Versi alquran dan qiraat

Pengantar

Benarkah ada versi alquran? Kalau benar, apa saja perbedaannya? Apakah perbedaan ini menghasilkan makna yang berbeda? Apa itu qiraat? Artikel ini menjelaskan suatu hal yang tidak diketahui oleh banyak umat islam dan memberikan penenangan bagi mereka yang mau berpikir.

Sumber feature image

Basmallah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya

Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Pendahuluan

Satu fakta yang tidak diketahui kebanyakan muslim adalah bahwa alquran itu memiliki banyak versi.
Bukan versi seperti injil yang isinya berbeda, tapi versi dalam artian perbedaan jumlah ayat atau bunyi bacaan.
Meskipun begitu, hal ini tidak membawa perbedaan dalam pesan ayat alquran.

Kalau diibaratkan ini mirip dengan buku berupa tulisan dan audio.
Isinya tetap sama, tetapi berbeda cara penyampaian.
Perbedaan ini pun sebenarnya dibenarkan oleh sumber paling utama yaitu nabi muhammad saw sebagai penerima wahyu.

Umat Islam secara mayoritas biasanya tidak sadar mengenai perbedaan ini.
Ini karena perbedaan yang ada ini hanya akan dirasakan oleh segelintir umat islam dunia.
Jadi mayoritas umat islam hampir pasti tidak akan pernah merasakan perbedaan ini sama sekali, karena mereka selalu menggunakan versi alquran yang sama.

Geografi tempat tinggal umat islam yang “alqurannya berbeda” ini biasanya berada di afrika utara, seperti libya, maroko, aljazair dsb. Ada juga yang berada di afrika tengah dan sebagian kecil timur tengah.
Jadi muslim yang tidak tinggal di negara-negara itu, hampir pasti tidak akan pernah bertemu dengan versi alquran lainnya ini.

Apabila ada yang bertanya, versi mana yang paling benar? (Insya Allah) jawabannya adalah semua.
Meskipun versi mayoritas (hafs) memiliki kelebihan dalam utak atik matematika alquran, seperti perhitungan jumlah huruf di suatu ayat dsb.
Hanya versi hafs yang bisa menghasilkan kesetimbangan dan ketepatan matematis, bukan versi lainnya.

Untuk diketahui juga, pengetahuan terhadap keterjagaan alquran di sini tidaklah begitu diperlukan dalam TIA.
Seorang pengkaji alquran sebenarnya cukup menggunakan postulat keterjagaan alquran.
Dari sisi seorang muslim, ini juga bagian keimanan, sama seperti keimanan kepada hal-hal gaib.
Meskipun tentu saja adanya pengetahuan akan jauh lebih membawa kebaikan daripada ketiadaan ilmu.

Kegunaan pengetahuan mengenai keterjagaan alquran

Kegunaan utama jelas adalah seorang muslim yang memiliki pengetahuan ini tidak akan mudah dipengaruhi oleh propaganda anti islam.
Dengan memahami bahwa keterjagaan alquran bersifat obyektif, maka keimanan seseorang akan semakin kuat.
Hal ini juga semakin meneguhkan sifat keobyektifan dan kekonsistenan agama islam, suatu semangat dasar TIA.

Pada akhirnya, mengetahui hal ini juga akan membantu dalam menahan munculnya sikap kesombongan.
Dengan mengetahui dinamika tersebarnya umat islam, seorang muslim tidak akan bersikap sok benar, merasa ahli surga dsb.
Ini karena untuk hal-hal yang bisa dikatakan primer, yaitu keterjagaan alquran, ada perbedaan di kalangan umat islam yang mutlak harus ditoleransi dan diterima.
Dari sini, semangat yang sama, juga haruslah lebih diterima lagi untuk hal-hal yang sekunder.

Semua ini tentu saja selama tidak ada yang membawa keburukan, baik terhadap penyerahan diri kepada Allah atau kemanusiaan.
Pada akhirnya, kalau suatu paham membawa keburukan maka jelas mutlak harus ditolak.

qiraat
ahgomaaz / Pixabay

Sekilas mengenai perbedaan (versi) alquran

Perbedaan (versi) alquran utamanya terkait dengan dua hal.
Pertama adalah perbedaan jumlah ayat. Situasi ini terjadi akibat perbedaan tanda berhenti penanda ayat, yang berefek pada perbedaan jumlah ayat.
Kedua adalah perbedaan bacaan alquran, kata yang digunakan, dan kadangkala juga (sedikit) makna. Situasi ini terjadi akibat perbedaan dialek bahasa arab yang digunakan. Meskipun begitu, hal ini tidak akan mengakibatkan perbedaan makna atau pesan yang disampaikan oleh suatu ayat alquran.

Untuk diketahui, perbedaan ini tidak ada hubungannya dengan hadits mengenai tujuh arhuf.
Menurut catatan sejarah, khalifah utsman ra sudah membakar semua arhuf selain arhuf quraisi. Dari sini, hadits tujuh arhuf tidak memiliki kegunaan lagi, karena sejak masa utsman ra sudah tersisa satu saja.
Apa yang tersisa adalah metode perbacaan atau qiraat.

Jadi setelah utsman ra memusnahkan semua arhuf dan menyisakan satu saja, dirinya memberikan salinan alquran kepada umat islam di daerah berbeda. Tiap alquran itu dibaca secara berbeda oleh masing-masing masyarakat di tempat yang berbeda, akibat perbedaan dialek, logat dsb.

Jadi ini seperti orang yang menuliskan surat dalam bahasa inggris, dan kemudian memberikan surat tersebut kepada orang-orang yang berbahasa inggris, tapi di daerah berbeda, seperti amerika, kanada, inggris dsb. Di sini semua surat tersebut, meskipun memiliki isi sama, tapi bunyi/suara pembacaan akan berbeda.

Untuk diketahui, perbedaan ini sebenarnya diajarkan oleh rasulullah saw.
Ini karena ketika beliau mengajarkan islam kepada masyarakat yang berbeda kabilah/suku dengan dirinya, beliau menyesuaikan pembacaan alquran agar lebih sesuai dan mudah untuk lidah mereka.
Jadi perbedaan ini diakibatkan oleh syiar islam.

Kemunculan qiraat

Untuk diketahui, pada masa penulisan awal alquran, ayat alquran tidak memiliki tanda harakat, tanda titik dsb.
Masyarakat islam pada masa itu, sebagian besar arab, sudah bisa memasukkan semua tanda tersebut ke dalam huruf arab gundul.
Tapi lambat laun, islam berkembang dan tidak semua muslim baru adalah orang arab yang bisa membaca arab gundul tanpa harakat atau titik.
Dari sinilah dilaksanakan penulisan alquran dengan harakat, tanda titik dsb. Penulisan ini disebut qiraat.
Jadi qiraat bisa dianggap sebagai ilmu untuk membantu orang non arab dalam membaca tulisan alquran masa awal, dengan memberikan tanda harakat, tanda titik dsb.

Penulisan alquran dengan harakat (huruf vokal) dilakukan mengikuti kebiasaan masyarakat setempat. Karena alquran sebelumnya sudah dibaca secara berbeda, oleh masyarakat yang berbeda, maka dari sinilah muncullah berbagai macam qiraat.
Jadi qiraat ini seperti penulisan logat/dialek secara resmi. Semua qiraat yang dibuat adalah qiraat yang sudah disepakati dan ditelusuri memiliki riwayat pengajaran kepada nabi muhammad saw.
Jadi semua qiraat sebenarnya adalah alquran yang sama, yang sama-sama diajarkan rasulullah saw.

Jadi apabila ada perbedaan pada pembacaan alquran, atau alquran yang dianggap berbeda dsb, sebenarnya itu hanyalah perbedaan qiraat, yang tidak menghasilkan perbedaan pada pesan/makna alquran.

Contoh qiraat

Contoh paling gampang adalah kata Allah. Ada alquran dimana kata Allah itu vokal keduanya panjang (Allaah) dan ada juga yang pendek (Allah).
Biasanya kalau di indonesia yang dipakai adalah versi panjang, sedangkan versi pendek biasanya terbitan luar negeri. Keduanya sama saja maknanya dan merujuk pada Zat yang sama.

Memang kadangkala dalam bahasa arab, perbedaan panjang pendek suatu vokal bisa menghasilkan makna yang jauh berbeda, sebagai contoh kata “la” (pendek) dan “laa” (panjang). Tapi dalam situasi ini tidak demikian adanya.

Untuk contoh-contoh lain bisa anda lihat di video ini.

Apabila anda perhatikan, qiraat di sana, utamanya hanyalah perbedaan tanda harakat, dari yang “alaihim” menjadi “alaihum” dsb. Ini karena alquran utsmani tidak disebarkan dengan tanda harakat, masyarakat arab di daerah yang mengisi vokal (harakat) itu sesuai logat/dialek/kebiasaan mereka.

Beda qiraat dan ahruf
Apa Yang Dimaksud Dengan Ilmu Qiraat?

Sekilas perkembangan huruf arab

qiraat
Garis hitam adalah rasm, yang sudah ada sebelum masa islam. Titik merah (ijam, syakal) adalah penanda titik untuk membedakan huruf-huruf yang bentuknya mirip. Garis biru adalah harakat sebagai bunyi vokal

Gambar di atas adalah bentuk tulisan arab modern.

Bentuk tulisan arab ketika utsman menyebarkan salinan alquran, hanya berupa huruf-huruf konsonan yang berwarna hitam. Pada waktu itu belum ada tanda titik yang berwarna merah (ijam) dan juga tanda vokal (harakat) yang berwarna biru.
Para penutur arab sendiri yang harus mengisinya sesuai logat, kebiasaan mereka.
Dapat dilihat juga, tanpa ada ada tanda titik merah, sulit bagi yang tidak bisa berbahasa arab untuk membedakan apakah akhir ayat tersebut harus berakhiran “nun” atau “ba” atau “ta” dsb.

Baru setelah islam berkembang, muncullah tanda merah untuk membantu muslim non arab yang tidak bisa membedakan huruf-huruf arab tersebut dalam membaca alquran. Sekaligus tanda biru untuk mereka yang tidak bisa memberikan harakat sendiri (ilmu nahwu sharaf).
Jadi warna merah (ijam, syakal) dan biru (harakat) sebenarnya adalah perkembangan bahasa arab untuk mempermudah non arab dalam membaca tulisan alquran (arab). Pada masa sekarang juga, tulisan bahasa arab biasanya tidak memiliki tanda harakat (biru), tapi tanda ijam (merah) biasanya tetap dipakai.
Tanda harakat biasanya hanya dipakai untuk menulis alquran.

Perbedaan bacaan alquran seperti “alaihim” dan “alaihum” adalah perbedaan dalam mengisi warna biru.
Sedangkan perbedaan lainnya, huruf yang digunakan, terjadi dalam mengisi titik warna merah.
Meskipun begitu, perbedaan huruf ini tidak menimbulkan perbedaan dalam pesan alquran.

Versi alquran dalam jumlah ayat

Perbedaan paling jelas dalam qiraat adalah perbedaan jumlah ayat.

Untuk ini perlu dipahami bagaimana pembentukan ayat oleh para sahabat.
Kita ketahui bersama bahwa alquran diturunkan dalam bentuk suara yang didengar oleh rasulullah saw.
Ketika beliau menerima wahyu, beliau kemudian melafalkannya kepada para sahabat.
Setelah ini, barulah para sahabat menuliskan pelafalan itu ke dalam bentuk tulisan arab.

Penulisan sahabat mengenai alquran ini diberikan penanda ketika rasulullah saw berhenti sejenak dalam pelafalan alquran beliau. Penanda tersebut biasanya menandakan ayat, tapi tidak selalu.
Ini dikarenakan suatu waktu rasulullah saw berhenti cukup panjang, sehingga tidak ada keraguan bahwa itu adalah berhenti karena ayat. Tapi dalam waktu lain, beliau sering juga hanya berhenti sebentar, dan kadangkala juga tidak berhenti dst.
Dari sinilah, penulisan tanda berhenti tidaklah mutlak, yang menyebabkan penanda ayat sering tidak disepakati secara total.

Ketika utsman ra menyebarkan mushaf ke daerah umat islam, untuk diingat lagi, bentuk arabnya adalah gundul, yang sangat sederhana, yang tidak ada tanda titik dsb.
Meskipun ada tanda berhenti, tapi tanda berhenti ini tidaklah mutlak menandakan ayat, karena banyak juga yang hanya jeda pendek mengambil nafas dsb. Masyarakat suatu daerah yang kemudian membacanya dan menganggapnya berhenti panjang sebagai ayat, atau sekedar berhenti pendek mengambil nafas, berhenti panjang tapi bisa dilanjutkan dsb, sesuai kebiasaan mereka.
Dari sini terjadi pembedaan antara satu daerah dan daerah lain dalam kaitannya dengan pembacaan tanda berhenti di dalam alquran.

Ketika dilakukan pembentukan qiraat, permasalahan tanda berhenti ini diperbaiki secara menyeluruh.
Jeda waktu yang lama dianggap sebagai penanda akhir ayat. Tapi kadangkala untuk ayat yang sama, rasulullah kadangkala melafalkannya dengan penyambungan, ini sebabnya ada tanda dilarang berhenti (LamAlif) di akhir ayat, sebagai penanda meskipun akhir ayat dapat dibaca bersambung dsb.
Dari sinilah jumlah ayat untuk tiap qiraat menjadi berbeda.

Contoh versi tanda berhenti ayat

Contohnya adalah surat alfatihah.
Ada versi alquran (versi normal di indonesia) dimana alfatihah dimulai dari basmallah dan ayat ke-7 tergolong panjang.
Tapi ada juga versi alquran lain (diberi nama versi asing) dimana alfatihah dimulai dari alhamdulillah dan ayat ke-7 (versi normal) terbagi dua, dimana ayat ke-6 diakhiri “alaihim”, dan ayat ke-7 dimulai dari kata “ghairi”.
Jadi perbedaan diantara dua versi tersebut sebenarnya hanyalah perbedaan tanda berhenti yang dianggap sebagai ayat saja. Tapi secara keseluruhan tidak ada alquran dimana misalkan ayat ke-7 surat al-fatihah nyasar misalkan ke surat al-baqarah.

Jadi isi alquran, huruf-hurufnya secara berurutan, semua isinya cenderung selalu sama (lagi-lagi ada perbedaan qiraat yang menyebabkan perbedaan huruf, bukan hanya harakat).
Kalau ada perbedaan, maka itu terletak pada tempat berhenti penanda ayat, yang menyebabkan beberapa surat di alquran versi A memiliki perbedaan ayat daripada alquran versi B dsb.
Ini sebabnya ada banyak versi jumlah ayat alquran, ada yang bilang 6236, 6214, 6616 dsb.
Tapi apabila isi dari semua alquran itu diperbandingkan, maka isinya selalu cenderung sama, secara urutan kata, dari al-fatihah sampai an-naas.

versi alquran
TayebMEZAHDIA / Pixabay

Versi alquran dalam bunyi bacaan

Selain perbedaan harakat dan tanda berhenti, yang menyebabkan perbedaan jumlah ayat, perbedaan lain adalah perbedaan huruf yang dipakai, yang berarti adalah perbedaan makna kata.
Jadi sebenarnya memang benar kalau dikatakan ada versi alquran dalam artian ada sebagian kata yang dipakai berbeda.
Tapi meskipun begitu semua alquran tersebut selalu memiliki makna/pesan yang sama.

Di sini kita akan menggunakan contoh alquran hafs (umum dipakai di dunia) dan warsh (biasanya di afrika utara).

Contoh ayat 2:85

Salah satu perbedaan alquran hafs dan warsh adalah perbedaan di akhir ayat 2:85.

Kemudian kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya. kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu/mereka perbuat.

QS 2:85

Perhatikan kata yang dicetak tebal kamu dan meraka. Alquran hafs menggunakan redaksi “kamu perbuat” (ta’maluun), dan warsh menggunakan redaksi “mereka perbuat” (ya’maluun).
Bagi orang yang tidak mengerti, atau memang berusaha mendiskreditkan alquran, maka perbedaan ini jelas adalah perbedaan besar.
Tapi apabila dikaji secara mendalam, sebenarnya tidaklah demikian situasinya.

Ini karena kedua jenis kata itu, kata “kamu” atau “mereka”, semua tetap merujuk pada pihak yang sama yaitu bani israil.
Pada versi hafs, seperti tidak ada jeda dengan kalimat sebelumnya. Jadi seorang pembaca alquran akan bisa menyimpulkan bahwa “kamu” merujuk sama dengan “kamu” di bagian depan ayat, yaitu bani israil.
Tapi pada versi warsh, kalimat ini seperti terpisah, dan terjeda, dan alquran seperti menutup ayat dengan berbicara kepada pembacanya. Akibatnya, di sini alquran tidak menggunakan redaksi “kamu”, tetapi “mereka” untuk tetap merujuk kepada bani israil.

Pada kedua versi tersebut, hafs atau warsh, semuanya memiliki makna dan pesan sama, yaitu Allah SWT tidak lengah terhadap apa yang bani israil (kamu/mereka) perbuat.
Jadi memang harus diakui, ini adalah kata yang berbeda, tetapi merujuk pada suatu hal yang sama, dan pada akhirnya pesan ayat yang juga sama.

Asal muasal perbedaan ini

Seperti sudah dijelaskan, ketika mushaf utsman ra disebarkan, tulisan arab masih berupa tulisan arab gundul, yang tidak memiliki tanda titik dsb.
Dari sini, sebenarnya pada waktu itu, tidak ada mekanisme sama sekali untuk membedakan huruf-huruf arab yang memiliki bentuk depan atau tengah atau belakang sama. Contoh huruf semacam ini adalah huruf “ya” (dua titik dibawah), “ta” (dua titik di atas), “ba” (satu titik di bawah), “nun” (satu titik di atas), tsa (tiga titik di atas).
Semua huruf tersebut tidak bisa dibedakan, dan hanya kebiasaan serta pengetahuan orang arab terhadap bahasa arab yang membuat mereka bisa membedakannya.

Tapi kebiasaan serta pengetahuan ini juga terpengaruh dari logat, dialek dsb.
Dari sinilah, tidak semua masyarakat akan membaca suatu bentuk depan sebagai “ya”, sebagian lain akan membacanya sebagai “ta”. Inilah sebabnya bisa muncul perbedaan “ya’maluun” dan “ta’maluun.

Tidak ada perbedaan lain lagi

Selain dari semua perbedaan di atas, perbedaan harakat, perbedaan terhadap jumlah ayat, dan perbedaan terhadap huruf-huruf yang bentuknya sama (yang ada tanda titiknya), yang semuanya diakibatkan qiraat, tidak ada lagi perbedaan di antara semua alquran yang beredar di dunia.
Jadi kalau ada yang mengklaim ada perbedaan dalam bentuk partikel seperti “dan (wawu)” yang hilang, atau ada kata yang hilang, atau ayat yang hilang, maka hal itu tidak usah dipedulikan.

Semua bukti terhadap perbedaan semacam itu tidak ada yang bersifat obyektif, dan hanya klaim sepihak dari mereka yang tidak ingin mengakui kesempurnaan alquran.

versi alquran
freebiespic / Pixabay

Manfaatnya bagi TIA

Perbedaan dalam “versi” alquran ini bagi kelompok konvensional jelas tidak akan terasa membawa manfaat.
Paling jauh adalah paksaan untuk menumbuhkan sikap bertoleransi sesama umat islam.
Tapi bagi pengkaji alquran dengan TIA, perbedaan ini memiliki manfaat yang sangat besar.

Dari adanya versi alquran ini, tapi semuanya selalu berpijak pada aturan bahwa alquran terjaga dan selalu benar, maka ini memberikan pengkaji alquran dengan TIA tambahan data untuk memahami suatu ayat dengan lebih baik lagi.

Sebagai contoh adalah di ayat 2:85 tadi.
Pengkaji alquran, anggap saja menggunakan versi hafs, juga tidak bisa berbahasa arab, bisa saja memaknai kata “kamu” bukan merujuk kepada bani israil, tetapi pembaca alquran.
Tentu saja ini utamanya terjadi karena ketidaktelitian, karena kalau menggunakan aturan kuanta, maka makna kata “kamu” bisa merujuk pada bani israil atau pembaca alquran.
Dari sini haruslah dilakukan analisa dengan lebih mendalam lagi, dan hampir bisa dipastikan jawabannya adalah bani israil karena penggunaan tanda berhenti (ilmu tajwid), dimana yang status berhenti di situ kurang dianjurkan.
Tapi apabila dikaji juga dengan versi warsh, seorang pengkaji alquran tidak perlu memikirkan kembali apakah kata “kamu” merujuk kepada pembaca alquran atau bani israil, ini karena jawabannya sangatlah jelas yaitu bani israil.

Dari sini, versi alquran yang berbeda justru membantu dalam memahami alquran dengan lebih baik, mencegah terjadinya kesalahan pemahaman atau penafsiran.

Mengenal Tafsir Ilmiah Alquran

Penutup

Meskipun tidak semua alquran yang beredar di dunia sama persis, situasi ini bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Ini karena semuanya selalu memiliki kesamaan terhadap makna/pesan yang disampaikan.
Hal ini juga seharusnya memberikan pelajaran kepada umat islam untuk harus selalu bertoleransi terhadap kegiatan keagamaan yang berbeda.

Pada akhirnya, fungsi utama alquran bukanlah sekedar bahan bacaan belaka. Tetapi sebagai pedoman, petunjuk yang lengkap dan terperinci untuk umat islam.

Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,

QS 11:1

Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Anda merasa tulisan ini bermanfaat?

Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih


Bacaan lain

Daftar perbedaan qiraat harf dan warsh


Posted

in

,

by

Comments

One response to “Versi alquran dan qiraat”

  1. Irma Avatar
    Irma

    MasyaAllah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *