Pengantar
Apa itu kaidah tafsir ilmiah alquran (TIA)? Apa bedanya dengan hukum? Mengapa keduanya harus dibedakan? Artikel ini menjelaskan perbedaan antara hukum dan kaidah dalam tafsir ilmiah alquran, sesuatu yang penting untuk dipahami demi tumbuhnya semangat memahami perbedaan. Kaidah ini juga sangat mempermudah seseorang melakukan tafsir/kajian alquran.
Artikel ini adalah tulisan 5 dari 5. Anda bisa membaca artikel lainnya 1 / 2 / 3 / 4
Sumber feature image
Basmallah
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya
Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Pendahuluan kaidah tafsir ilmiah alquran
Selain hukum, aturan dasar yang harus selalu diikuti, ada juga kaidah tafsir ilmiah alquran (TIA), yang tidak harus diikuti.
Kaidah tafsir ilmiah alquran ini merupakan aturan yang dianggap benar, tapi tidak cukup penting untuk dijadikan aturan dasar seperti hukum.
Apabila hukum berlaku untuk seluruh ayat alquran, maka kaidah hanya berlaku untuk sebagian ayat alquran, tidak seluruhnya.
Apabila hukum dianggap terbukti benar, karena ada landasan logika yang sangat kuat, maka landasan logika pada kaidah TIA tidak begitu kuat.
Apabila hukum dasar TIA dianggap sudah benar secara mutlak dan konsisten, kaidah TIA ini lebih cenderung masih sebatas teori.
Kaidah tafsir ilmiah alquran ini mirip dengan prinsip basmallah, tapi alih-alih bertindak bertindak sebagai mekanisme benteng terakhir, Kaidah tafsir ilmiah alquran lebih bersifat membantu kajian alquran.
Arah suatu perintah ditujukan
Alquran sudah dibuat dengan detil, terang dan jelas, tidak ada keraguan lagi terhadap hal ini.
Ini artinya, semua jenis perintah dalam alquran, yang ditujukan kepada suatu pihak, maka obyek perintah itu sudah pasti, dan tidak ada kesalahan lagi sama sekali.
Ini juga berarti, semua ayat alquran yang berupa perintah kepada suatu pihak, maka obyek perintah hanyalah mereka yang diperintahkan itu.
Tidak ada yang lainnya lagi.
Kaidah ini utamanya terkait ayat-ayat yang diawali perintah kepada suatu pihak, seperti hai orang-orang beriman, hai nabi, hai manusia dst.
Tidak semua perintah di alquran diawali redaksi ini, tapi itu sekedar gambaran saja.
Intinya adalah apabila ada ayat alquran berisi perintah kepada suatu kelompok untuk melakukan sesuatu, maka berarti perintah tersebut tidak diarahkan untuk kelompok selain itu
Sebagai contoh adalah apabila suatu perintah diarahkan untuk nabi berarti perintah tersebut hanyalah diperintahkan untuk nabi muhammad saw.
Apabila redaksi alquran adalah perintah untuk orang beriman maka itu berarti perintah tersebut untuk umat islam.
Sedangkan apabila suatu perintah ditujukan untuk manusia maka berarti perintah itu ditujukan untuk seluruh umat manusia dst.
Arah perintah ini penting untuk dipahami karena ayat alquran yang berupa perintah untuk nabi muhammad saw jelas tidak ditujukan kepada umat islam secara umum.
Sama juga dengan yang diperintahkan untuk ahli kitab, maka ayat-ayat tersebut tidak bisa dianggap sebagai suatu perintah untuk umat islam.
Bukan berarti bahwa umat islam dilarang untuk melakukan apa yang diperintahkan di ayat-ayat tersebut, tapi hal ini harus dikaji dahulu konteks dan situasi kondisi yang melatarbelakanginya.
Ini karena memang secara isi ayat-ayat ini jelas tidak ditujukan untuk dilaksanakan oleh umat islam, paling jauh adalah sebagai bahan pelajaran.
Contoh
Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.
QS 5:45
Salah satu contoh penerapan paling utama kaidah ini adalah ayat mengenai qisas, mata ganti mata dsb (5:45).
Dari kaidah ini, maka aturan qisas semacam di atas bukanlah aturan Allah SWT untuk umat islam, tapi untuk bani israil.
Jadi aturan qisas ini tidak pernah diperintahkan untuk dilaksanakan oleh umat islam.
Memang harus diakui bisa saja ulil amri membuat aturan qisas semacam ini, karena ini bagian dari kewenangan mereka.
Tapi ini juga berarti tidak pernah ada garansi pembelaan dari Tuhan sama sekali.
Apabila ulil amri (penguasa) membuat aturan qisas semacam ini, maka itu bukan karena mereka melaksanakan aturan Tuhan, tapi murni pilihan mereka sendiri.
Kalau ternyata akibat aturan tersebut terjadi kezaliman kelas berat, maka itu adalah dosa mereka.
Mereka tidak bisa beralasan melakukan perintah Allah SWT, karena sekali lagi, ini bukanlah perintah Allah SWT.
Semua kisah dengan obyek selain umat islam adalah nasehat
Berdasarkan tujuannya, isi alquran bisa dibagi ke dalam empat kelompok.
- Aturan hukum, berisi perintah dan larangan, segala sesuatu yang harus dilakukan atau ditinggalkan oleh umat islam.
Tujuannya agar umat islam memahami apa saja yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan demi mendapatkan ridho Tuhan. Sebagai contoh adalah dirikan shalat, tunaikan zakat (2:43), larangan riba (2:276), larangan zina (17:32), beriman bahwa Allah SWT itu satu (112:1) dsb. - Potensi kenikmatan dan kesengsaraan, berisi segala bentuk kenikmatan yang bisa didapatkan di surga dan juga penderitaan yang ada di neraka.
Tujuannya adalah sebagai pendorong agar manusia berusaha melakukan perbuatan baik dan takut melakukan perbuatan dosa. Sebagai contoh adalah kenikmatan surga (2:25) dan kengerian neraka (7:41). - Informasi, berisi hal-hal informasi yang dianggap dapat menjadi tanda bukti bahwa alquran adalah kalam Allah SWT.
Tujuannya agar siapapun yang membaca alquran merasa yakin bahwa alquran benar-benar dibuat Tuhan Pencipta alam semesta. Sebagai contoh adalah keajaiban penciptaan di bumi (25:53) dsb. - Nasehat, berisi segala sesuatu yang dapat menjadi bahan pelajaran untuk umat islam.
Tujuannya tentu saja sebagai bahan pelajaran, untuk diikuti apabila membawa manfaat dan dihindari apabila membawa keburukan. Sebagai contoh adalah 2:85.
Dalam kaitannya dengan nasehat, salah satu kaidah tafsir ilmiah alquran adalah semua jenis kisah di dalam alquran, dimana obyeknya bukan umat islam, maka semuanya itu tergolong kepada nasehat.
Jadi semua ayat alquran yang bercerita mengenai bani israil, kisah para nabi dan rasul, juga kisah umat non islam dsb, semuanya adalah nasehat untuk umat islam.
Semuanya adalah untuk dijadikan bahan pelajaran, untuk direnungi dan dikaji.
Apabila dirasakan membawa manfaat, maka itu sebaiknya dilakukan, tapi ini bukan perintah.
Apabila dirasakan membawa keburukan, maka sebaiknya dihindari.
Contoh
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
QS 9:31
Ayat di atas bercerita mengenai perilaku orang nasrani yang menuhankan orang-orang alim di antara mereka.
Apabila ayat ini hanyalah suatu bentuk informasi, maka apa pentingnya alquran membicarakan hal ini?
Bukankah ini secara sempit bisa dimaknai sebagai ghibah? Membicarakan keburukan orang lain?
Karena sudah jelas alquran sempurna, maka berarti semua isi alquran pasti selalu ada manfaatnya, tidak ada kesia-siaan sama sekali.
Karena sudah jelas ayat tersebut tidak bisa menjadi perintah dan larangan, karena tidak ditujukan untuk umat islam, maka berarti fungsinya adalah suatu bentuk nasehat.
Secara logika juga, perilaku semacam ini jelas bukan hanya monopoli orang kristen.
Umat islam dalam beberapa situasi bisa saja melakukan tindakan yang sama.
Dari kaidah ini berarti maknanya adalah agar umat islam tidak mencontoh perilaku semacam itu.

Penggunaan bentuk waktu
Alquran diturunkan dalam bahasa arab dimana salah satu cirinya adalah memiliki bentuk waktu yang terintegrasi dengan kata kerja.
Jadi suatu kata kerja dalam bahasa arab sudah mengandung informasi mengenai waktu kerja tersebut dilakukan, apakah dilakukan di masa lampau atau masa sekarang/depan.
Ini dalam bahasa inggris sama dengan tenses.
Karena alquran diturunkan dalam bahasa arab yang memiliki ketersatuan antara waktu terjadinya kegiatan dengan kegiatan itu sendiri, maka di sini seorang pengkaji alquran haruslah teliti terhadap situasi ini.
Apabila bentuk waktu yang digunakan adalah lampau (fiil madhi), maka itu berarti kegiatan yang dilakukan memang terjadi di masa lampau
Sedangkan apabila bentuk waktu yang digunakan adalah sekarang/masa depan (fiil mudhari), maka berarti kegiatan tersebut dilakukan di masa sekarang atau masa depan.
Permasalahan bentuk waktu ini memang tidak selalu signifikan dalam kaitannya dengan makna/pesan ayat.
Kadangkala juga bentuk waktu tersebut apabila dibalik-balikkan maka tetap tidak merubah makna atau pesan ayat alquran sama sekali. Ini biasanya terjadi untuk ayat yang bercerita mengenai umat masa lampau.
Tapi dalam beberapa situasi, perbedaan penggunaan bentuk waktu ini bisa menghasilkan perbedaan makna yang signifikan.
Dari sinilah pentingnya untuk selalu teliti dalam pengkajian terhadap ayat-ayat alquran.
Contoh
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
QS 4:48
Salah satu contoh pemanfaatan kaidah ini adalah pada ayat mengenai tidak terampuninya dosa syirik.
Status dosa syirik yang tidak terampuni ini memiliki kontradiksi.
Sudah jelas Allah SWT itu Maha Pengampun, bagaimana dirinya bisa tidak mengampuni dosa syirik?
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS 39:53
Kontradiksi ini dapat dijelaskan dengan mudah dengan melihat bentuk waktu yang digunakan di ayat 4:48.
Di ayat itu digunakan kata “yusyroka” untuk menyebutkan perbuatan syirik.
Kata ini dalam bahasa arab memiliki waktu kejadian masa sekarang atau masa depan (fiil mudhari).
Jadi dosa syirik yang dilakukan adalah yang terjadi pada masa sekarang/masa depan.
Dosa syirik semacam ini tidak akan pernah diampuni Allah SWT.
Tapi dari penggunaan kaidah waktu, ini berarti waktu masa lampau tidak termasuk dalam ruang lingkup ayat 4:48 tersebut.
Jadi dosa syirik yang dilakukan di masa lampau, bisa saja diampuni Allah SWT. Ini karena dosa syirik masa lampau bukan bagian dari yang disebutkan ayat 4:48.
Apabila kemudian kita kaji dari ayat 9:53, dimana Allah SWT itu Maha Pengampun tanpa batas, maka seharusnya dosa syirik masa lampau juga bisa diampuni.
Jadi anggap saja ada seseorang yang memiliki amalan kebaikan, tapi dirinya kemudian di masa depan melakukan dosa syirik, misalkan keluar islam. Maka dosa syiriknya tersebut berubah menjadi penghapus semua amalan kebaikan sehingga dirinya masuk neraka.
Tapi seandainya di masa yang lebih depan lagi, dia sempat bertobat sebelum kematian datang, maka dirinya jelas bertobat terhadap dosa syirik sebelumnya.
Di sini status dosa syiriknya berubah menjadi dosa syirik masa lampau, yang bisa diampuni Allah SWT.
Jadi di sini sangat jelas, bahwa dosa syirik yang terjadi pada masa sekarang atau masa depan adalah dosa yang tak terampuni.
Tapi semua jenis dosa yang dilakukan di masa lampau, selalu dapat diampuni oleh Allah SWT.
Penutup
Sebenarnya masih ada beberapa kaidah lain, tapi tingkat keakuratannya belum dapat dipastikan.
Tapi secara ringkas, inti sari utama dari semua kaidah ini adalah bersifat teliti dan obyektif.
Biarkah alquran saja yang memberikan data dan pengkaji alquran tinggal menyimpulkan dari data tersebut.
Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Anda merasa tulisan ini bermanfaat?
Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih
Leave a Reply