat, membersihkan tangan, membersihkan kemaluan, berwudhu (termasuk mulut dan hidung), mengusap kepala sampai akar rambut, barulah mengguyur badan.
Juga sering dituliskan untuk mengulangi setiap langkah sampai 3x.
Ada juga versi hanafi dimana cukup dengan berkumur, membasuh hidung, barulah mengguyur badan.
Tatacara ini mirip dengan versi syiah, perbedaan hanyalah wudhu bersifat optional.

Apabila anda bertanya kepada penulis, maka berbeda dengan versi hadits, penulis melakukan wudhu di akhir pengguyuran badan.
Ini karena secara kebiasaan ketika pengguyuran badan masih diikuti dengan menggosok kulit keseluruhan tubuh untuk menghilangkan daki dsb, dimana hal tersebut dianggap akan membatalkan wudhu.
Dari sinilah kegiatan wudhu diakhirkan setelah kegiatan mandi (normal) selesai. Meskipun kegiatan niat dan membersihkan tangan tetap dilakukan di awal proses mandi (normal).

Secara keseluruhan, hal terpenting dari mandi wajib adalah niat dan pengguyuran badan secara penuh.
Seseorang paling tidak haruslah berusaha membersihkan fisik dirinya secara penuh dari semua jenis kotoran yang ada di tubuhnya.
Ini agar status dirinya setelah mandi adalah seseorang yang bersih dan suci, baik dari sisi fisik ataupun non fisik.

Mandi wajib tidak sekedar pembersihan fisik

Apabila dikaji secara mendalam, mandi wajib (penyucian diri dari junub) tidak sekedar melingkupi fisik tapi juga non fisik.

Apabila dicari di keseluruhan alquran, makna kata bersuci mandi wajib juga digunakan untuk merujuk pada kesucian maryam binti imran, ibunda nabi isa as (3:42), penyucian melalui hujan (8:11), dan juga harta yang dizakatkan (9:103), pembersihan pakaian (74:4).
Dari semua penggunaannya ini, makna yang paling tepat untuk melingkupi adalah pembersihan fisik dan non fisik.

Pembersihan fisik adalah pembersihan dari kotoran fisik, sedangkan pembersihan non fisik adalah pembersihan dari pikiran buruk, dosa dsb.

Jadi seperti pembersihan melalui hujan, maka selain pembersihan udara, juga bermakna pembersihan keputusasaan manusia melalui hujan yang merupakan rahmat.
Demikian pula harta yang dizakatkan, maka harta itu tidak lagi menjadi harta yang ada hak orang lain di dalamnya, tapi harta yang sudah bersih dan merupakan hak sepenuhnya pemilik harta (meskipun tetap saja semua harta hanyalah titipan).
Demikian pula dengan kebersihan pakaian yang maksudnya adalah pakaian itu menjadi sepenuhnya digunakan untuk keperluan perjuangan menegakkan agama Allah SWT dan kenabian muhammad saw.

Jadi mandi wajib adalah pembersihan fisik dan non fisik.
Seorang yang mandi wajib haruslah berusaha membersihkan dirinya secara fisik dari segala sesuatu yang tidak eksis dalam keadaan normal.
Seperti keringat atau cairan orang lain, maupun cairan dirinya yang tidak berasal dari kulit (air liur, air mani dsb).
Ini bisa dihilangkan dengan kegiatan mandi seperti biasa, membilas air ke seluruh kulit anggota tubuh.

Pembersihan non fisik

Sedangkan makna dari pembersihan non fisik adalah menghilangkan segala hal di luar kesucian diri, dalam kaitannya dengan junub maka ini adalah nafsu seksual.
Jadi di sini seseorang seperti melahirkan dirinya kembali untuk kembali menjadi hamba Allah SWT yang suci dan bersih.
Seorang hamba berusaha memperbarui dirinya kembali, membuka lembaran baru, atau hal-hal baru. Ini seperti seorang mualaf yang mandi wajib untuk membuka lembaran baru dirinya sebagai seorang muslim yang suci dsb.
Sedangkan dalam kaitannya dengan hubungan seksual, maka maksudnya adalah seorang hamba membuka lembaran baru dalam arti sudah menuntaskan semua hawa nafsunya.
Di sini seseorang memulai lagi lembaran hidupnya tanpa hawa nafsu yang menguasai.

Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Anda merasa tulisan ini bermanfaat?

Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih

Exit mobile version