Pengantar
Bagaimana seharusnya sifat karakter islam alquran? Apakah karakter islam alquran ini sejalan konsep karakter dan nilai-nilai yang dianggap universal pada masa kini? Artikel ini menunjukkan karakter islam alquran, yang muncul ketika seseorang mendasarkan hidupnya pada prinsip TIA atau quranisme. Di sini penggunaan kata muslim dan islam alquran akan dipergantikan untuk keperluan SEO.
Artikel ini adalah tulisan 2 dari 2, anda dapat membaca artikel sebelumnya
Basmallah
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya
Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Bisa timbul banyak penafsiran berbeda
Salah satu ciri lain dari karakter islam berdasarkan alquran adalah kecenderungan tidak adanya penafsiran tunggal, yang mutlak dan mengikat.
Jadi meskipun TIA didasarkan pada empat aturan dasar yang harus konsisten diikuti di seluruh alquran, kadangkala bisa timbul tafsir berbeda yang juga konsisten dan sesuai dengan semua hukum dasar TIA.
Dalam situasi semacam ini, semua tafsiran tersebut bisa diklaim insya Allah benar.
Ini utamanya adalah efek dari penerapan hukum kekonsistenan makna kata (KMK).
Selama makna suatu kata bisa selalu logis dan konsisten di seluruh kemunculannya di alquran, maka makna itu bisa dianggap benar.
Dari sinilah munculnya situasi dimana ada perbedaan tafsir alquran yang sama-sama bisa dianggap benar.
Meskipun begitu, dalam situasi ini, biasanya perbedaan yang ada antar penafsiran berbeda itu tidaklah signifikan.
Dan seringkali semuanya bisa disatukan ke dalam satu penafsiran tunggal yang meliputi semua penafsiran berbeda itu.
Akibat kata yang kemunculannya sedikit
Biasanya kata semacam ini adalah kata yang jumlah kemunculannya di alquran tergolong sedikit.
Akibatnya, hukum KMK tidak bisa mengontrol makna kata semacam ini dengan ketat, berakibat kepada luasnya makna yang bisa dimiliki kata tersebut.
Kadangkala juga, meskipun sering digunakan, penggunaan kata tersebut tergolong sempit, hanya pada satu topik dan tema.
Situasi yang juga berefek kepada ketiadaan mekanisme pengontrolan makna, membuat makna kata tersebut bisa bersifat luas.
Memang kadangkala kata yang dipakai oleh alquran memiliki pasangan kata, kata yang sering muncul bersamaan, sebagai contoh seperti Arrahmaan dan Arrahiim.
Pasangan kata ini bisa jadi memiliki mekanisme pengontrolan makna yang ketat, membuat penelusuran maknanya dari hukum KMK menjadi akurat.
Dari makna kata pasangan yang akurat itu kemudian bisa dicari makna yang juga akurat untuk kata awal tadi.
Meskipun begitu, metode pencarian makna dari kata pasangan ini tidak tergolong bagian dari hukum dasar TIA.
Jadi bisa saja pengkaji alquran lain memiliki cara berbeda.
Lebih jauh, kadangkala memang ada beberapa kata yang selain memiliki kemunculan sedikit, juga tidak memiliki kata pasangan, menyebabkan maknanya terbuka lebar untuk ditafsirkan.
Dari sinilah, keluasan makna suatu kata, yang tetap sesuai dengan hukum dasar TIA, membuka lebar terjadinya hasil penafsiran yang berbeda terhadap alquran.
Tapi sekali lagi ini bukan masalah dan tidak seharusnya menjadi masalah.
Tapi kadangkala ada penafsiran tunggal
Meskipun TIA bisa menimbulkan banyaknya penafsiran yang berbeda, bukan berarti tidak mungkin ada kesatuan pemahaman yang bisa disebut sebagai penafsiran tunggal.
Aslinya ada beberapa jenis pemahaman yang bisa dianggap sebagai penafsiran tunggal.
Meskipun pada akhirnya, hasil akhir tetaplah kewajiban bertoleransi.
Apabila untuk pemilihan agama yang sudah jelas benar dan salahnya saja tidak ada paksaan sama sekali di dalamnya, maka seharusnya untuk aturan sekunder dalam agama, terdapat kebebasan yang lebih besar dan tidak dapat ditawar lagi.
Akibat makna kata yang jelas
Adanya penafsiran tunggal utamanya terjadi karena ayat alquran yang mendasarinya sifatnya sangat tegas dan jelas. Tidak memungkinkan munculnya penafsiran berbeda, apalagi bertentangan.
Dari sini, meskipun pengkaji alquran lain bisa jadi tidak sepakat dengan hukum dasar TIA, tapi mereka tidak akan memiliki jalan untuk menolak pemahaman dari ayat alquran yang pesan maknanya sangat jelas itu.
Satu-satunya cara adalah dengan menolak ayat alquran tersebut, dan karena ini tidak bisa dilakukan, maka bisa dikatakan tidak mungkin ada penolakan.
Contoh paling utama adalah surat 112 al-ilkhlash.
Makna dari ayat-ayat di surat itu bisa dikatakan sangat terang, tidak memungkinkan munculnya penafsiran lain.
Memang bisa saja ada pemahaman berbeda seperti maksud dari Ash-Shomad, tapi perbedaan tafsir disini tetap tidak memungkinkan munculnya penafsiran yang melawan konsep tauhid. Ini karena tiga ayat selainnya maknanya sangat jelas.
Tidak peduli seseorang sepakat atau tidak sepakat dengan hukum dasar TIA, dirinya jelas tidak akan bisa melawan ketegasan dari surat al-ikhlash untuk membuat konsep tauhid yang berbeda dari umum.
Akibat beragam kemunculan suatu kata
Selain ayat alquran yang menjadi penopang bersifat sangat jelas, ada alasan lain munculnya tafsiran tunggal.
Ini utamanya adalah ketika suatu kata yang menjadi titik vital pemahaman memiliki kemunculan yang sangat beragam, pada banyak situasi dan ruang lingkup.
Di sini, keberadaan hukum KMK tidak memungkinkan munculnya pemaknaan kata yang beragam.
Situasi yang pada akhirnya memunculkan penafsiran tunggal pada makna kata itu, dan secara otomatis pesan alquran.
Satu-satunya cara untuk menolak hal ini adalah dengan menolak hukum KMK.
Tapi ini berarti seseorang jelas tidak bisa menganggap kajian alquran yang dilakukannya sebagai bagian dari TIA.
Bahkan kalaupun dirinya memang tidak memperdulikan TIA, dirinya jelas berhadapan dengan logika dan konsistensi.
Bisa dikatakan, manusia semacam ini tidak mungkin bisa membanggakan fakta ilmiah dalam alquran sebagai tanda kebenaran alquran. Atau bahkan menggunakan hasil kajian alquran melalui TIA lainnya.
Sebagai contoh adalah kata YaDaIHi (YaDalYaTamarbutoh), yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Kata ini nyaris tidak bisa dimaknai selain dari sesuatu yang ada di depan dan dapat dikontrol.
Hanya ini satu-satunya makna yang bisa melingkupi semua makna sekunder seperti tangan (2:79), sebelum (3:3), di depan (2:255) dsb. Pemaknaan selain dari ini pasti akan menimbulkan inkonsistensi.
Karena pemaknaan kata ini bisa dianggap bersifat mutlak, maka sama halnya juga dengan ayat alquran yang berisi kata tersebut.
Sebagai contoh adalah mengenai hukuman potongan tangan (5:38), maka ini berarti alquran tidak benar-benar memerintahkan pemotongan tangan organ tubuh manusia. Tapi lebih pada kapabilitas seseorang untuk mencuri, mencegah bagaimana agar dirinya tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.
Memang tetap saja kata ini bisa dimaknai sebagai tangan, tapi ini juga menandakan adanya alternatif hukuman lain menurut alquran.
Apabila aparatur pembuat hukum menetapkan tangan sebagai organ tubuh manusia, maka itu adalah pilihan mereka, bukan aturan wajib dari alquran.
Mereka bisa saja benar, tapi bisa juga salah yang berarti merupakan suatu kezaliman.
Egaliter
Salah satu karakter islam alquran lainnya adalah sikap egaliter.
Tidak ada ketinggian sama sekali antara manusia satu dengan lainnya kecuali dalam hal ketakwaan.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
QS 49:13
Dalam alquran, sebenarnya tidak ada pembedaan yang nyata antara hak dan kewajiban pria-wanita, serta muslim-non muslim dalam kehidupan bermasyarakat.
Semua pembedaan terhadap pria-wanita serta muslim-non muslim, dalam hukum islam konvensional, sebenarnya tidak berasal dari alquran, bahkan juga hadits.
Bisa dikatakan, aturan alquran mengenai hal-hal tersebut jauh lebih mirip dengan paham kesamaan hak kewajiban setiap warga yang saat ini dikenal secara universal.
Pria dan wanita
Dalam alquran, satu-satunya ketinggian pria dibanding wanita hanyalah sebagai pimpinan rumah tangga (4:34), dan sebagai nabi dan rasul (21:7).
Selain dari dua ini, tidak ada lagi keistimewaan lain kaum pria dibandingkan kaum wanita.
Tidak ada cerita kunci surga istri itu ditangan suami.
Tidak ada cerita suami bebas berpoligami tanpa memberitahukan kepada istrinya (wanita memiliki hak untuk tidak dipoligami) dsb.
Memang faktualnya, pria memiliki beberapa kelebihan dibanding wanita.
Tapi sama juga faktualnya, wanita memiliki beberapa kelebihan dibandingkan pria.
Intinya adalah pria dan wanita seharusnya saling melengkapi. Bukan hanya dalam kehidupan rumah tangga (suami istri) tapi juga dalam lapangan pekerjaan.
Meskipun dalam alquran memang didapatkan aturan bahwa untuk menggantikan kesaksian 1 orang laki-laki dibutuhkan kesaksian 2 wanita (2:282), tapi hal ini bukanlah pertanda bahwa nilai kesaksian wanita adalah separuh laki-laki.
Di ayat mengenai muamalah itu, bisa dikatakan fungsi saksi hanyalah sebagai pengingat, bukan untuk adu kuat.
Ini berarti semua saksi-saksi tersebut haruslah bekerja sama, bukan saling menjatuhkan.
Ini juga bisa dilihat dari jumlah saksi awal yaitu dua pria dan bukan tiga. Ini berarti kesaksian yang ada haruslah bersifat musyawarah mufakat.
Lebih jauh, di ayat mengenai kesaksian untuk tuduhan zina (24:4), tidak disebutkan gender saksi sama sekali.
Apabila status gender saksi penting, maka seharusnya juga disebutkan di ayat mengenai tuduhan zina.
Apabila saksi pria dan wanita berbeda pendapat, dan jumlah mereka sama. maka kecenderungannya adalah status gender kedua saksi yang akan menghasilkan keputusan akhir dan bukan fakta.
Saksi pria bisa menekan saksi wanita, atau saksi wanita memikat saksi pria, untuk sepakat.
Tapi ketika satu saksi pria diganti dua wanita, maka terjadi keseimbangan.
Apabila dua saksi wanita memiliki kesamaan pendapat, maka suara mereka akan lebih kuat dibandingkan suara satu pria.
Sedangkan apabila salah satu wanita berusaha memikat saksi pria, maka keberadaan saksi wanita lainnya akan menetralisir terjadinya hal ini.
Beda wanita dan laki-laki dalam pekerjaan
Kesamaan hak kewajiban muslim dan non muslim
Siapapun yang mengkaji hukum syariah konvensional pasti akan mendapatkan fakta adanya ketidakadilan yang nyata.
Ini utamanya terkait nilai nyawa non muslim yang tidak berharga dibandingkan nyawa muslim.
Jadi misalkan ada seorang muslim membunuh non muslim, maka muslim tersebut tidak bisa diqisas.
Untuk diketahui juga, aturan konvensional yang tidak adil terhadap non muslim ini tidak berasal dari rasulullah saw.
Jangankan dari alquran, hadits yang mendukung ini sebenarnya tidak ada.
Kalaupun kita memaksakan pemahaman ayat qisas 2:178 berkaitan dengan nilai nyawa manusia, tetap saja tidak ada pembedaan terhadap status muslim dan non muslim.
Bisa dikatakan, aturan ini cenderung lebih berasal dari kehendak mayoritas untuk menekan minoritas.
Untuk pesan ayat qisas melalui TIA, akan dibahas di lain waktu.
Dalam alquran, masyarakat non muslim utamanya adalah berasal dari masyarakat yang ditaklukkan.
Tapi dalam alquran, satu-satunya tambahan kewajiban untuk non muslim hanyalah berupa jizyah, yang sebenarnya lebih mirip dana partisipasi bersama.
Karena non muslim tidak membayar zakat, maka sebagai pengganti uang zakat untuk memenuhi kepentingan bersama, mereka dikenakan jizyah.
Makna kata jizyah dalam alquran tidak selalu paksaan, kadangkala bisa bermakna hadiah yang menguntungkan (37:80).
Inti dari ini adalah masyarakat mayoritas muslim tidak bisa menjadi masyarakat yang zalim dan egois, tetapi mayoritas yang mengayomi dan melindungi minoritas.
Ketidakpedulian terhadap hierarki keagamaan
Karakteristik lain dari TIA adalah perbedaan pandangan terhadap hierarki keagamaan.
Sangat berbeda dengan pemahaman konvensional dimana ulama memegang peranan sangat penting, membuat fatwa, menentukan mana yang benar dan salah, dosa atau tidak dosa dsb, situasi semacam ini tidak akan muncul dalam TIA.
Dalam TIA, profesi ulama bukanlah profesi pemegang kunci surga seperti yang selama ini dipahami. Dimana mereka adalah pewaris nabi, fatwanya mengikat, ucapannya harus diikuti dsb.
Ulama, dalam ekonomi sektor riil, yang salah satu asalnya dari pemahaman TIA, hanya sekedar profesi yang mengingatkan masyarakat untuk tujuan hidup mereka di dunia yaitu mengabdi kepada Allah SWT dan menjadi khalifah di dunia.
Jadi kalau diibaratkan, mereka ini seperti profesi psikiater atau dokter.
Tapi alih-alih mengobati mental atau menjaga kesehatan secara fisik, tugas utama ulama adalah menjaga moral dan perilaku masyarakat.
Ulama bertugas mengingatkan masyarakat agar selalu menjaga perilaku diri agar tidak membawa kerugian kepada orang lain dan masyarakat pada umumnya.
Dari sini, pada akhirnya diharapkan perilaku mayoritas anggota masyarakat tidak membawa keburukan kepada orang lain tapi membawa kebaikan.
Sebenarnya juga, selain tugas menjaga moral dan perilaku supaya tidak merugikan orang lain, tugas lainnya adalah mengingatkan manusia untuk selalu menjaga iman mereka.
Tapi dikarenakan masalah iman ini hubungannya langsung dengan Tuhan, maka tidak ada indikator yang layak sebagai penandanya.
Dari sini, tolok ukur kinerja para ulama adalah sesuatu yang jelas terukur, yaitu perilaku sosial masyarakat.
Apakah masyarakat suatu negara adalah masyarakat dengan perilaku sosial yang baik, saling membantu atau masyarakat egois yang sombong, terpecah belah penuh kecurigaan.
Tidak bisa dikatakan bahwa para ulama suatu negara sudah bekerja dengan baik apabila tanda kebaikan sosial mereka jelas hancur.
Para ulama ini tentu juga bisa menjadi pengajar ilmu agama, membantu perbaikan mental dari sisi penyerahan diri kepada Tuhan dsb.
Tapi intinya adalah pemosisian ulama seperti yang sering ada pada pemahaman konvensional, sebagai wakil Tuhan, penerjemah agama dsb, tidak ada lagi.
Penutup
Semua karakter islam alquran yang tergambar di artikel ini harus ada di benar pribadi setiap muslim, tidak terbatas untuk yang alquran, tapi juga bahkan yang konvensional
Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Anda merasa tulisan ini bermanfaat?
Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih
Leave a Reply