Tanya jawab mengenai Alquran dan TIA

Pengantar

Artikel ini adalah tanya jawab terkait alquran dan tafsir ilmiah alquran (TIA). Daftar pertanyaan ada di daftar isi. Artikel akan diperbarui apabila ada pertanyaan dan jawaban baru.

Untuk tanya jawab terkait dengan hadits, dapat dibaca di sini
Sumber feature image

Basmallah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya

Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Apa perbedaan ilmu tajwid dan qiraat?

Ilmu tajwid dan qiraat kelihatannya mirip, tapi sebenarnya mereka berbeda jauh.

Qiraat adalah ilmu mengubah bunyi wahyu alquran menjadi berbentuk tulisan arab, dengan harakat dan tanda titik dsb, sehingga bisa dipahami dengan mudah oleh siapapun, utamanya non arab.

Jadi ketika islam sudah berkembang, dan alquran menyebar, para ulama menyadari bahwa banyak muslim non arab yang tidak bisa membaca alquran sama sekali.
Ini karena huruf arab pada masa itu bersifat gundul, tanpa harakat sebagai penanda vokal dan tanda titik sebagai pembeda huruf.
Dimana untuk mengetahui bunyi vokal dan membedakan huruf (seperti “ya”, “ta” dsb) itu, diperlukan penguasaan bahasa arab.
Dari sinilah dikembangkan suatu sistem mempermudah non arab dalam membaca alquran tanpa perlu menguasai bahasa arab.

Sistem ini adalah pemberian tanda harakat sebagai bunyi vokal huruf, dan tanda titik untuk membedakan beberapa huruf arab yang bentuknya sama.
Sistem inilah yang dinamakan qiraat.
Jadi qiraat adalah sistem pemberian tanda harakat dan tanda titik pada huruf arab.
Bisa dikatakan, qiraat itu merubah bunyi wahyu alquran menjadi berbentuk tulisan arab agar bisa dibaca dengan mudah.

Berjalannya waktu, diketahui bahwa sistem qiraat masih memiliki kekurangan.
Qiraat memang mempermudah non arab dalam membaca alquran, tapi bacaan alquran yang dihasilkan tidak seperti bunyi alquran sebenarnya, sebagaimana didengar oleh nabi muhammad saw.
Dari sinilah dikembangkan suatu sistem untuk memperbaiki pembacaan alquran sehingga bisa menghasilkan bunyi sebagaimana yang didengar rasulullah saw.
Sistem ini adalah ilmu tajwid.

Bisa dikatakan, tajwid adalah ilmu merubah tulisan arab alquran menjadi bunyi wahyu alquran.
Ilmu ini meliputi segala bentuk pembacaan alquran, mulai adab membaca alquran, cara mengeluarkan huruf, mana vokal yang dipanjangkan dsb.

Pada masa sekarang, apabila diamati, ada beberapa cetakan alquran atau alquran digital yang memiliki perbedaan warna pada huruf alquran sebagai penanda bunyi tajwid dsb.
Secara definisi, bentuk penanda warna itu adalah qiraat, yang terinspirasi ilmu tajwid.

Apakah alquran tanpa hadits menjamin tidak ada kesesatan?

Tidak pernah ada jaminan untuk segala sesuatu dalam alquran, semuanya selalu bergantung dari manusia pelakunya dan Allah SWT.
Tapi kecenderungannya, aturan yang tepat akan membawa kepada konsistensi pemahaman yang lebih baik.
Jadi,tidak ada jaminan tidak timbul kesesatan (menurut Allah SWT), tapi kemungkinan ini jelas akan jauh lebih kecil.

Sama seperti tidak ada jaminan mengikuti alquran akan mutlak membawa keselamatan daripada mengikuti injil atau taurat.
Ini bisa terjadi apabila seseorang menggunakan alquran berdasarkan hawa nafsunya, dengan kesombongan, tanpa menggunakan akalnya. Sementara pengguna injil memikirkan ayat-ayatnya dan juga mendengarkan hati nuraninya.
Di sini pengguna injil akan sadar ada banyak permasalahan, dirinya tidak akan serampangan menerapkan ayat-ayatnya. Sementara si pengguna alquran dengan sombong memilih ayat-ayat alquran yang dilaksanakan berdasarkan hawa nafsunya.

Tapi sangat jelas, banyaknya inkonsistensi akan menyulitkan hidup.
Seorang pengguna injil yang mengetahui alquran dan berpikir, pasti akan sepakat bahwa jauh lebih baik mengikuti alquran yang terjaga daripada injil yang sudah dirusak manusia dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Sama halnya dengan penggunaan alquran sebagai sumber hukum utama, yang jauh lebih konsisten tanpa masalah daripada menggunakan alquran bercampur hadits yang memiliki banyak permasalahan.

Lebih jauh, ketiadaan jaminan tidak timbul kesesatan ini adalah sesuatu yang diperlukan untuk menahan timbulnya kesombongan pribadi.
Sama halnya dengan alquran yang tidak pernah menjamin siapapun masuk surga, maka bagaimana mungkin ada pemahaman alquran yang bisa menjamin tidak timbul kesesatan?
Kalau ada pemahaman alquran yang bisa menjamin kebahagiaan dunia akhirat, maka justru itu adalah tanda kebohongan yang nyata.
Status kebahagiaan akhirat hanyalah domain dan prerogatif Allah SWT.
Tidak ada lainnya lagi.

Bagaimana dengan penggunaan kaidah tafsir alquran lainnya?

Secara prinsip, semuanya sama yaitu harus melalui uji konsistensi secara menyeluruh di keseluruhan alquran.
Hanya apabila suatu kaidah bisa lolos uji tanpa sekalipun mengalami inkonsistensi, maka kaidah itu bisa diterima untuk dimasukkan ke dalam bagian pemahaman TIA.
Tapi apabila tidak lolos uji inkonsistensi, meskipun cuma sekali, maka tentu saja kaidah tersebut tidak bisa dianggap bagian dari kaidah TIA.

Jadi, pada akhirnya semua kaidah penafsiran alquran lain harus selalu memiliki sifat logis, obyektif, dan konsisten, secara mutlak di keseluruhan alquran.
Meskipun suatu kaidah tidak selalu dipakai dan digunakan, tapi tingkat kebenarannya mutlak harus 100 persen, ketika digunakan, tidak bisa tidak .

Sebagai misal kata benda tentu (isim ma’rifat) dengan kata tunjuk (isim isyarat) dekat. Salah satu contoh adalah di ayat 29:64 (kehidupan dunia ini), lainnya di ayat 29:31 (kota ini).
Bentuk ini menurut kaidah tafsir konvensional berarti menandakan suatu bentuk penghinaan terhadap kata benda tersebut.
Jadi dalam ayat 29:64 maka itu berarti kehidupan dunia adalah hina, sedangkan di ayat 29:31, maka ini berarti kota ini (sodom) adalah hina.

Meskipun begitu, kaidah ini ternyata tidak selalu konsisten.
Sebagai misal ada penggunaan dengan bentuk yang sama di 11:120 (kebenaran ini).
Karena sudah jelas kebenaran ini tidak mungkin adalah sesuatu yang hina, maka kaidah ini dinyatakan tidak konsisten.
Hasil akhirnya, kaidah ini tidak digunakan dalam TIA.

Kaidah tafsir alquran konvensional

Kebanyakan kaidah konvensional cuma penegas dari yang sudah jelas

Lebih jauh, apabila dikaji secara mendalam, kebanyakan kaidah penafsiran alquran konvensional, cenderung tidak membawa sesuatu yang bersifat vital.
Dalam arti kehadirannya akan membawa pemahaman baru berbeda dari ketiadaan kaidah tersebut.

Sebagai misal dalam contoh tadi, kaidah mengenai status hina untuk sesuatu yang ditunjuk dekat, hanya menimbulkan makna tambahan bahwa kehidupan dunia ini (29:64), dan kota ini (29:31) adalah sesuatu yang hina.
Padahal, tanpa adanya kaidah, kita sudah tahu mengenai fakta tersebut.
Ini karena sudah dijelaskan oleh alquran status dari kehidupan dunia yang cuma sementara, dan kota sodom yang penduduknya sangat buruk.

Jadi kaidah tafsir konvensional sebenarnya cenderung tidak menghasilkan pemaknaan baru apapun.
Mereka kebanyakan hanya sekedar penegasan dari sesuatu yang sudah jelas.
Seperti bahwa rahmat Allah SWT lebih besar dari murkaNya, ini tidak perlu kaidah sama sekali.
Atau jalan yang haq (baik) itu hanya satu, sedangkan jalan yang batil itu ada banyak, hal semacam ini juga sudah jelas dari alquran.

Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Anda merasa tulisan ini bermanfaat?

Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *