Hukum Dasar Tafsir Ilmiah Alquran

Pengantar

Apa maksud dari hukum dasar Tafsir Ilmiah Alquran (TIA)? Mengapa disebut sebagai hukum? Mengapa ada postulat dalam tafsir ilmiah alquran? Artikel ini adalah pendahuluan bagi siapapun untuk mengenal aturan pemahaman alquran yang bersifat logis dan konsisten, tafsir ilmiah alquran.

Artikel ini adalah tulisan 1 dari 5. Anda bisa membaca artikel lainnya 2 / 3 / 4 / 5
Sumber feature image

Basmallah

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Alhamdulillaahi Rabbil Aalamiin, yang berkat karuniaNya kita memiliki kesehatan dan kesempatan untuk sama-sama belajar
Shalawat dan salam juga selalu kita limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan semoga hal yang sama juga terlimpah untuk keluarganya, sahabatnya dan kita semua sebagai pengikutnya

Assalaamu alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Pendahuluan hukum dasar Tafsir Ilmiah Alquran

Tafsir ilmiah alquran (TIA) dibangun dari sekumpulan hukum dasar penafsiran. Semuanya diturunkan berdasarkan logika dan hukum alam. Hukum dasar ini adalah pedoman utama untuk mengkaji alquran, yang harus selalu diikuti.

Pengkaji alquran lain bisa saja membuat hukum dasar lain, apabila merasa hukum dasar TIA salah atau tidak akurat. Tidak ada paksaan atau kepastian kebenaran di sini. Semua hanyalah upaya untuk menemukan kebenaran.

Mungkin akan ada yang bertanya, mengapa ada hukum dasar TIA? Jawabannya adalah ini meniru apa yang terjadi di dalam ilmu pasti.

Dalam ilmu pasti, ilmuwan memiliki seperangkat alat bantu yang menjelaskan bagaimana alam semesta bekerja secara logis dan konsisten.
Alat bantu tersebut awalnya bermula dari hipotesa, lalu menjadi teori, dan apabila sudah terbukti benar dalam rentang waktu yang sangat lama, alat bantu tersebut kemudian diangkat sebagai hukum.
Contoh alat bantu dalam ilmu pasti ini seperti hukum newton, hukum archimedes dsb.

Alam semesta selalu bekerja dengan mengikuti hukum-hukum tersebut secara konsisten.
Tidak ada ceritanya hukum newton bekerja dengan baik di bumi, tapi di bulan tidak bekerja sama sekali.
Semua hukum tersebut selalu bekerja secara konsisten di seluruh alam semesta.
Hukum-hukum ini tentu saja ditetapkan oleh Allah SWT, tapi karena yang membuka tabirnya adalah manusia, maka diberi nama seperti manusia penyibaknya, dalam hal ini seperti hukum newton.

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

QS 36:40

Tanpa adanya perangkat hukum alam ini, tidak akan ada perkembangan ilmu pengetahuan.
Keberadaan hukum-hukum inilah yang membantu ilmuwan memahami cara kerja alam dengan baik. Situasi yang pada akhirnya membantu manusia dalam menundukkan alam.
Dari sini manusia kemudian bisa menghasilkan berbagai macam penemuan penting yang membawa kesejahteraan bagi umat manusia secara keseluruhan.

hukum dasar tafsir ilmiah alquran
Image by WikiImages from Pixabay

Apakah hukum dasar tafsir ilmiah alquran ini benar-benar eksis?

Karena Tuhan pencipta alam semesta adalah sama dengan Tuhan yang menciptakan alquran, maka secara logika, seharusnya cara kita memahami alam semesta juga dapat diaplikasikan untuk cara kita memahami alquran.

Ini berarti, sama dengan hukum-hukum alam, pasti ada seperangkat aturan dasar yang selalu konsisten berlaku dan bekerja di keseluruhan alquran.
Dengan mengetahui aturan-aturan tersebut, maka kita akan dapat memahami isi alquran dengan lebih baik dan tepat.
Aturan-aturan dasar inilah yang akhirnya disebut sebagai hukum dasar TIA.

Memang bisa saja hipotesa ini salah, dan aturan dasar penafsiran alquran yang logis dan konsisten sebenarnya tidak ada sama sekali. Dan bahwa sebenarnya alquran itu tidak logis, tidak ilmiah dsb.

Tapi faktanya, aturan dalam agama islam masa kini, tidak selalu logis dan konsisten.
Faktanya aturan agama juga seringkali tidak membawa kebaikan tapi malah keburukan, dan status keburukan ini tidaklah subyektif, melainkan obyektif.
Semua ini jelas bertentangan dengan sifat dan tujuan Allah SWT dalam menurunkan agama.

Kalau kita memiliki nurani dan akal sehat, jelas lebih baik berusaha mencari suatu kebenaran daripada menerima sesuatu yang jelas bukan kebenaran.

Mengapa disebut hukum?

Aturan penafsiran alquran ini diturunkan dari hipotesa, sama seperti hukum alam yang diawali dari hipotesa dan teori.
Tapi berbeda dengan hukum alam dimana pembuktiannya adalah melalui eksperimen dan perhitungan matematika, di sini pembuktiannya dilakukan dengan melihat hasil penerapan aturan penafsiran alquran itu.
Apakah aturan penafsiran tersebut bisa konsisten menghasilkan penafsiran yang logis, konsisten, dan membawa maslahat?

Prinsip dasarnya adalah Tuhan tidak akan membuat aturan agama yang tidak logis dan tidak membawa kebaikan.
Apabila jawabannya adalah ya, maka insya Allah aturan dasar penafsiran alquran tersebut benar.
Apabila hasil penafsiran alquran dengan aturan dasar tersebut selalu konsisten menghasilkan kesesuaian dengan logika, bersifat obyektif dan membawa maslahat, maka aturan dasar tersebut bisa dianggap sebagai hukum.

Penggunaan kata hukum dasar TIA di sini memang bersifat sangat subyektif. Faktanya, aturan dasar penafsiran alquran ini belum diperiksa, digunakan atau disepakati oleh pengkaji alquran lainnya.
Tapi pada akhirnya, TIA ini hasil pemikiran pribadi, dan bukan orang lain. Jadi terserah kepada pembuatnya untuk menamakan aturan dasar penafsirannya dengan nama apapun.

hukum dasar Tafsir Ilmiah Alquran
Patung Al-Khwārizmī di Khiva, Uzbekistan

Postulat Tafsir Ilmiah Alquran

Dalam ilmu pengetahuan dikenal istilah postulat. Postulat adalah suatu pernyataan yang dianggap benar tanpa perlu dibuktikan sama sekali terlebih dahulu. Istilahnya dalam dunia agama adalah keimanan, pokoknya percaya saja.
TIA juga menggunakan postulat, meskipun sebenarnya cuma untuk penegasan.

Postulat berbeda dengan hukum dasar TIA. Hukum dasar TIA adalah aturan yang harus selalu diikuti ketika menafsirkan/mengkaji alquran. Sedangkan postulat adalah semangat yang mendasarinya.

Ada tiga Postulat dalam TIA, semuanya berkaitan dengan alquran.
Mereka adalah alquran itu terjaga, alquran selalu benar dan konsisten, dan alquran sudah sempurna

Alquran itu terjaga

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS 15:9)

Postulat pertama TIA adalah alquran selalu terjaga dan asli, tidak mengalami perubahan sama sekali.

Sebenarnya juga ini bersifat logis karena banyak bukti obyektif yang mendukungnya.
Tapi bantahan dan serangan terhadap keterjagaan alquran ini terlalu sering terjadi dan diulang-ulang.
Dan ini bukan hanya berasal dari luar islam, tapi juga pemuja hadits yang memaksakan bahwa alquran terjaga melalui hadits.

Daripada menghabiskan banyak waktu untuk meladeni perdebatan yang diulang-ulang, jauh lebih baik waktu dan tenaga tersebut digunakan untuk mengkaji dan memahami alquran atau kegiatan lain yang lebih bermanfaat.
Dari sinilah, digunakan postulat, ini bagian dari keimanan.

Pada akhirnya, fokus utama TIA adalah pengkajian alquran.
Bantahan terhadap TIA (apabila ada), diharapkan adalah bantahan yang bersifat logis dan ilmiah dengan menggunakan alquran itu sendiri, dan bukan bantahan terhadap prinsip keterjagaan alquran, apalagi bantahan yang berdasarkan prinsip pokoknya.

Dari sini, apabila ada yang berusaha membantah TIA dari sisi keterjagaan alquran, cukup dijawab dengan itu adalah bagian dari postulat.
Lebih jauh, pengetahuan mengenai keterjagaan alquran ini tidak diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan TIA.

Versi alquran dan qiraat
Examples verses quran with different meanings

Alquran selalu benar dan selalu konsisten

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS 4:82)

Postulat kedua adalah alquran selalu benar dan konsisten.
Berbeda dengan postulat pertama yang bersifat obyektif dan logis, postulat kedua ini sepenuhnya berupa keimanan, meskipun dengan alasan yang juga logis.

Apabila alquran memang benar selalu terjaga selama ribuan tahun, maka ini hanya mungkin eksis akibat kuasa di luar kemampuan manusia, yang berarti Tuhan.
Sesuatu yang berasal dari Tuhan jelas dapat diasumsikan selalu benar.

Fungsi postulat kedua ini sebenarnya juga sama, yaitu hanya sebagai penegasan.
Jadi dalam pengkajian alquran menggunakan TIA, salah satu situasi yang pasti akan selalu muncul adalah timbulnya inkonsistensi logika manusia dalam tafsir yang dibuat.
Dalam keadaan ini, prinsipnya adalah selalu kembali kepada postulat, yaitu alquran selalu benar.

Kesalahan dan inkonsistensi terjadi bukan karena kesalahan alquran, tetapi akibat kesalahan tafsir atau hipotesa. Dari sini, seorang pengkaji alquran harus mencari tafsir atau hipotesa ulang yang pada akhirnya bisa selalu menghasilkan konsistensi total dan juga bersifat logis.

Alquran sudah sempurna

hukum dasar Tafsir Ilmiah Alquran
Alif Laam Raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, (QS 11:1)

Postulat ketiga adalah alquran sudah sempurna, dan tidak ada kekurangan di dalamnya sama sekali. Alquran sudah jelas, alquran sudah terperinci dan detil.

Jadi segala sesuatu yang memang perlu diatur, maka hal itu pasti sudah diatur dan dijelaskan oleh alquran.
Kalau alquran tidak mengatur sesuatu, maka berarti pengaturannya diserahkan kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Terserah kepada manusia untuk membuat pengaturan tersebut untuk diri mereka sesuai akal sehat mereka.

postulat
Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.(QS 2:30)

Postulat ini secara terang dan tegas merupakan penegasian terhadap penggunaan apapun selain alquran untuk memahami alquran. Hanya dua yang diperbolehkan yaitu alquran itu sendiri dan akal manusia.
Jadi tidak boleh digunakan sumber data lain di luar alquran, apakah itu hadits, israiliyat, riwayat sahabat dsb.

Alquran sebagai sumber data

Kalau diibaratkan, kegiatan pengkajian alquran ini seperti suatu bentuk pengambilan kesimpulan dari sekumpulan data.
Pengambilan kesimpulan adalah hasil tafsir, dan sekumpulan data adalah ayat-ayat alquran.

Jadi seperti alquran itu terjaga, maka ini berarti data yang tersedia adalah data yang akurat, tidak ada kesalahan sama sekali di dalamnya.
Tidak ada kesalahan ketik, kesalahan hitung dsb.

Sedangkan makna alquran itu selalu benar dan konsisten, maka ini berarti data yang ada itu semuanya benar, sesuai dengan apa yang tertera.
Jadi tidak ada kesalahan dalam pengambilan data, seperti bias, pengambil data yang asal-asalan mengisi, alat rusak dsb.

Sedangkan makna alquran itu sudah sempurna, maka ini berarti kumpulan data yang ada itu sudah pas, tidak ada tambahan atau pengurangan lain.
Semua data yang ada harus digunakan untuk tujuan pengambilan kesimpulan.

Ini bukan berarti sumber data lain itu dilarang.
Tapi semua sumber data selain alquran hanyalah sumber data sekunder untuk memperkuat kesimpulan, bukan membuat kesimpulan.
Jadi sumber sekunder tidak boleh diposisikan sebagai bagian data, apalagi menyingkirkan data utama.

Hanya setelah terbentuk suatu kesimpulan yang konsisten dengan seluruh ayat alquran dan aturan-aturan TIA, barulah bisa digunakan sumber data sekunder sebagai pemanisnya.
Apabila diibaratkan seperti penelitian statistik di suatu daerah, maka data utama adalah data statistik di daerah itu, sedangkan data sekunder adalah hasil kesimpulan statistik di tempat lain yang jauh dan tidak memiliki hubungan sama sekali.
Jadi data sekunder bukanlah bagian dari data, cuma sekedar alat untuk lebih menguatkan hasil kesimpulan.

Bersambung ke Aturan kuanta

Wallaahu a’lam bish-shawaab
dan Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui
Wassalaamu alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Anda merasa tulisan ini bermanfaat?

Tolong bantu kami dan orang lain dengan menyebarkannya
Terima kasih



Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *