Pengantar
Artikel ini membahas apa yang diperlukan untuk bisa menjadi seorang penafsir ilmiah alquran. Utamanya ini terkait dengan menumbuhkan sikap berpikir kritis, yang bersifat obyektif, logis dan konsisten.
Basmallah
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya
Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Pendahuluan
Sebenarnya tidak pernah ada persyaratan umum atau khusus untuk menjadi penafsir ilmiah alquran).
Dalam arti seseorang harus menguasai ilmu ini itu, harus sudah menamatkan suatu perkuliahan, lulus ujian tertentu dsb.
Siapapun yang mau berpikir, bisa menjadi seorang penafsir ilmiah alquran.
Karena kegiatan berpikir bisa dianggap sebagai bagian hidup, bisa dikatakan tidak ada persyaratan untuk menjadi penafsir ilmiah alquran.
Apabila kegiatan berpikir tetap dianggap sebagai suatu persyaratan, maka berarti persyaratan untuk menjadi penafsir ilmiah alquran hanyalah kesiapan untuk berpikir dan menggunakan akal, tidak ada lainnya lagi.
Untuk diingatkan lagi, menggunakan akal sehat juga merupakan perintah alquran.
Meskipun begitu, tentu saja kegiatan menggunakan berpikir disini tidak semudah yang terucap atau tertulis.
Jadi tidak semua kegiatan berpikir, yang hanya sekedar asal ucap tanpa memikirkan efek, sebab akibat dsb.
Tapi kegiatan berpikir yang dilandaskan pada data alquran, dan kemudian menarik kesimpulan (tafsir) dengan cara yang tepat.
Jadi seperti kegiatan berpikir para ilmuwan yang terbukti sukses dalam membawa kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kegiatan berpikir yang bersifat logis, obyektif dan konsisten (LOK).
Untuk bisa memahami sifat berpikir yang logis, obyektif dan konsisten, kita harus mengembangkan dulu sikap berpikir kritis.
Berpikir kritis
Berpikir kritis adalah kegiatan berpikir yang selalu mempertanyakan segala hal, mencari inkonsistensi, kesalahan dsb.
Untuk diingatkan, postulat tafsir ilmiah alquran (TIA) adalah alquran selalu benar.
Ini berarti obyek serangan berpikir kritis bukanlah ayat alquran, melainkan pemahaman terhadap alquran.
Sekali lagi, ini bukan kegiatan mencari kesalahan alquran, tapi mencari tafsir yang bisa selalu lulus uji terbebas dari segala kesalahan, sekecil apapun itu.
Cara menumbuhkan sikap kritis
Cara terbaik untuk menumbuhkan sikap kritis TIA adalah membangun ketidaksukaan.
Jadi bagaimana menganggap segala bentuk tafsir, bahkan termasuk yang kita buat sendiri, bukan sebagai hasil pekerjaan kita.
Tapi hasil pekerjaan orang lain, saingan kita, orang yang tidak kita sukai.
Meskipun tentu saja ini berkaitan dengan keobyektifan, dan bukan personal.
Jadi, bagaimana menunjukkan bahwa suatu tafsir adalah salah, inkonsisten dsb, dari sisi logika.
Dan bukan dilandasi semangat kebencian tanpa dasar, yang hanya bisa menyalahkan tanpa bisa memberikan alasan ataupun solusi yang lebih baik.
Pada akhirnya, tujuan utama haruslah untuk mendapatkan pemahaman terbaik alquran, dan bukan dianggap menang oleh orang lain/umum.
Tolok ukur kebenaran selalu hanya bergantung dari Allah SWT.
Tidak ada yang memberikan ridho untuk bisa masuk surga kecuali Allah SWT.
Tidak ada juga yang bisa menyelamatkan dari neraka kecuali Allah SWT.
Kita tentu saja tidak mau kalau serangan kita yang personal, yang memanfaatkan popularitas atau kebencian, membuat suatu pemahaman yang benar di sisi Allah SWT, dianggap salah oleh masyarakat umum.
Di sini, kita pasti akan terkena status membawa kesesatan kepada umat manusia, melalui tindakan menutupi kebenaran.
Jadi, kita selalu harus berusaha sebaik mungkin untuk hanya mengikuti keinginan Allah SWT, tidak ada lainnya lagi.
Dan jalan terpasti untuk mencapai ini adalah dengan sesuatu yang selalu sesuai dengan alquran, lebih tepatnya lagi juga bersifat logis, obyektif dan konsisten, sesuai dengan prinsip basmallah.
Jadi, kita tidak membangun kebencian secara personal, melainkan ketidaksukaan yang memiliki landasan yang kuat.
Pada akhirnya, kita tidak akan bisa menganggap diri kita seorang penafsir ilmiah alquran, yang berpikir secara logis, obyektif dan konsisten, apabila tafsir yang dihasilkan tidak pernah melalui ujian tersebut.
Hanya setelah melalui ujian yang bersifat LOK, dan sesuai prinsip basmallah, barulah kita meyakini bahwa hasil tafsir kita (insya Allah) adalah benar.
Bukan hanya dari sisi kita pribadi, tapi juga dari sisi Allah SWT.

Latihan berpikir kritis
Sama halnya dengan segala hal, tidak pernah ada jalan pintas untuk menjadi ahli kecuali dengan berlatih dan terus berlatih.
Jadi bagaimana kita menerapkan apa yang kita pahami, kita kuasai dalam bentuk praktik.
Tidak ada jalan lain untuk menjadi ahli berpikir kritis, kecuali dengan menerapkannya dalam kehidupan.
Kita harus berusaha, dalam kehidupan sehari-hari, untuk berlatih membangun mentalitas tersebut.
Jadi, ketika kita membaca berita atau kejadian, atau mengalaminya sendiri, kita harus berusaha untuk tidak hanya sekedar menerima saja.
Tapi tumbuhkan juga mentalitas untuk mencari jawaban dari pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
Mengapa itu bisa terjadi? Bagaimana proses terjadinya? dsb
Lebih jauh, jangan hanya menunggu dan membaca atau mendengarkan jawaban dari pakar.
Tapi berusahalah untuk menemukannya dengan berpikir secara mendalam terlebih dahulu.
Segala sesuatu hampir selalu memiliki penjelasan yang bersifat logis, obyektif, dan konsisten (LOK).
Bahkan perilaku manusia yang terasa tidak LOK, apabila dianalisa secara mendalam, biasanya bersifat LOK.
Sifat obyektif
Untuk bisa berpikir kritis dengan baik, salah satu hal terpenting adalah keobyektifan.
Jadi bagaimana agar pertanyaan kritis tidak keluar tanpa dasar, melainkan dari sesuatu yang bisa disepakati.
Salah satu yang disepakati secara bersama, oleh manusia yang berbeda paham dan agama, adalah nilai-nilai kebaikan.
Jadi, setiap kritik yang dilakukan harus selalu sejalan dengan nilai-nilai kemashlahatan.
Nilai kemashlahatan ini biasanya disebut sebagai golden rule. “Jangan lakukan pada orang lain apa yang tidak mau dilakukan pada dirimu”.
Meskipun prinsip ini bagus, tapi alquran, memiliki prinsip yang lebih sempurna, yaitu prinsip basmallah. Ketauhidan kepada Allah SWT dan meneladani sifat arrahmaan dan arrahiim.
Dari sini, prinsipnya adalah, apapun kritik yang dilakukan, haruslah selalu menyinggung sisi kemashlahatan.
Apakah suatu pemahaman membawa mashalahat atau tidak? kebaikan atau keburukan? Apakah kebaikan yang ada bersifat konsisten? dsb
Tidak peduli menggunakan golden rule atau prinsip basmallah, nilai kebaikan bersama harus selalu selalu disinggung dan menjadi fokus.
Tolok ukur lain
Selain tolok ukur dari sesuatu yang universal, tolok ukur lainnya adalah dari kesamaan sifat dan definisi, dari obyek yang terlibat.
Kesamaan tersebut harus selalu dipertahankan dalam setiap situasi, dalam setiap kondisi, tanpa perkecualian.
Status atau pandangan manusia sebagai pelaku tidak bisa dan tidak boleh menjadi bahan pertimbangan sama sekali.
Sebagai contoh adalah bunga bank.
Apabila bunga bank dianggap sebagai riba, sesuatu yang haram, maka margin bank syariah untuk transaksi murabahah, yang memiliki kesamaan sifat dan jenis, dan pelaksanaan, seharusnya juga dianggap sebagai riba.
Apabila keduanya mau dianggap berbeda, maka haruslah ada suatu perbedaan yang jelas dan obyektif di dalam pelaksanaan keduanya. Tidak bisa tidak.
Tapi apabila pembeda yang obyektif tidak bisa ditemukan, yang hanya terkait dengan obyeknya, maka statusnya adalah keduanya sama saja.
Jadi tidak bisa karena sesuatu dilakukan oleh umat islam, maka menjadi berstatus halal.
Status sama atau berbeda tidak bisa didasarkan dari pelakunya, melainkan dari sifat suatu obyek sepenuhnya.

Kehadiran solusi
Hal lain yang juga penting dalam membangun keobyektifan adalah kehadiran solusi.
Perbedaan utama antara kritik dengan sikap menyalahkan (nyinyir) adalah dari keberadaan solusi.
Kalau kita hanya bisa menyatakan sesuatu sebagai salah, tanpa memberikan solusi yang lebih baik, maka itu bukanlah kritik.
Tapi hanya sikap menyalahkan, sering disebut juga sebagai nyinyir.
Kita hanya bisa menyatakan bahwa apa yang kita sampaikan adalah benar, dan sesuatu yang kita serang sebagai salah, dari kehadiran solusi.
Tanpa adanya perbaikan, segala bentuk kritik bukanlah kegiatan obyektif, melainkan hanya bersifat subyektif.
Keberadaan solusi juga berfungsi sebagai penambah kualitas dan bobot kritik.
Dengan adanya solusi, suatu kritik menjadi memiliki kelayakan untuk dibahas dan didiskusikan lebih lanjut.
Paling tidak, di sini ada dua hal yang dapat dibandingkan, solusi itu sendiri dan obyek awal yang diserang.
Tanpa adanya solusi, sebaik apapun suatu kritik, bahkan terhadap obyek yang jelas rusak dan absurd, tidak memiliki kelayakan untuk dipedulikan lebih lanjut.
Ini karena sama sekali tidak ada perbaikan apapun yang ditawarkan.
Pada akhirnya, apalah gunanya menyalahkan sesuatu tanpa ada alternatif perbaikan?
Lebih jauh, ketiadaan solusi adalah penanda pasti dari kehadiran sikap mencari kesalahan.
Sesuatu yang tidak layak untuk diberi panggung, kecuali bagi mereka yang menikmati kegiatan berbuat dosa.
Secara otomatis, mau tidak mau, kita memang harus memahami apa yang kita sampaikan.
Sebab kita tidak akan mampu memberikan solusi apabila tidak memiliki pemahaman mendalam.
Solusi ini sendiri juga tidak perlu bersifat detil, mendalam, atau unik.
Justru solusi yang sederhana biasanya adalah jalan terbaik.
Tapi hal terpenting dari solusi adalah adanya perbaikan yang bisa disepakati.
Mencari kelebihan
Jalan lain yang juga perlu dilakukan untuk menumbuhkan sifat obyektif adalah dengan mencari kelebihan dari pemahaman yang tidak disukai.
Kita harus memposisikan diri sebagai pembela dari pemahaman yang tidak disukai.
Bagaimana melakukan pembelaan dari serangan yang dilakukan, tentu saja ini berdasarkan aturan yang disepakati bersama, dan bukan sekedar pembelaan buta.
Di sini kita akan berlatih mencari celah kelemahan dari serangan oleh argumentasi kita sendiri.
Pada akhirnya, ini akan membantu kita dalam memberikan pembelaan yang lebih baik lagi dari berbagai potensi serangan.
Tapi kelebihan paling utama adalah membantu menumbuhkan sikap toleransi di dalam diri kita.
Dari sini kita akan selalu memahami realitas perbedaan pendapat yang selayaknya dihormati.
Ini tentu saja dengan persyaratan semuanya adalah sesuatu yang membawa kebaikan dan bukan keburukan.
Apabila suatu pemahaman bersifat egois, tidak membawa kebaikan sama sekali, maka pemahaman semacam itu jelas tidak layak untuk dihormati, dan selayaknya dimusnahkan tanpa ampun.
Sifat logis
Untuk bisa memahami sikap logis menurut TIA, kita perlu kembali kepada realita isi alquran.
Sebagaimana diketahui, secara tujuan, isi alquran bisa dibagi ke dalam empat kelompok.
Mereka ada aturan hukum, potensi kenikmatan dan kesengsaraan, informasi, serta nasehat.
Dari empat kelompok itu, fokus TIA utamanya hanya terkait aturan hukum dan nasehat.
Isi terkait potensi nikmat surga dan kesengsaraan neraka adalah merupakan hal gaib yang tidak perlu dibahas secara mendalam.
Pada akhirnya panca indra manusia dan logika tidak akan mampu menjangkaunya secara detil, jadi cukup dipercaya dan diimani.
Tidak perlu ada pembahasan mendalam, seperti berapa kira-kira panas api neraka, seluas apa surga itu dsb.
Kita hanya perlu percaya bahwa semua hal itu eksis, baik secara logika atau keimanan.
Sedangkan sumber informasi, sebagai penegas alquran sebagai kalam Allah SWT, juga tidak begitu perlu dibahas.
Ini karena seorang pengkaji alquran biasanya adalah seorang muslim yang tidak memerlukan tambahan alasan untuk beriman kepada alquran.
Memang kadangkala hal ini perlu dikaji secara mendalam.
Utamanya untuk menunjukkan bahwa fakta ilmiah yang disebutkan alquran bisa menjadi pionir untuk memahami alam, dan bukan sekedar kegiatan mencocokkan ayat alquran dengan hukum alam yang sudah terkuak.
Tapi secara utama, tetap saja bisa dianggap bahwa hanya tersisa aturan hukum dan nasehat sebagai isi alquran yang paling penting untuk dikaji.
Dari sini, kegiatan seorang penafsir ilmiah alquran, utamanya hanya terkait dengan ayat alquran yang menghasilkan aturan hukum serta nasehat.
Memang kadangkala seorang penafsir ilmiah alquran membahas selain itu, tapi biasanya semuanya selalu bermuara kepada aturan hukum atau nasehat yang perlu dilaksanakan oleh manusia.

Tujuan syariah
Aturan dan hukum serta nasehat alquran, selalu bermuara pada satu hal, yaitu tujuan syariah.
Tujuan syariah ini meliputi lima hal, yaitu penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.
Semuanya itu bisa disatukan lagi ke dalam satu frasa yaitu mashlahat atau kebaikan.
Jadi, semua aturan dan hukum islam pada akhirnya haruslah selalu membawa kebaikan atau manfaat.
Batasan logis dalam TIA adalah kesesuaian suatu pemahaman atau tafsir dengan tujuan agama yaitu kebaikan.
Jadi sesuatu dianggap logis, menurut TIA, apabila secara logika dan akal sehat, mutlak menghasilkan kebaikan dan bukan keburukan.
Atau minimal tingkat kebaikannya, yang bersifat obyektif, jelas jauh lebih besar daripada keburukannya.
Secara otomatis, apabila suatu tafsir atau pemahaman tidak membawa kebaikan, dan malah keburukan, sesuatu itu tidak dianggap logis untuk eksis.
Jadi batasan logis dalam TIA sama sekali tidak terkait dengan panca indera, kebenaran rasional, supra-rasional dsb.
Batasan logis menurut TIA hanya terkait dengan satu hal, yaitu bermuara pada kebaikan bersama, dilihat dari sudut pandang akal sehat.
Jadi segala aturan atau hukum agama atau nasehat harus selalu menghasilkan efek kemashlahatan, tanpa bisa dibantah sama sekali.
Apa itu tafsir ilmiah alquran?
Batasan logis
Batasan logis seperti yang dijelaskan sebelumnya bersifat mutlak, dalam arti tidak bisa dihindari.
Hanya apabila pesan ayat alquran bukan merupakan aturan agama atau nasehat, maka barulah batasan logis tersebut tidak perlu diikuti.Tapi berhubung isi dari ayat alquran secara tujuan hanya terbagi ke dalam empat kelompok, ini berarti menyisakan isi berupa informasi dan potensi nikmat/penderitaan yang tidak perlu mengikuti aturan logika untuk menghasilkan mashlahat.
Lebih jauh, isi alquran berupa informasi biasanya merupakan fakta ilmiah, yang secara otomatis logis, maka ini berarti ayat-ayat tersebut pastilah bersifat logis.
Situasi ini menyisakan ayat alquran terkait potensi nikmat surga dan penderitaan neraka yang tidak perlu mengikuti aturan logika.
Tapi karena bisa dikatakan hal-hal tersebut merupakan hal gaib yang memang tidak perlu pendalaman logika, bisa dikatakan tidak ada satupun ayat alquran yang bisa terbebas dari aturan logika dan akal sehat untuk membawa mashlahat.
Bisa dikatakan, penjelasan logis sesuai akal sehat harus selalu tersedia untuk semua hal di dalam alquran, kecuali untuk hal-hal gaib atau segala bentuk mukjizat, yang berkaitan dengan kuasa Allah SWT.
Hanya untuk dua hal itu, ketidakmampuan logika dan akal sehat untuk mencernanya, membuatnya menjadi konsisten dengan kehidupan manusia, bisa ditoleransi.
Tapi selain dari dua hal tersebut, segala pesan dari isi alquran harus bersifat logis, sesuai dengan akal sehat untuk membawa kebaikan.

Tidak terkait sama sekali dengan panca indera
Satu hal yang sering disalahpahami adalah alquran tidak pernah sekalipun menegaskan pentingnya panca indera dalam kaitannya dengan status berakal dan berpikir ini.
Contoh paling utama adalah kisah mengenai pencarian Tuhan oleh nabi ibrahim as (6:75-79).
Dari kisah ibrahim as, didapatkan makna bahwa dirinya berusaha menggunakan panca indera, yaitu penglihatannya untuk menemukan Tuhan.
Tapi semua yang terkait dengan panca indera itu bersifat lemah, tidak memiliki kesempurnaan.
Dari situlah, pada akhirnya ibrahim as memutuskan untuk hanya menyembah Tuhan yang tidak terlihat, yang tidak bisa dijangkau oleh panca inderanya, tapi bisa dijangkau oleh akalnya.
Tuhan yang menguasai segalanya, Tuhan yang menciptakan bintang, bulan, matahari dsb.
Apabila kita bicara ilmu pengetahuan modern, para ilmuwan sendiri nyaris tidak pernah melihat atom, apalagi quark dsb.
Hanya pada masa sekarang saja, setelah perkembangan teknologi di sana sini didapatkan foto atom. Itu pun hanya terlihat seperti bola bundar. Tidak terlihat awan elektron, apalagi inti atom.
Meskipun begitu, tanpa bukti panca indra, para ilmuwan tetap mempercayai eksistensi atom.
Mengapa? karena ada buktinya, yaitu hasil eksperimen.
Sama halnya dengan gelombang elektromagnetik, yang tidak bisa dilihat, tapi jelas eksis, karena memiliki efek yang eksis dan obyektif.
Dari sudut pandang seorang penafsir ilmiah alquran, hasil eksperimen ini digantikan oleh kemashlahatan.
Jadi logis sebagai sifat seorang penafsir ilmiah alquran bukan berarti harus sesuai dengan panca indera, melainkan sesuai dengan nilai-nilai kebaikan.
Dan efek kemashlahatan ini harus selalu obyektif, bisa disepakati oleh siapapun, tanpa perkecualian.
Hasil kerja seorang penafsir ilmiah alquran dianggap logis hanya apabila efeknya, melalui penelusuran akal sehat, selalu sesuai dengan nilai-nilai kebaikan atau prinsip basmallah.
Semua jenis kekuasaan Tuhan bersifat logis
Dalam kaitannya dengan kekuasaan Tuhan maka prinsip dasarnya adalah semuanya selalu bersifat logis.
Mukjizat nabi musa as yang membelah laut, nabi ibrahim as yang tidak hangus, atau nabi muhammad saw yang berisra mi’raj, memang terasa tidak logis menurut panca indra dan kemampuan manusia.
Tapi apabila kita melihatnya dari sisi Kemahakuasaan Tuhan, yang tidak terbatas, semuanya bersifat sangat logis.
Tuhan yang menciptakan alam semesta tentu akan dapat dengan mudah merubah hukum-hukumnya untuk kasus dan situasi tertentu.
Faktanya juga, manusia itu tidak diberikan ilmu melainkan hanya sedikit.
Sebagai misal apabila pada zaman dulu diceritakan bagaimana seseorang bisa berbicara dengan orang lain yang terpisah jarak sangat jauh, di belahan bumi lain, bisa melihat orang tersebut dsb, maka hal itu pasti akan dianggap omong kosong belaka.
Tapi pada masa sekarang, itu adalah hal yang biasa saja.
Jadi sesuatu bisa saja terasa tidak terjangkau akal, tapi sebenarnya bisa. Semuanya hanya persoalan waktu dan ilmu.
Sesuatu tidak terjangkau akal utamanya karena ilmu pengetahuan manusia belum mencapai tahap itu, tapi setelah ilmu pengetahuan bisa mencapainya, semuanya menjadi logis untuk eksis.
Meskipun harus diakui juga bahwa mukjizat Tuhan berbeda, dan sampai kapan pun manusia tidak akan mampu bisa menirunya.
Tapi tetap saja, dengan menerima eksistensi Tuhan, menerima sifat KemahakuasaanNya, maka segala bentuk mukjizat bersifat logis untuk eksis.
Mereka hanya tidak logis dari replikasi oleh manusia, tapi logis untuk dijangkau dan dipahami akal.

Contoh penerapan
Sebagai contoh adalah pemahaman mengenai keharusan memilih pemimpin muslim dalam sistem demokrasi.
Faktanya, tidak semua orang muslim baik, banyak juga yang jahat, bodoh, korup dsb.
Memaksakan bahwa umat islam harus memiliki pemimpin beragama islam tapi korup dan bodoh dibanding pemimpin non muslim tapi pandai dan amanah jelas adalah suatu kebodohan.
Dan ini bukan sekedar kebodohan, tapi kemungkaran besar, dan merupakan kegiatan menjual agama secara terang benderang.
Berpikir bahwa perintah alquran semacam itu eksis adalah sesuatu yang tidak logis, karena jelas tidak sesuai dengan akal sehat manusia yang bermuara pada kebaikan bersama.
Tidak perlu ditanyakan lagi, memilih pemimpin muslim yang bodoh dan korup pasti akan membawa kepada keburukan dan kehancuran. Dan memilih pemimpin non muslim yang amanah dan pandai akan membawa mashlahat.
Pemahaman ini juga tidak mungkin bisa dibantah sama sekali.
Jadi apabila ada pemahaman sebaliknya, yang diklaim berasal dari alquran, maka bisa dipastikan itu merupakan suatu kebohongan besar.
Tafsir semacam ini hanyalah tafsir berdasarkan nafsu untuk mendapatkan keuntungan yang dipaksakan untuk menjadi perintah Tuhan.
Bersikap konsisten
Apabila bersikap obyektif adalah mendasarkan sesuatu pada pandangan yang bisa disepakati, biasanya adalah kebaikan.
Dan bersikap logis adalah kesesuaian pandangan tersebut akal sehat yang bermuara pada kebaikan.
Maka bersikap konsisten adalah kesesuaian terjadinya kebaikan itu dalam berbagai situasi dan kondisi, tanpa ada perkecualian sama sekali.
Di sini, hasil kerja seorang penafsir ilmiah alquran harus selalu konsisten membawa kemashlahatan dalam berbagai situasi kondisi.
Tidak peduli dalam kondisi yang sama, berbeda, di mana saja, kapan saja, siapapun pelakunya dsb, hasil kerja seorang penafsir ilmiah alquran harus selalu konsisten menghasilkan kemashlahatan.
Tidak bisa tidak.
Kecuali memang ada penegasan alquran
Perkecualian terhadap situasi ini adalah ketika ada situasi kondisi khusus yang memang ditegaskan oleh alquran.
Dalam situasi ini, suatu aturan atau hukum tetap bersifat mutlak, dan pengecualian memang ada, tapi hanya dalam situasi yang memang dijelaskan oleh alquran itu sendiri.
Jadi tidak bisa suatu perkecualian eksis dari selain alquran, apakah itu dari hadits, sunnah, pikiran manusia, nafsu dsb.
Meskipun begitu, perkecualian pelaksanaan aturan semacam ini biasanya selalu sejalan membawa kemashlahatan.
Jadi melaksanakan ataupun tidak melaksanakan, semuanya sama-sama membawa efek kebaikan, yang bersifat obyektif.
Apabila dicari dari alquran, bisa dikatakan hanya ada dua jenis aturan agama yang bersifat relatif ini.
Pertama adalah terkait makanan haram, yang bisa menjadi halal dalam keadaan darurat (QS 2:173).
Kedua adalah bersikap taqiyah pura-pura kafir, tetap menjaga keimanan, demi menjaga diri dari bahaya (QS 16:106).
Tapi selain dari dua itu, semua aturan agama selalu bersifat tetap dan mutlak, tidak ada perubahan dalam situasi dan kondisi yang berbeda.
Dapat diamati juga, bahwa kedua aturan yang memiliki perkecualian itu, kegiatan melaksanakan atau tidak melaksanakannya, tidak membawa efek kemungkaran di muka bumi.
Seseorang yang memakan babi, maka hal itu jelas tidak akan berefek apapun kepada situasi kemungkaran bagi orang lain.
Tapi hal itu justru bisa jadi membawa mashlahat untuk dirinya, sebagai misal dalam situasi kelaparan dan memerlukan gizi, maka memakan babi bisa jadi menyelamatkan dirinya.
Hal yang sama juga terjadi dengan sikap taqiyah.
Keimanan seseorang adalah urusan dirinya dengan Allah SWT. Seseorang menjadi muslim, atau kafir, maka itu adalah pilihan pribadinya. Tidak akan berefek kepada siapapun.
Jadi eksistensi taqiyah atau tidak taqiyah, tidak membawa efek kemungkaran sama sekali.
Malah bisa menjadi mashlahat apabila hal tersebut bisa menyelamatkan hidup seseorang.
Pendek kata, kemashlahatan mutlak harus eksis dalam situasi apapun.

Apabila tidak konsisten maka berarti ada kesalahan
Karena sangat jelas bahwa pengecualian aturan hanya bisa eksis akibat penegasan alquran, maka apabila tidak ada pengecualian oleh alquran, dan terjadi inkonsistensi dalam penciptaan kebaikan, maka ini menunjukkan adanya kesalahan.
Jadi apabila suatu aturan tidak membawa kebaikan secara konsisten, dalam berbagai situasi dan kondisi, maka aturan itu pastilah salah, dan bukan merupakan aturan alquran.
Meskipun begitu, kadangkala konsistensi tetap bisa terbentuk, tapi hanya dengan merubah aturan dalam situasi dan kondisi tertentu, yang tidak didasarkan pada alquran.
Dalam situasi ini, prinsipnya adalah kebenarannya (insya Allah) adalah semangat yang mendasari perubahan itu.
Di sini, tidak ada aturan yang bersifat tetap dan konstan.
Aturan yang (insya Allah) benar adalah aturan yang bersifat relatif, yang memang bisa berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi.
Jadi, yang bersifat konsisten adalah semangat yang mendasari semuanya secara konsisten.
Sebagai contoh adalah tatacara shalat.
Sangat jelas tidak ada tatacara shalat yang bisa menjamin seorang muslim jauh dari sifat keji dan mungkar.
Ada muslim yang shalatnya dengan cara A tapi baik, tapi ada juga yang sifatnya buruk.
Demikian pula dengan muslim lain yang shalatnya dengan cara B dan berperilaku buruk, tapi ada juga yang baik.
Jadi, tatacara shalat tidak bisa dianggap sebagai faktor yang menghasilkan status pendirian shalat.
Di sini, satu-satunya yang bersifat konsisten untuk menghasilkan status pendirian shalat hanyalah usaha orang itu sendiri.
Jadi bagaimana orang tersebut menjaga dirinya dari perbuatan keji dan mungkar dsb.
Ketika seseorang melakukan itu, maka itulah shalat yang (insya Allah) diterima.
Jadi status pendirian shalat tidak berasal dari tatacara shalat itu sendiri, tapi usaha untuk menjaga perilaku di luar shalat.
Shalat tetap harus dilaksanakan, tapi tidak terbatas pada ritual, tapi juga efek setelah ritual dilakukan.
Melaksanakan shalat adalah dengan persiapan shalat (wudhu atau mandi) dan melakukan ritual shalat.
Tapi mendirikan shalat adalah dengan menjaga perilaku di luar shalat.
Penutup
Secara kesimpulan, prinsip berpikir agar bisa menjadi penafsir ilmiah alquran dengan baik adalah berpikir kritis, yang bersifat obyektif, logis dan konsisten.
Berpikir kritis adalah selalu mempertanyakan segala hal, mencari inkonsistensi, kesalahan dsb. Tentu saja juga bukan mencari kesalahan yang asal-asalan, dilandasi kebencian buta, tapi yang berlandaskan sudut pandang yang obyektif, logis dan konsisten.
Sifat obyektif berarti mendasarkan pokok pikiran pada sesuatu yang bisa disepakati secara umum, biasanya ini adalah kemashlahatan atau kebaikan. Kita bisa menggunakan tolok ukur golden rule atau prinsip basmallah.
Sifat logis berarti hasil dari kegiatan penafsiran ilmiah alquran pada akhirnya harus selalu bermuara pada penciptaan kebaikan itu bagi kehidupan. Ini karena alquran jelas tidak mungkin menciptakan hukum yang akan menciptakan kerusakan di muka bumi.
Sedangkan sifat konsisten berarti sifat kemashlahatan itu harus selalu bisa eksis dan tercipta dalam segala situasi dan kondisi. Tanpa ada perkecualian sama sekali.
Semua penjelasan di atas adalah petunjuk untuk melatih diri agar bisa berpikir kritis.
Dari sini, diharapkan siapapun pada akhirnya bisa mengkaji alquran sendiri, dan membuka tabir yang disiapkan Allah SWT bagi hambaNya yang mau menggunakan akalnya.
Sebenarnya juga, keahlian ini tidak hanya berguna untuk menopang kegiatan sebagai penafsir ilmiah alquran.
Kemampuan berpikir kritis yang logis, obyektif dan konsisten ini sebenarnya dibutuhkan dan diterapkan di segala bidang ilmu. Tidak terbatas pada ilmu pasti juga, tapi juga ilmu sosial.
Pada akhirnya, sifat manusia itu sebenarnya logis, memiliki pola yang jelas, sesuai dengan nilai-nilai dirinya.
Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Anda merasa tulisan ini bermanfaat?
Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih
Leave a Reply