kembali ke alquran

Ketidaksinkronan hadits dengan alquran

Pengantar

Banyak muslim yang tidak mengetahui adanya ketidaksinkronan hadits dengan alquran. Artikel ini membahasnya dan menunjukkan bahwa perbaikan dapat dilakukan dengan menjadikan alquran sebagai penjelas hadits, bukan hadits sebagai penjelas alquran. Ini juga menjadi bukti tak terbantahkan bahwa hadits tidak bisa dianggap sebagai penjelas alquran, karena faktanya penggunaan hadits malah menciptakan masalah yang lebih banyak lagi.

Artikel ini adalah tulisan 4 dari 6. Anda dapat membaca lainnya 1 / 2 / 3 / 5 / 6
Sumber feature image

Basmallah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya

Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Pendahuluan

Berbeda dengan pertentangan hadits dengan alquran, dimana hadits harus dibuang karena jelas bertentangan dengan alquran, tanpa ada jalan untuk mendamaikannya, ketidaksinkronan hadits dengan alquran adalah pertentangan yang masih bisa dicarikan titik temunya.

Meskipun begitu, keselarasan ini hanya bisa ditemukan dengan menjadikan alquran sebagai pembeda dan penyaring, bukan hadits.
Jadi alquran yang menjadi penjelas, bukan dijelaskan, dan hadits yang dijelaskan, bukan penjelas.
Ini bisa dianggap sebagai cara lain untuk menunjukkan kesempurnaan posisi alquran sebagai penjelas segalanya, melalui hadits.

Dari sini, mau tidak mau, tetap saja prinsip yang muncul adalah satu-satunya sumber hukum hanyalah alquran. tidak ada lainnya lagi.
Hadits hanyalah sumber sejarah, narasi kehidupan nabi muhammad saw dan para sahabat, tidak lebih dari itu.
Hadits bukanlah dan tidak pernah menjadi penjelas alquran atau sumber hukum islam.

Biasanya, hadits yang bisa ditemukan keselarasannya dengan alquran di sini adalah hadits yang berkaitan dengan asbabun nuzul, riwayat turunnya suatu ayat alquran.

Aisyah kehilangan kalung – ayat tayamum

Salah satu ketidaksinkronan hadits dengan alquran terjadi dalam asbabun nuzul turunnya ayat tayamum.

Alkisah dalam suatu perjalanan bersama rasulullah saw dan umat islam, aisyah kehilangan kalungnya. Situasi ini membuat rasulullah saw mencari kalung tersebut bersama dengan para sahabat. Saat itu ditempat pencarian kalung tidak tersedia air untuk berwudhu. Akibatnya kaum muslim menceritakan masalah mereka kepada abu bakar ra, yang kemudian memarahi aisyah karena akibat dirinya umat islam tidak bisa melaksanakan shalat. Ketika rasulullah saw bangun dari tidurnya, turunlah ayat mengenai tayamum (5:6).

Hadits ini untuk selanjutnya disebut hadits tayamum
https://sunnah.com/bukhari/7
Reference : Sahih al-Bukhari 336
In-book reference : Book 7, Hadith 3
USC-MSA web (English) reference : Vol. 1, Book 7, Hadith 332

Secara ringkas, hadits di atas dianggap sebagai asbabun nuzul (sebab) dari turunnya ayat tayamum.
Hadits itu juga memiliki beragam versi, dari situasi dimana umat islam sampai shalat tanpa berwudhu, abu bakar ra memukul aisyah sehingga dirinya kesakitan dsb.
Permasalahannya adalah, apabila hadits ini dianggap sebagai penjelas alquran, mengenai ayat tayamum, maka justru akan memunculkan banyak masalah.

…dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu…

QS 5:6

Ayat mengenai wudhu dan tayamum bisa dikatakan sudah sangat jelas, tidak perlu penjelasan apapun lagi.
Kegiatan tayamum sifatnya umum, berlaku untuk setiap muslim.
Di ayat itu juga sudah ada batasan untuk melakukan tayamum yaitu apabila tidak ditemukan air.

Tapi apabila ayat ini digabungkan dengan hadits tayamum sebagai penjelasannya, maka justru yang akan terjadi adalah keburukan.
Ini karena mau tidak mau, siapapun harus mengutak-atik makna dari ayat tayamum itu, tidak bisa tidak.

Jewel Jewelry Diamond Gem Treasure
klikovam / Pixabay

Makna ketika hadits dianggap penjelas alquran

Keburukan pertama adalah bisa muncul anggapan bahwa kegiatan tayamum bukanlah kegiatan yang umum diperbolehkan untuk umat islam, melainkan hanya sekedar keringanan untuk nabi muhammad saw dan para sahabatnya ketika melakukan perjalanan.
Memang ini adalah hal yang absurd, tapi apabila hadits dianggap sebagai penjelas alquran, maka pemahaman seperti ini sah-sah saja untuk muncul dan tidak bisa dibantah sama sekali.
Karena faktanya, ayat tayamum tidak muncul ketika kondisi umat islam dalam keadaan normal, tapi ketika dalam keadaan kesulitan air.
Dari sini bisa muncul pemahaman bahwa kesulitan air umat islam pada masa lampau itu yang memunculkan keringanan tayamum, yang berarti keringanan itu hanya untuk mereka.

Keburukan lainnya adalah kemunculan anggapan bahwa kegiatan tayamum membutuhkan persyaratan perjalanan. Ini karena faktanya ayat itu keluar ketika umat islam sedang melakukan perjalanan.
Padahal dari ayat alquran, sangat jelas bahwa kebolehan tayamum itu utamanya akibat ketiadaan air.
Apabila umat islam mau melakukan ibadah, dan tidak ditemukan air, maka dilakukan tayamum sebagai pengganti. Selain ini bisa dikatakan tidak ada persyaratan lain.

Makna tambahan lain

Makna tambahan ini tidak terkait posisi hadits tayamum sebagai penjelas ayat tayamum, tapi makna yang muncul akibat hadits itu sendiri.

Hadits ini memunculkan anggapan bahwa rasulullah saw adalah seorang egois yang mengorbankan kepentingan umat islam untuk kepentingan pribadi dirinya.
Sangat jelas bahwa umat islam berhenti di tempat yang tidak memiliki air karena aisyah kehilangan kalung. Ini berarti rasulullah saw bisa dianggap mengorbankan hak umat untuk shalat dan beribadah.
Bahkan dalam salah satu versi, umat islam sampai melaksanakan shalat tanpa berwudhu sebelum ayat tayamum turun.

Hadits ini juga dapat dianggap merendahkan Allah SWT dimana seolah hukum Allah turun untuk memberikan kemudahan dan kompensasi bagi sebagian manusia.
Di sini, seolah-olah kehendak Allah tidaklah independen dan eksis hanya untuk memberikan keistimewaan bagi rasulullah saw yang melakukan kesalahan. Hadits ini secara tidak langsung jelas merendahkan sifat Iradat Allah SWT.

Tapi asumsi tersebut sangat dipaksakan

Mungkin akan ada yang protes bahwa semua asumsi tersebut sangat dipaksakan.
Jawabannya adalah tidak juga, semua asumsi tersebut sebenarnya cukup netral dan obyektif, memang sangat kritis, tapi masih dalam tahap kewajaran.

Satu hal yang perlu diingat adalah asumsi yang dipakai di sini adalah hadits itu penjelas alquran.
Ini berarti makna dari ayat alquran mengenai tayamum harus diutak atik, tidak bisa tidak.
Ini adalah efek ketika ayat alquran yang sudah sempurna, dan jelas, dipaksakan untuk dijelaskan oleh hadits.

Sudah sangat jelas dan tidak mungkin dibantah bahwa hadits tayamum adalah asbabun nuzul ayat tayamum.
Karena asumsi pemahaman konvensional adalah hadits itu penjelas alquran, maka seharusnya ada hal yang tidak ada di ayat tayamum tapi ada di hadits tayamum.
Dari sinilah muncul semua asumsi tambahan tersebut.

Sekali lagi, dua asumsi paling awal harus muncul untuk menciptakan situasi adanya sesuatu di hadits tayamum yang belum dijelaskan di ayat tayamum.
Jadi, mau tidak mau, kita memang harus mengutak atik makna dari ayat tayamum itu.
Ini karena ayat itu dianggap belum sempurna, belum jelas.

Tapi apabila kita berpandangan bahwa alquran sudah sempurna, maka semua asumsi tambahan untuk ayat tayamum tidak perlu ada.
Ini karena sudut pandang kita adalah alquran itu sudah sempurna, ayat tayamum sudah jelas, sehingga tidak memerlukan penjelasan apapun lagi.
Kita tidak perlu mengutak-atik makna ayat tayamum sama sekali.

Makna ketika alquran adalah penjelas hadits

Ketidaksinkronan hadits dengan alquran di sini, dapat dicarikan titik temunya apabila sumber penjelas adalah alquran alih-alih hadits.
Jadi alquran menjelaskan hadits, bukan hadits menjelaskan alquran.
Di sini yang akan kita tambahkan adonannya, yang diutak-atik maknanya adalah kisah hadits tayamum, bukan ayat tayamum.

Apabila kita telusuri ayat mengenai wudhu (ayat tayamum belum turun), maka akan didapati bahwa perintah bersuci untuk umat islam yang akan melakukan shalat memiliki satu kelemahan besar, yaitu kebutuhan akan air.

Nabi muhammad saw, sebagai seorang rasul yang memiliki sifat fathanah (pandai) jelas pasti sudah memahami kekurangan ini.
Dalam situasi ini, beliau pastilah berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan solusi penyucian diri dalam rangka pelaksanaan shalat ketika tidak ada air.
Dari sinilah, beliau menerima ilham atau bisa juga tidak, hal terpenting adalah memaksakan situasi ketiadaan air untuk terjadi.

Secara kebetulan aisyah kehilangan kalungnya, dari sinilah rasulullah saw sudah memprediksi bahwa ini adalah situasi yang dia harapkan untuk terjadi.
Dan sesuai harapannya, turunlah ayat mengenai tayamum.

Jadi turunnya ayat mengenai tayamum bukanlah efek dari kesulitan bersuci umat islam ketika tidak ada air, atau karena keistimewaan keluarga abu bakar ra, atau kompensasi Allah SWT untuk keegoisan nabi muhammad saw mencari kalung istrinya.
Ayat ini turun karena memang merupakan bagian dari kehendak/pengaturan Allah SWT.
Pengaturan yang berawal dari doa rasulullah saw, keperluan melakukan perjalanan bersama para sahabat, hilangnya kalung aisyah dan peristirahatan di tempat yang tidak memiliki air.

Memang tidak ada bukti apapun untuk ini.
Tapi sangat jelas bahwa situasi ini, yang berasal dari prinsip alquran menjelaskan hadits, jelas jauh lebih logis dan masuk akal daripada situasi yang berasal dari hadits sebagai penjelas alquran.

Kalau kita mendasarkan sumber penjelas adalah hadits, dan bukan alquran, maka konteks kejadian seperti di atas tidak akan pernah ditemukan.
Ini adalah salah satu bukti dari kebenaran prinsip bahwa alquran itu adalah sumber penjelas untuk hadits dan bukan hadits yang menjelaskan alquran.

Faucet Turkey Mosque Ablution
ddouk / Pixabay

Bani uraina – ayat memerangi Allah dan rasulNya

Ketidaksinkronan hadits dengan alquran lainnya berkaitan dengan cerita mengenai bani uraina.

Sekelompok orang dari bani uraina mendatangi rasulullah saw untuk masuk islam, kemudian rasul menyuruh mereka untuk meminum kencing unta. Singkat cerita, mereka kemudian membunuh pengurus unta zakat. Akibatnya rasulullah saw mengejar dan menangkap mereka, kemudian tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dirusak dengan besi panas, dan kemudian mereka dibuang untuk mati

Hadits ini selanjutnya disebut hadits uraina
https://sunnah.com/bukhari/86
Reference : Sahih al-Bukhari 6805
In-book reference : Book 86, Hadith 35
USC-MSA web (English) reference : Vol. 8, Book 82, Hadith 797
atau
https://sunnah.com/muslim/28
Reference : Sahih Muslim 1671 b
In-book reference : Book 28, Hadith 13
USC-MSA web (English) reference : Book 16, Hadith 4131

Hadits ini bisa dianggap sebagai hadits yang isinya paling kejam.
Hadits ini juga memiliki banyak versi, tapi tambahan paling utama adalah cara bani uraina membunuh pengurus unta zakat adalah dengan memotong tangan dan kaki orang tersebut dan juga sekaligus merusak matanya.

Hadits ini biasanya dianggap sebagai asbabun nuzul untuk ayat mengenai hukuman bagi orang yang memerangi Allah dan rasulNya (5:33).

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya)…

QS 5:33

Meskipun ayat alquran memerangi Allah dan rasulNya juga bisa dianggap sangat sadis, tapi jelas tingkat kesadisannya masih kalah dibandingkan dengan pesan dari hadits uraina.

Makna ketika hadits dianggap penjelas alquran

Konsep bahwa hadits uraina sebagai penjelasan ayat 5:33, sebenarnya sangatlah absurd.

Ini karena hukuman kepada bani uraina di hadits uraina jelas berbeda dengan hukuman yang ditegaskan oleh ayat 5:33.
Kalaupun ada kesamaan, itu hanya dari sisi pemotongan tangan dan kaki, masalah bersilangan juga tidak dijelaskan.
Dan dari cerita hadits uraina, bani tersebut juga dikenakan perusakan mata dan dibiarkan mati.
Dari sini, bisa dikatakan tindakan nabi muhammad saw malah melewati batasan yang ditetapkan alquran.

Padahal sangat jelas ada larangan untuk melewati batas di alquran.

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

QS 2:190

Apabila diamati, hukuman di hadits uraina jelas lebih merupakan gambaran tindakan qisas untuk bani uraina.
Jadi karena bani uraina membunuh pengurus unta dengan memotong tangan dan kaki, dan juga merusak mata, maka mereka dikenakan hukuman yang sama.

Di sini, status hadits uraina sebagai penjelas ayat alquran 5:33 sebenarnya sudah salah secara total.
Ini karena bisa dibilang tidak ada kesamaan antara keduanya sama sekali.
Bagaimana kita akan menghubungkan hadits uraina yang merupakan suatu qisas dengan ayat 5:33 yang berbicara hukuman untuk tindakan memerangi Allah dan rasulNya?

Ini adalah salah satu bukti bahwa konsep hadits sebagai penjelas alquran bukanlah konsep yang memiliki bukti obyektif melainkan sekedar konsep asal bentuk.

Makna tambahan lain

Permasalahan lain yang muncul berasal dari redaksi isi hadits uraina itu.

Dari hadits uraina, gambaran sosok nabi muhammad saw yang bersifat baik hati, ramah, murah senyum dsb menjadi hilang.
Gambaran yang terbentuk di sini adalah sosok yang pendendam, bengis, dan kejam, tidak sesuai dengan sifat rahmatan lil aalamiin yang merupakan intisari islam.
Kecuali tentu saja apabila kita memiliki standar welas asih seperti para psikopat yang gemar menyiksa korbannya.

Meskipun hadits uraina ini dijadikan justifikasi ayat 5:33, tetap saja tidak ada keterangan dari ayat 5:33 yang bercerita mengenai hukuman mencungkil mata dan membiarkan manusia mati kehausan setelah dipotong tangan dan kakinya dst.

Efek lain dari prinsip hadits sebagai penjelas alquran adalah munculnya pengobatan melalui kencing unta.
Ini karena meskipun permasalahan kencing unta tidak dibahas sama sekali oleh ayat 5:33, tapi karena hadits adalah penjelas alquran, maka prinsip pengobatan melalui kencing unta tidak bisa dihilangkan.

Siapapun yang memuja hadits, maka keimanannya belumlah sempurna apabila belum meminum kencing unta.

Jangan minum kencing unta
Bagaimana rasanya kencing unta?

Makna ketika alquran adalah penjelas hadits

Ketidaksinkronan hadits dengan alquran ini dapat dijelaskan apabila kita menjadikan ayat 5:33 sebagai penjelas hadits uraina.

Di sini penjelasan yang muncul adalah rasulullah saw melakukan tindakan qisas kepada bani uraina yang mencelakakan pengurus unta.
Tapi bagi Allah SWT, tindakan ini terlalu berlebihan dan bukan hukum yang harus diterapkan untuk umat nabi muhammad saw.
Harap diingat, aturan qisas mata ganti mata, bukanlah aturan untuk umat islam alquran melainkan aturan untuk bani israil di taurat.

Memang ada juga aturan qisas 2:178 berkaitan dengan orang yang dibunuh.
Tapi jelas juga, apabila bani uraina memang harus dihukum mati, maka mereka seharusnya dihukum mati secara normal.
Tidak boleh ada penyiksaan dengan memotong tangan kaki, membutakan mata dan membiarkan mereka mati kehausan.

Jadi hadits uraina ini bercerita mengenai tindakan rasulullah saw melakukan qisas perlakuan kepada bani uraina, berdasarkan ayat 2:178 dan 5:45.
Tapi tindakan ini terlalu berlebihan, yang kemudian ditegur oleh Allah SWT, dengan menurunkan ayat 5:33-34.

Ayat ini memang keras, tapi jelas masih lebih lunak daripada tindakan qisas.
Lebih jauh, ayat ini juga memberikan jalan pertobatan yaitu 5:34, sesuatu yang tidak akan muncul dari hukum qisas yang menuntut kesamaan perlakuan.

kecuali orang-orang yang tobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

QS 5:34

Dari jalan pertobatan di ayat 5:34, yang sangat lapang, ayat 5:33 bisa dikatakan lebih bersifat ancaman daripada benar-benar hukuman.

Dari ayat ini juga, kegiatan meminum kencing unta, dalam redaksi hadits uraina, tidak bisa dianggap serius.
Ini karena kegiatan meminum kencing unta tidak dibahas sama sekali oleh ayat 5:33.
Redaksi ini mau dibuang, mau diikuti, juga bukan masalah.
Meskipun penelitian modern membuktikan tindakan ini sebenarnya malah membawa penyakit.

Camel Animal Mammal Head
_Alicja_ / Pixabay

Ayat 5:33-34 di masa modern

Mungkin akan ada pertanyaan, bisakah ayat 5:33 diterapkan pada masa sekarang ini?
Jawabannya adalah jelas tidak bisa.

Sangat jelas pada masa sekarang sudah tidak ada nabi muhammad saw (rasulullah).
Ini berarti siapapun manusia pada zaman sekarang, tidak bisa mengklaim musuhnya adalah orang yang memerangi Allah dan rasulNya.
Bisa dikatakan, hukuman sesuai ayat 5:33 sudah tidak bisa diterapkan lagi di dunia pada masa kini.

Malah, ayat ini bisa menjadi penanda mengenai manusia yang melewati batas.
Ini karena siapapun yang melakukan perlakuan terhadap musuhnya sesuai ayat 5:33 atau bahkan lebih keras, maka mereka adalah orang bisa dianggap mengklaim dirinya sebagai rasulullah.
Orang-orang semacam ini justru jelas adalah musuh Allah SWT, dan harus dihancurkan.
Meskipun tetap saja perlakuan di ayat 5:33 tidak bisa diterapkan kepada mereka.

Surat al-qadar dan hadits malam ganjil

Meskipun seringkali ketidaksinkronan hadits dengan alquran terlihat jelas, tapi kadangkala juga tidak begitu jelas. Salah satu contoh situasi seperti ini adalah pada surat al-qadar dan hadits malam ganjil di akhir bulan ramadhan.

Apabila kita berpikir secara dangkal, memang pemahaman bahwa hadits adalah penjelas alquran akan sulit dibantah. Tapi apabila dipikirkan secara mendalam, situasi dimana alquran penjelas hadits akan jauh lebih masuk akal dan konsisten serta membawa kebaikan.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

QS 97:1-5

Makna dari hadits penjelas alquran

Dalam situasi hadits penjelas alquran, maka makna atau pesan dari sini adalah Tuhan menaruh malam lailatul qadar (ayat alquran), dan umat islam kemudian mencari malam itu di akhir bulan ramadhan terutama di malam ganjil (hadits).

Dari sini juga, bisa dianggap bahwa lailatul qadar adalah suatu malam fisik.
Ini karena menurut hadits umat islam harus mencari malam tersebut di akhir bulan ramadhan, yang memiliki tolok ukur jelas.
Jadi pada suatu malam, menurut ukuran bumi, terjadi peristiwa seperti di surat al-qadar (QS 97).

Makna ini memiliki sedikit masalah karena situasi malam hanyalah situasi relatif suatu tempat di bumi terhadap matahari.
Jadi, malam di suatu tempat bisa jadi adalah siang di tempat lain.
Ini berarti ceritanya, apabila terjadi, berkah malam lailatul qadar itu berjalan mengelilingi bumi.

Situasi ini agak sedikit kurang masuk akal, ketika sekumpulan malaikat berjalan-jalan di bumi menghindari matahari sekaligus menurunkan berkah Allah SWT.
Meskipun begitu, hal ini bukanlah suatu hal yang perlu dipemasalahkan, karena bisa saja memang kebenarannya begitu, karena masih merupakan bagian dari kekuasaan Tuhan.

Permasalahan paling utama adalah makna semacam ini, apabila tidak disadari, karena kebodohan, bisa menimbulkan kesombongan.
Ini ketika seorang muslim, sudah beribadah semaksimal mungkin di seluruh 10 hari terakhir ramadhan, maka dia bisa mengklaim pasti sudah mendapatkan lailatul qadar.
Faktanya dari hadits, lailatul qadar pasti ada di 10 hari terakhir, ini berarti kesimpulannya adalah, siapapun yang melakukan ibadah di keseluruhan malam tersebut, pastilah sudah mendapatkan lailatul qadar. Tidak bisa tidak.

Makna dari alquran penjelas hadits

Situasi menjadi berbeda ketika alquran diposisikan sebagai penjelas hadits.
Di sini, maknanya bukan lagi umat islam mencari malam lailatul qadar, tapi malam itu yang menemui umat islam.

Jadi kita memiliki hadits untuk meningkatkan ibadah di akhir bulan ramadhan, anggap tidak ada ayat alquran.
Makna dari hadits tersebut sangat jelas.
Kita, sebagai umat islam, haruslah berusaha meningkatkan ibadah kita di akhir bulan ramadhan.

Kemudian kita masukkan ayat alquran sebagai penjelas.
Ternyata, alasannya adalah karena ada lailatul qadar.
Ini berarti, situasi yang terjadi adalah umat islam meningkatkan ibadah, dan kemudian bisa menemui lailatul qadar.
Jadi bukan seseorang yang menemukan lailatul qadar, tapi lailatul qadar yang menemukan seseorang.

Dari sini, siapapun yang melakukan ibadah secara baik di seluruh malam akhir bulan ramadhan, dia tidak akan pernah berpikir pasti sudah mendapatkan lailatul qadar.
Ini karena lailatul qadar tidak ditemukan di akhir bulan ramadhan, melainkan lailatul qadar yang akan menemukan seorang muslim yang layak menerimanya.
Ibadah di akhir bulan ramadhan hanyalah suatu persyaratan untuk bisa mendapatkan lailatul qadar.
Dari sini, tidak akan pernah timbul kesombongan di benak seseorang karena merasa pasti sudah mendapatkan lailatul qadar.

Makna ini juga berarti bahwa malam lailatul qadar bisa jadi bukan suatu malam secara fisik, melainkan non fisik.
Jadi bisa saja status malam lailatul qadar tidak terjadi di bumi, tapi tempat lain, alam lain.
Tapi sekali lagi, ini bukanlah sesuatu yang perlu mendapatkan perhatian, karena tergolong kepada hal gaib.

Hal paling jelas yang tak terbantah adalah prinsip bahwa sekarang lailatul qadar yang menemukan seseorang, bukan seseorang yang menemukan lailatul qadar.
Tampak bahwa makna dan pesan dari alquran sebagai penjelas hadits ini jauh lebih baik dan konsisten daripada pesan dimana hadits adalah penjelas alquran.

Penutup

Gambaran dari hadits dan alquran menunjukkan bahwa penjelasan terbaik terhadap situasi yang ada, ketidaksinkronan hadits dengan alquran, atau ketiklogisan hadits, hanya muncul ketika alquran dianggap sebagai penjelas segala sesuatu.
Jadi di sini alquran yang bertindak sebagai penjelas untuk hadits, bukan hadits yang menjadi penjelas alquran.

Ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa kita memang harus kembali kepada alquran sebagai satu-satunya sumber hukum islam.
Dan kembali menempatkan hadits pada posisinya yang benar, yaitu bukan sebagai sumber aturan agama, melainkan hanya sekedar catatan mengenai sejarah islam.
Tidak lebih dari itu.

Berlanjut ke perbedaan hadits dan sunnah

Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Anda merasa tulisan ini bermanfaat?

Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih



Posted

in

,

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *